Peran dan Dampak Brain Rot dalam Masa Digital
Seiring dengan memasuki tahun 2026, kita dihadapkan pada berbagai resolusi yang ingin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sebagai bagian dari masyarakat digital, kita juga perlu menata kembali perilaku dan kebiasaan kita dalam menghadapi dunia digital yang semakin kompleks. Salah satu isu yang semakin menjadi perhatian adalah fenomena yang dikenal sebagai “brain rot” atau kerusakan otak digital.
Brain rot, yang awalnya digunakan untuk menggambarkan konten-konten absurd seperti Simpansini Bananini atau Tralalero Tralala, kini telah berkembang menjadi istilah yang lebih luas. Ia mencerminkan penurunan kapasitas intelektual dan mental akibat konsumsi berlebihan terhadap konten-konten yang dangkal dan tidak bermakna. Fenomena ini bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah “pandemi perhatian” yang sistematis.
Hegemoni Algoritma dan Matinya Kedalaman
Dalam dunia digital, algoritma platform sering kali menjadi pihak yang mendominasi. Mereka dirancang untuk memaksimalkan penggunaan dan kecanduan, sehingga mengubah cara kita berpikir dan merasa. Dalam proses ini, individu sering kali menjadi pihak yang lemah karena terjebak dalam sistem yang dirancang untuk mengambil alih perhatian kita.
Ketika perhatian kita terus-menerus dibajak oleh algoritma, kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih. Brain rot bekerja secara sistemik dengan membuat kepala terasa penuh sekaligus kosong, menguras emosi, dan melumpuhkan kontrol diri. Akibatnya, kita bukan lagi pengemudi hidup kita sendiri, melainkan kapal tanpa kemudi yang diombang-ambingkan oleh kepentingan korporasi dan ekonomi atensi.
Antropologi Digital: Dari Narsisme ke Perjumpaan
Meskipun banyak kritik terhadap konten digital, kita tidak boleh sepenuhnya mengabaikan nilai-nilai positif yang bisa diberikan oleh media digital. Konten-konten receh bisa menjadi alternatif hiburan, budaya populer, atau cara baru untuk merayakan absurditas kehidupan. Namun, penting bagi kita untuk tetap menjaga kesadaran bahwa tidak semua konten memiliki nilai yang sama.
Di tengah tantangan ini, kita perlu bertanya secara jujur: apakah perhatian, kedalaman berpikir, fokus, dan kebeningan batin masih kita anggap bernilai? Jika jawabannya ya, maka kecemasan akan brain rot masuk akal. Banyak strategi telah dikemukakan untuk mengatasi fenomena ini, seperti pembatasan waktu layar, kurasi konten, pengembangan literasi, dan peningkatan aktivitas fisik dan sosial.
Namun, di tengah mentalitas kolektif yang sering memandang penggunaan media sosial sebagai urusan personal, strategi teknis saja tidak cukup. Kita membutuhkan pendekahan etis dan spiritual yang lebih integral supaya dapat keluar dari kungkungan selera dan kepentingan egoistik.
Gereja Katolik dan Etika Digital
Dalam konteks ini, agama-agama dapat berkontribusi melalui etika digital yang komprehensif untuk menjunjung martabat manusia yang dirongrong oleh digitalisasi. Antropologi teologis, misalnya, dapat menjadi alat diagnosa terhadap perilaku yang mencederai kualitas manusiawi di era digital. Pertanyaan-pertanyaan seperti sejauh mana kebiasaan scoll layar hp mengembangkan rasionalitas, kreativitas, dan sosialitas manusia yang merupakan cerminan manusia sebagai citra Allah, menjadi penting untuk dipertimbangkan.
Gereja Katolik, melalui dokumen “Menuju Kehadiran Penuh” (2025), mengajak setiap pengguna media sosial untuk bergerak dari panggung validasi diri yang narsistik-egoistik menuju perjumpaan sejati dalam komunitas yang solider. Ruang siber harus dikembalikan fungsinya sebagai ruang kolaborasi dan dialog.
Jalan Keluar Holistik dan Berlapis
Strategi mengatasi pandemi perhatian harus bersifat holistik. Di level sistemik, kita membutuhkan peran negara melalui regulasi dan hukum untuk mengatur cara kerja platform-platform digital agar tidak terus mengeksploitasi manusia. Di level komunitas, dibutuhkan ekosistem melek literasi digital yang mampu mendorong pengembangan media secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, dorongan etis dan spiritual setiap individu tetap merupakan kendali yang berharga. Menjadi pengguna media sosial kritis tidak berarti memandang sinis komunikasi digital, melainkan berani mengambil kendali atas perhatian kita yang berharga. Tahun 2026 harus menjadi momentum untuk keluar dari budaya individualis konsumeris digital. Setiap orang memiliki potensi menjadi komunikator aktif yang menyebarkan suara-suara kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan lewat jagat digital.












