Budaya  

Puisi Gusjur Mahesa

Belajar dari Gunung

Bertahun-tahun memandang gunung

berdiri kuat kokoh menjulang muncung

aku berguru pada gunung

merenung bergunung-gunung

Kudaki

kupanjat

kumasuki

dan dalam perut gunung

aku bertapa

tujuh abad lamanya

Wahai gunung

apakah ini zaman kolobendu

dulu buruk kini jadi baik

dulu salah kini jadi benar

dulu penjahat kini jadi dipuja

apakah ada yang kliru

Oh, gunung

padahal kini zaman demokrasi

rakyat yang berkuasa

menentukan

menentukan pemimpinnya

menentukan RT RW-nya

menentukan bupatinya

menentukan gubernurnya

menentukan presidennya

menentukan

mana yang baik

mana yang buruk

mana yang laik

mana yang busuk

Oh, gunung

apa yang terjadi

rakyat memilih

para pejuang serangan fajar

rakyat menerima

amplop putih godaan

Wahai gunung

dewan yang terpilih itu

anak cucu partai

yang dulunya mengharu biru negara

kini menguasai dewan

nyaris 99 persen

Wahai gunung

sejak reformasi pikiran

pejabat justru makin korupsi

pejabat tersenyum ditangkap KPK

melambai

seolah-olah meledek dan berkata

“dulu kau terima angpao serangan fajar

maka aku bermalam di hotel prodeo kini”

Wahai gunung

pejabat yang terpilih itu

dulunya penculik aktipis

kenapa terpilih dalam pemilu?

Wahai gunung

pejabat yang terpilih itu

dulunya adalah aktipis

kini bertindak sama

dengan dulu yang didemonya

Wahai gunung

pejabat terpilih itu

mengangkat sanak sodara

dan sahabatnya jadi lingkarannya

Wahai gunung

pejabat yang terpilih itu

merubah aturan dulu

demi untuk anaknya

demi untuk keluarganya

demi untuk koleganya

demi untuk golongannya

tuk melenggang ke depan panggung

Wahai gunung

pejabat yang terpilih itu

mengangkat terpidana

yang ditetapkan oleh MPR

kini diangkat jadi pahlawan

Wahai gunung

ini zaman kolobendu

aku galau

galau galau

galau galau galau

galau segalau-galau

Pada jam 12 malam

saat aliran sungai berhenti

saat angin gunung terdiam

terdengar bisikan lirih

“mikul duwur mendem jero”

itu ajaran leluhur

mungkin mereka mengamalkannya

ingat, ada sepasang binatang suci

dalam politik hutan belantara ini

namanya keadilan dan kesejahteraan

untuk menemukan binatang suci itu

tiada lain jalan perdamaian dan persatuan

Belajarlah pada prasasti lingga yoni

hidup itu berpasang-pasangan

dunia itu bergandengan

antara min dan plus

antara baik dan buruk

antara kiri dan kanan

antara elektron dan proton

semua sama dalam jiwa

Barang siapa bisa mempertemukan

liga yoni dalam piring jiwa

itulah harmoni sesungguhnya

Dan saat mata terbuka

kulihat

gunung itu adalah rendra

kokoh dan bijaksana

Bandung, 13.11.2025

Kata Lain Tuhan

Tuhan hanya eka

kata lain tuhan bineka

Alam kata lain tuhan

seperti perut-perut lapar

tuhan ada di alam perut-perut lapar

Alam kata lain tuhan

seperti mantra-mantra menyebut nama tuhan

tuhan adalah alam sak wasangka pikiran

Alam kata lain tuhan

siapa yang merusak alam

merusak pula tuhan dalam alam di dirinya

pikiran-pikiran jadi kotor dan keruh

nafsu-nafsu jadi besar dan keluh

angkara dan murka jadi penuh

tubuh dan jiwa jadi rapuh

melepuh

lepuh

puh

uh

Bandung, 04.07.21

Godaan? Ah, Biasa Saja

Pencabulan di pesantren

pelecehan di boarding school

pemerkosaan di rumah tahfiz

ah biasa saja

Pesantren juga manusia pengelolanya

boarding school juga manusia penghuninya

rumah tahfiz juga manusia pengurusnya

ah biasa saja

Pencabulan di lembaga kepastoran

pelecehan di lembaga kependetaan

pemerkosaan di lembaga kebiksuan

ah biasa saja

Kepastoran juga manusia penghuninya

kependetaan juga manusia pengurusnya

kebiksuan juga manusia pengelolanya

ah biasa saja

Seperti kafe juga manusia pengurusnya

seperti restoran juga manusia pengelolanya

seperti diskotik juga manusia penghuninya

seperti lokalisasi juga manusia pelanggannya

ah biasa saja

Selama bernama manusia

semua dapat jatah dan godaan yang sama

harta, tahta, seksualita

ah biasa saja

Semua biasa saja

sejak dulu-dulu

sejak adam ada

semua seperti itu

tiada tempat suci di dunia ini

kecuali adanya di hati

Bandung, 9.7.22

Gusjur Mahesa

Gusjur Mahesa, alias Agus Priyanto, S.Pd., M.Sn., bergelut di keaktoran dan penyutradaan teater di Unit Teater Mahasiswa (UTM) IKIP Bandung, 1986-1993, kini Teater Lakon UPI. Lalu nyantrik di Bengkel Teater Rendra, 1993-2001. Lanjut ke Studio Hanafi Depok, 2001-2002. Kembali ke Bandung mendirikan Teater Tarian Mahesa (TTM). Mengajar di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi (Kini IKIP Siliwangi) Cimahi, sejak 2010. Antologi puisi yang telah terbit; Mending Gelo Daripada Korupsi (cetakan pertama 2016, cetakan ke-9 tahun 2019) dan Mending Edan Daripada Kebagian Korupsi (2020), serta beberapa antologi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *