Ketua BEM UGM Tak Gentar Meski Diteror Usai Gugat Kematian Bocah NTT ke UNICEF

Kritik Keras Tiyo Ardianto: Tragedi Anak di NTT dan Ancaman yang Mengikuti

Tragedi memilukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menggugah nurani publik. Seorang anak berusia 10 tahun dilaporkan meninggal dunia, diduga setelah mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli alat tulis seharga sekitar Rp 10.000. Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga memicu amarah moral dari kalangan mahasiswa.

Salah satu suara yang paling lantang datang dari Universitas Gadjah Mada. Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM Yogyakarta, tampil ke depan menyuarakan kritik keras atas tragedi tersebut. Sikap ini, menurut pengakuannya, justru berujung pada teror dan intimidasi.

Surat ke UNICEF: Gugatan Moral atas Kegagalan Sistem

Tidak berhenti pada pernyataan di media, Tiyo memilih melangkah lebih jauh. Ia mengirimkan surat resmi kepada UNICEF, menyoroti tragedi tersebut sebagai cermin kegagalan sistemik negara dalam melindungi anak-anak.

Dalam suratnya, Tiyo menulis kalimat yang mengguncang nurani:
“What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”
Ia kemudian menegaskannya kembali dalam terjemahan:
“Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?”

Bagi Tiyo, tragedi ini bukan sekadar takdir atau peristiwa tunggal. Ia menekankan bahwa kematian tersebut adalah buah dari “systemic failure” (kegagalan sistemik) kegagalan negara dan kebijakan publik dalam melindungi kelompok paling rentan.

Dalam surat itu pula, Tiyo mendesak UNICEF agar memperkuat perannya di Indonesia, khususnya dalam perlindungan anak, penjaminan anggaran pendidikan, serta pencegahan kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Teror Dimulai: Ancaman, Penguntitan, dan Pesan Menculik

Namun, suara lantang itu rupanya berbuntut panjang. Tiyo mengaku setelah menyuarakan kritik tersebut, ia justru mengalami berbagai bentuk intimidasi. Rentang waktunya disebut terjadi antara 9 hingga 11 Februari 2026.

Salah satu teror paling serius adalah ancaman penculikan yang diterimanya melalui pesan singkat dari nomor tak dikenal. “Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).

Tidak hanya ancaman verbal, Tiyo juga mengaku mengalami penguntitan secara langsung. Pada Rabu (11/2/2026), Tiyo menyadari dirinya dibuntuti saat berada di sebuah kedai. Menurut penuturannya, penguntitan itu dilakukan oleh dua pria tak dikenal.

“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” paparnya. Situasi menjadi semakin mencekam ketika Tiyo dan rekannya mencoba mengejar kedua pria tersebut. “Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.

Ia menduga, teror ini berkaitan langsung dengan sikap kritis yang selama ini ia suarakan. “Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung,” ucapnya.

Tak Lapor Kampus dan Aparat

Meski mendapat intimidasi serius, Tiyo mengaku tidak melakukan komunikasi langsung dengan pihak kampus maupun aparat penegak hukum. “Saya juga tidak berkomunikasi langsung dengan kampus dan aparat soal ini,” ujarnya.

Namun, di ruang publik, ia memilih sikap yang tegas dan terbuka. “Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di republik ini, selama itulah penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang,” tandasnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan dukungan dan doa. “Terima kasih untuk rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja. Saya akan terus baik-baik saja,” jelasnya.

Hingga kini, Kompas.com masih menunggu tanggapan resmi dari pihak Universitas Gadjah Mada terkait pengakuan teror yang dialami Ketua BEM-nya.

Siapa Tiyo Ardianto?

Tiyo Ardianto merupakan mahasiswa Jurusan Filsafat UGM angkatan 2021. Ia menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM (BEM KM UGM) periode 2025.

Lahir dan besar di Kudus, Jawa Tengah, Tiyo bukan berasal dari jalur pendidikan konvensional. Ia merupakan lulusan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah di Kudus sebelum akhirnya melanjutkan studi ke UGM.

Selama memimpin BEM UGM, Tiyo dikenal sebagai figur independen, aktif dalam gerakan mahasiswa, dan kritis terhadap kekuasaan serta politik praktis.

Keluar dari BEM SI: Menolak Dekat dengan Kekuasaan

Dalam Musyawarah Nasional XVIII Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan di Padang, Tiyo mengambil langkah tegas dengan memutuskan keluar dari BEM SI. Ia mengkritik keras kehadiran pejabat politik dan negara dalam forum mahasiswa tersebut.

Menurutnya, kedekatan itu mencederai nilai perjuangan mahasiswa yang seharusnya berdiri di luar pengaruh kekuasaan. Tiyo menegaskan bahwa BEM KM UGM memilih tetap berada di jalur gerakan rakyat, independen, tanpa intervensi politik, serta menolak kekerasan dan perebutan jabatan yang merusak persatuan gerakan mahasiswa.

Ia pun terus membangun komunikasi lintas kampus dan berkomitmen agar gerakan mahasiswa tetap menyatu dengan rakyat tanpa komando elite, tanpa kooptasi, dan tanpa kehilangan independensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *