Belajar dari Gunung
Bertahun-tahun memandang gunung
berdiri kuat kokoh menjulang muncung
aku berguru pada gunung
merenung bergunung-gunung
Kudaki
kupanjat
kumasuki
dan dalam perut gunung
aku bertapa
tujuh abad lamanya
Wahai gunung
apakah ini zaman kolobendu
dulu buruk kini jadi baik
dulu salah kini jadi benar
dulu penjahat kini jadi dipuja
apakah ada yang kliru
Oh, gunung
padahal kini zaman demokrasi
rakyat yang berkuasa
menentukan
menentukan pemimpinnya
menentukan RT RW-nya
menentukan bupatinya
menentukan gubernurnya
menentukan presidennya
menentukan
mana yang baik
mana yang buruk
mana yang laik
mana yang busuk
Oh, gunung
apa yang terjadi
rakyat memilih
para pejuang serangan fajar
rakyat menerima
amplop putih godaan
Wahai gunung
dewan yang terpilih itu
anak cucu partai
yang dulunya mengharu biru negara
kini menguasai dewan
nyaris 99 persen
Wahai gunung
sejak reformasi pikiran
pejabat justru makin korupsi
pejabat tersenyum ditangkap KPK
melambai
seolah-olah meledek dan berkata
“dulu kau terima angpao serangan fajar
maka aku bermalam di hotel prodeo kini”
Wahai gunung
pejabat yang terpilih itu
dulunya penculik aktipis
kenapa terpilih dalam pemilu?
Wahai gunung
pejabat yang terpilih itu
dulunya adalah aktipis
kini bertindak sama
dengan dulu yang didemonya
Wahai gunung
pejabat terpilih itu
mengangkat sanak sodara
dan sahabatnya jadi lingkarannya
Wahai gunung
pejabat yang terpilih itu
merubah aturan dulu
demi untuk anaknya
demi untuk keluarganya
demi untuk koleganya
demi untuk golongannya
tuk melenggang ke depan panggung
Wahai gunung
pejabat yang terpilih itu
mengangkat terpidana
yang ditetapkan oleh MPR
kini diangkat jadi pahlawan
Wahai gunung
ini zaman kolobendu
aku galau
galau galau
galau galau galau
galau segalau-galau
Pada jam 12 malam
saat aliran sungai berhenti
saat angin gunung terdiam
terdengar bisikan lirih
“mikul duwur mendem jero”
itu ajaran leluhur
mungkin mereka mengamalkannya
ingat, ada sepasang binatang suci
dalam politik hutan belantara ini
namanya keadilan dan kesejahteraan
untuk menemukan binatang suci itu
tiada lain jalan perdamaian dan persatuan
Belajarlah pada prasasti lingga yoni
hidup itu berpasang-pasangan
dunia itu bergandengan
antara min dan plus
antara baik dan buruk
antara kiri dan kanan
antara elektron dan proton
semua sama dalam jiwa
Barang siapa bisa mempertemukan
liga yoni dalam piring jiwa
itulah harmoni sesungguhnya
Dan saat mata terbuka
kulihat
gunung itu adalah rendra
kokoh dan bijaksana
Bandung, 13.11.2025
Kata Lain Tuhan
Tuhan hanya eka
kata lain tuhan bineka
Alam kata lain tuhan
seperti perut-perut lapar
tuhan ada di alam perut-perut lapar
Alam kata lain tuhan
seperti mantra-mantra menyebut nama tuhan
tuhan adalah alam sak wasangka pikiran
Alam kata lain tuhan
siapa yang merusak alam
merusak pula tuhan dalam alam di dirinya
pikiran-pikiran jadi kotor dan keruh
nafsu-nafsu jadi besar dan keluh
angkara dan murka jadi penuh
tubuh dan jiwa jadi rapuh
melepuh
lepuh
puh
uh
Bandung, 04.07.21
Godaan? Ah, Biasa Saja
Pencabulan di pesantren
pelecehan di boarding school
pemerkosaan di rumah tahfiz
ah biasa saja
Pesantren juga manusia pengelolanya
boarding school juga manusia penghuninya
rumah tahfiz juga manusia pengurusnya
ah biasa saja
Pencabulan di lembaga kepastoran
pelecehan di lembaga kependetaan
pemerkosaan di lembaga kebiksuan
ah biasa saja
Kepastoran juga manusia penghuninya
kependetaan juga manusia pengurusnya
kebiksuan juga manusia pengelolanya
ah biasa saja
Seperti kafe juga manusia pengurusnya
seperti restoran juga manusia pengelolanya
seperti diskotik juga manusia penghuninya
seperti lokalisasi juga manusia pelanggannya
ah biasa saja
Selama bernama manusia
semua dapat jatah dan godaan yang sama
harta, tahta, seksualita
ah biasa saja
Semua biasa saja
sejak dulu-dulu
sejak adam ada
semua seperti itu
tiada tempat suci di dunia ini
kecuali adanya di hati
Bandung, 9.7.22
Gusjur Mahesa
Gusjur Mahesa, alias Agus Priyanto, S.Pd., M.Sn., bergelut di keaktoran dan penyutradaan teater di Unit Teater Mahasiswa (UTM) IKIP Bandung, 1986-1993, kini Teater Lakon UPI. Lalu nyantrik di Bengkel Teater Rendra, 1993-2001. Lanjut ke Studio Hanafi Depok, 2001-2002. Kembali ke Bandung mendirikan Teater Tarian Mahesa (TTM). Mengajar di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi (Kini IKIP Siliwangi) Cimahi, sejak 2010. Antologi puisi yang telah terbit; Mending Gelo Daripada Korupsi (cetakan pertama 2016, cetakan ke-9 tahun 2019) dan Mending Edan Daripada Kebagian Korupsi (2020), serta beberapa antologi bersama.
