Tradisi Ruwahan Gede di Kampung Ceger, Tangerang Selatan
Di tengah suasana menjelang bulan suci Ramadan, ribuan warga Kampung Ceger, Jurang Mangu Timur, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, hadir dalam tradisi Ruwahan Gede. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mendoakan para almarhum sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Tradisi Ruwahan memiliki makna yang dalam dan menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini. Dalam pelaksanaannya, warga menggelar doa bersama, tahlilan, serta sedekah makanan sebagai simbol pembersihan diri dan penguatan ikatan sosial. Setelah doa bersama, warga menyantap makanan secara bersama-sama sebagai simbol persatuan dan kekompakan.
Laporan menunjukkan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh ribuan warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Mereka duduk berbaris rapi di sepanjang jalan sekitar satu kilometer. Setiap warga membawa bekal makanan dari rumah masing-masing sambil menunggu doa bersama dimulai. Aroma berbagai jenis makanan tercium nikmat dan menambah hangat suasana kebersamaan.
Selain berkumpul, warga juga membaca khatam Al-Qur’an, Yasin, dan tahlil untuk sekitar 3.300 arwah yang tercatat di kampung tersebut. Usai doa dan pembacaan ayat suci, warga langsung menyantap hidangan secara bersama-sama. Bagi warga, momen ini bukan hanya soal makan, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kekompakan antarwarga.
Ketua pelaksana kegiatan, Anton, mengatakan bahwa Ruwahan Gede yang digelar tahun ini merupakan pelaksanaan yang kelima. “Ini kegiatan rutin setiap satu tahun sekali menjelang Ramadan, dan ini adalah yang kelima kalinya,” ujarnya usai kegiatan. Ia menyebutkan jumlah warga yang hadir mencapai lebih dari 2.000 orang, semuanya berasal dari Kampung Ceger, Jurang Mangu Timur, dan Barat.
Anton berharap kegiatan tersebut dapat terus meningkatkan persatuan, kebersamaan, dan kekompakan warga. “Mudah-mudahan ini bisa terus menambah persatuan, kesatuan, kebersamaan, dan kekompakan warga, khususnya di Kampung Ceger ini,” harapnya.
Sejarah Tradisi Ruwahan
Dosen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS Surakarta), Tundjung Wahadi Sutirto menjelaskan bahwa tradisi Ruwahan mulai berkembang pesat sejak era Mataram Islam sekitar abad ke-16. Tradisi ini muncul saat Sultan Agung memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah, di mana bulan Ruwah (Sya’ban) dimaknai sebagai waktu khusus untuk memuliakan arwah leluhur.
“Tradisi ruwahan itu merupakan bentuk sinkretisme di mana ada ketemu yang namanya paham Islam dengan kultur Jawa yang semuanya dipadukan sejak zaman Mataram Islam,” jelas Tundjung Wahadi Sutirto. Menurutnya, ketika Sultan Agung membuat kalender Saka, itulah ketemu di mana bulan Rejab dimaknai sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan Rejab menurut Islam juga kemudian ketemu dengan satu perilaku masyarakat di Jawa sebelumnya yaitu di mana tradisi yang memuliakan leluhur.
Peran kerajaan Islam di tanah Jawa membuat tradisi Ruwahan dapat dilestarikan masyarakat Jawa secara turun temurun hingga saat ini. “Ketika memasuki masa Mataram Islam, ajaran memuliakan bulan Rajab. Karena dalam doa-doa sesuai sunah itu juga diijabah pada bulan Rejab. Kemudian ada satu peristiwa di mana turunnya kitab suci (Isra Miraj Nabi Muhammad) dan juga menjadi satu bulan yang ketemu antara apa tradisi dengan kalender Hijriah.”
Simbol ini dilanggengkan terus-menerus terutama melalui satu institusi kerajaan yang memuliakan tradisi itu. Jadi sejak era Mataram itu sudah terjadi satu pemujaan terhadap bulan yang disebut dengan bulan ruwah atau bulan yang dimaknai sebagai bulan arwah.
Filosofi dan Makna Tradisi Ruwahan
Secara filosofis, Ruwahan berfungsi sebagai persiapan batin bagi masyarakat sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Selain itu, dalam pelaksanaannya, masyarakat Jawa berharap setelah mendoakan leluhur dan melakukan pembersihan makam, para ahli waris yang masih hidup juga akan kembali suci secara lahir dan batin, sehingga mereka siap menjalani ibadah puasa dengan hati yang bersih.
“Ada baiknya nilai untuk ruwahan itu menjadi diagungkan. Karena sebenarnya secara simbolik itu bulan ruwah dengan cara melakukan ziarah ke makam para leluhur itu sebenarnya adalah bentuk sebagai kerinduan terhadap para leluhur itu, sehingga satu-satunya jalan adalah berkunjung ke makam kemudian mendoakan menyucikan rohnya.”
“Sehingga kerinduan itu akan terbalaskan akan terimbas dengan melakukan ritual-ritual ruwahan yang mungkin di setiap daerah itu varian variasi dan versinya itu beda-beda tetapi substansinya sama. Jadi memuliakan arwah itu untuk menyucikan sama saja juga itu akan kembali kepada para ahli warisnya supaya suci sehingga ketika menghadapi bulan suci Ramadan itu betul-betul secara lahir dan batin itu dimuliakan karena telah suci secara lahiriah dan batiniah semacam itu,” jelas Tundjung.
Melakukan ziarah ke makam atau yang dikenal dengan istilah nyadran, masyarakat mengungkapkan rasa rindu sekaligus mendoakan agar roh para leluhur disucikan. Harapannya, setelah mendoakan leluhur dan melakukan pembersihan makam, para ahli waris yang masih hidup juga akan kembali suci secara lahir dan batin, sehingga mereka siap menjalani ibadah puasa dengan hati yang bersih.
Akar Sejarah Tradisi Ruwah
Menurut penjelasan ahli filologi peneliti kajian naskah kuno dan sastra Jawa, Rendra Agusta, tradisi Ruwah dalam masyarakat Jawa memiliki akar sejarah yang panjang, bermula dari tradisi pra-Islam yang dikenal dengan istilah Nyadran. Istilah ini diyakini berasal dari kata Sraddha, yaitu upacara peringatan dua belas tahun kematian dalam tradisi Hindu yang bertujuan untuk mendoakan dan melepaskan jiwa leluhur.
Seiring dengan masuknya agama Islam di tanah Jawa, tradisi ini mengalami akulturasi budaya. “Pada masa Islam masuk di Jawa, frekuensi pelaksanaannya (tradisi ruwahan) berubah dari peringatan dua belas tahunan menjadi ritual tahunan yang diadakan pada bulan Ruwah,” terang Rendra Agusta.
“Ruwah itu dari kata arwah sendiri, yakni ‘nguri-uri’ (melestarikan) arwah,” imbuhnya. Tradisi ini terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa, khususnya menjelang bulan Ramadan.












