Gelagat Fuad WN Irak Usai Bunuh Cucu Mpok Nori, Kabur Panik Bawa Karpet

Fakta Baru Kasus Pembunuhan Dwintha Anggary

Kasus pembunuhan yang menimpa Dwintha Anggary terus mengungkap fakta-fakta baru yang mengejutkan publik. Pelaku, yang dikenal dengan nama Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad, seorang warga negara Irak, terekam kamera CCTV saat melarikan diri dari lokasi kejadian. Dalam rekaman tersebut, Fuad terlihat berlari sambil membawa gulungan karpet merah usai melakukan aksinya.

Aksi tersebut sempat menimbulkan berbagai spekulasi mengenai motif di balik tindakan membawa karpet tersebut. Namun, berdasarkan pengakuan pelaku kepada penyidik, tindakan itu dilakukan tanpa tujuan khusus. “Pada saat selesai dia membunuh korban, dia takut dan panik sehingga dia membawa karpet itu. Sebenarnya tidak ada tujuan spesifik untuk apa,” ungkap Fechy J. Ataupah kepada wartawan.

Selain karpet, pelaku juga membawa sejumlah barang milik korban dari kontrakan, termasuk paspor dan ponsel. Kedua barang tersebut diduga memiliki kaitan dengan motif yang melatarbelakangi tindakan pelaku.

Sementara itu, pisau yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban justru ditinggalkan di lokasi kejadian. Pisau tersebut ditemukan berada di atas tumpukan sepatu dengan kondisi masih berlumuran darah. “Ditaruh aja gitu di atas,” ungkap Fechy. Tak hanya itu, pelaku juga meninggalkan pakaian yang dikenakannya karena terkena darah korban. Seluruh barang bukti tersebut kini telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Menurut keterangan penyidik, pelaku mengambil ponsel korban karena diduga berisi bukti terkait tuduhan perselingkuhan. “Jadi katanya selain melihat tertangkap basah bersama pria lain, ada juga foto mesra. Cuma HP korban sampai saat ini belum kami buka karena tidak ada yang tahu password-nya,” jelas Fechy.

Tabiat Fuad

Sementara, Dian Puspitasari (40), kakak kandung Dwintha, mengungkapkan sikap kerap cemburu sejak korban aktif bekerja dan memiliki banyak relasi, terutama dengan rekan kerja laki-laki. “Semenjak Anggi kerja, banyak teman, kan rata-rata temannya cowok juga, nah di situ dia cemburu,” ujar Dian kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi.

Menurut Dian, Dwintha merupakan sosok yang mudah bergaul, dan hal ini diduga menjadi salah satu pemicu kecemburuan pelaku. “Ya mungkin dia cemburunya di situ,” ucapnya. Dian menilai pelaku memiliki sifat cemburuan dan cenderung membatasi ruang gerak korban selama menjalin hubungan. “Dia agak cemburuan. Jadi kalau orang Irak modelnya ‘Kamu mau apa saja saya kasih, tapi kalau untuk pegang duit saya enggak kasih’.”

Dian mengungkapkan, pelaku sempat melakukan percobaan bunuh diri setelah ditolak rujuk oleh korban. Pelaku diduga mengalami tekanan emosional karena keinginannya untuk kembali menjalin hubungan tidak direspons. “Sempat mau bunuh diri tapi enggak berani. Cuma sayat-sayat tangan doang. Itu karena dia pengin balik dan merasa bersalah sama adik saya,” kata Dian.

Ia menambahkan, pelaku terus berupaya mengajak korban rujuk, namun tidak mendapat tanggapan. “Kalau yang saya lihat ya, mungkin almarhumah diajak terus-menerus balikan. Dia ngomongnya ‘Anggi cinta sejati’ apa segala macam,” ujarnya.

Hubungan yang Berakhir

Hubungan keduanya, lanjut Dian, telah berakhir setelah pelaku menjatuhkan talak kepada korban pada malam Nisfu Syakban atau sekitar awal Februari 2026. “Namanya kalau nikah siri ditalak kan sudah selesai,” kata Dian. Meski telah berpisah, pelaku diketahui masih berada di sekitar lingkungan korban. Bahkan, ia menyewa kontrakan tidak jauh dari tempat tinggal korban.

“Dikiranya pihak suaminya sudah pergi jauh, soalnya sempat kabur beberapa minggu. Enggak tahunya dia ngontrak di depan Gang Daman sini. Masih dekat dari kontrakan adik saya,” ujar Dian. Ia mengungkapkan, pelaku diduga kerap memantau aktivitas korban, bahkan mengikuti tanpa disadari.

“Terakhir itu saya mau ke pasar hari Kamis, papasan sama saudara saya. Ternyata dia (pelaku) ada di belakang. Dan kita tidak sadar diikuti,” ucapnya. Dian juga menyebut pelaku sering berada di sekitar lokasi korban beraktivitas, termasuk saat korban pulang bekerja pada malam hari. “Adik saya juga kalau pulang dari MBG kan malam, dia (pelaku) jagain di es kelapa depan ini. Emang dipantau terus,” tuturnya.

Aksi Pelaku Terekam CCTV

Aksi pelaku terekam kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi. Dalam rekaman tersebut, pelaku terlihat mondar-mandir sebelum melancarkan aksinya. “Tersangka sempat bolak-balik mantau pakai motor. Nah, di atas jam dua belas itu dia balik lagi bawa karpet, gagang pacul, sama lakban,” ungkap Dian.

Pelaku Sempat Akhiri Hidup

Panit 2 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKP Fechy J. Ataupah, mengatakan pelaku bernama Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad itu juga sempat melarikan diri ke Bogor sebelumnya. Namun, Fuad yang berkewarganegaraan Irak tersebut kemudian mengurungkan niatnya. “Dia memang sempat mau bunuh diri, tapi diurungkan, kemudian dia memilih untuk pergi ke Pulau Sumatera,” ungkap Fechy kepada wartawan.

Fechy menjelaskan, Fuad tidak memiliki tujuan spesifik di Sumatera. Ia berangkat menggunakan bus dari kawasan Ciledug, Tangerang, untuk menjauh dari lokasi kejadian perkara (TKP) dan menghilangkan jejak. “Kalau ke Sumatera enggak ada kenalan, random. Dia berusaha menjauh dari TKP,” ujar Fechy. Belum diketahui alasan Fuad sempat berniat mengakhiri hidupnya. Namun, Fechy menyebut Fuad mengalami penyesalan setelah melakukan pembunuhan terhadap Dwintha.

Pelarian Fuad berakhir di ruas Tol Tangerang–Merak tak lama setelah jasad Dwintha ditemukan pada Sabtu (21/3/2026). Saat ini, Fuad telah berstatus sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut dan terancam hukuman penjara hingga 15 tahun. Polisi juga tengah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Imigrasi dan Kedutaan Besar Irak untuk proses hukum lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *