Budaya  

Kisah Pria Hindu yang Melindungi Warga Muslim dan Jadi Pahlawan

Kisah Mohammad Deepak: Pahlawan yang Membela Kemanusiaan di Tengah Kebencian



Nama lengkapnya adalah Mohammad Deepak. Dengan empat kata sederhana ini, ia menjadi sorotan nasional dan dikenang sebagai pahlawan yang tak terduga di India. Seorang pria beragama Hindu ini dipuji sebagai “ikon India sekuler” dan “contoh teladan pluralisme India” setelah membela seorang pemilik toko yang beragama Islam. Namun, tindakan tersebut juga membuatnya menjadi korban protes keras dan ancaman kematian.

Insiden yang memicu perhatian publik terjadi di kota kecil Kotdwar, Negara Bagian Uttarakhand, pada 26 Januari 2026. Kejadian ini menjadi viral setelah rekaman video insiden tersebut menyebar. Video tersebut menampilkan Deepak berdebat dengan aktivis Bajrang Dal, sebuah kelompok Hindu garis keras yang sering kali menjadi berita karena tindakan diskriminatif terhadap komunitas Muslim.

Pada saat itu, Deepak sedang berada di toko temannya dan mencoba melerai ketika melihat sekitar enam pemuda mencemooh Vakeel Ahmed, seorang pria lanjut usia yang merupakan pemilik toko pakaian Baba School Dress and Matching Centre. Orang-orang itu memaksa Ahmed menghapus tulisan “Baba” dari nama tokonya yang sudah berusia 30 tahun.

Baba adalah istilah umum yang digunakan di India untuk merujuk pada tokoh agama atau sebutan untuk ayah atau kakek oleh umat Hindu dan Muslim. Namun, para aktivis Bajrang Dal berkeras bahwa “Baba” di Kotdwar identik dengan Siddhabali Baba—sebuah kuil lokal untuk dewa Hindu Hanuman. Mereka menyatakan bahwa seorang Muslim tidak berhak menggunakan istilah tersebut dalam nama tokonya.

Salah satu anak Ahmed terdengar memohon kepada para pria itu agar diberi waktu lebih banyak. Namun, mereka tetap bersikeras bahwa penghapusan harus segera dilakukan. Saat itulah Deepak mendekati lokasi kejadian. Dalam video tersebut, ia bertanya, “Bukankah Muslim juga warga negara India?”



Deepak menjelaskan bahwa tindakannya spontan dan tanpa niat apa pun. Ia hanya tidak suka melihat pemuda-pemuda itu berbicara kasar kepada seorang pria tua. Menurutnya, mereka menargetkan Ahmed karena agamanya. Ahmed, yang berusia 68 tahun, mengatakan sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika Deepak tidak ada di sana.

Setelah penolakan dari Deepak, para aktivis Bajrang Dal menanyakan namanya. Dengan memperkenalkan diri sebagai Mohammad Deepak, ia ingin memberi tahu mereka bahwa ia orang India dan bahwa setiap orang berhak tinggal di sini, terlepas dari agamanya. Terkejut dengan kombinasi nama Hindu dan Muslim yang tidak biasa, orang-orang itu kemudian memilih untuk meninggalkan lokasi kejadian.

Namun, beberapa hari kemudian, lebih dari 150 pendukung Bajrang Dal menggelar demonstrasi di luar tempat gym yang dikelola Deepak. Setelah menerima pengaduan dari Ahmed, polisi menerima laporan terhadap “beberapa orang yang tidak dikenal”. Mereka juga menerima laporan terhadap Deepak setelah pengaduan dari dua aktivis Hindu.

Tindakan Deepak yang menghadapi para pelaku demonstran mendapat pujian sebagai tindakan kepahlawanan yang langka. Anggota parlemen Partai Kongres, Rahul Gandhi, menyebutnya sebagai “pahlawan India” yang “berjuang untuk konstitusi dan kemanusiaan”. Artikel di Indian Express mengatakan video tersebut memberikan “banyak harapan”, mengingat kata-kata Deepak datang sebagai suntikan semangat dalam masyarakat yang seringkali terlihat dikuasai oleh kebencian dan intoleransi.



Deepak kini berusaha beradaptasi dengan ketenarannya yang baru dan mengatakan bahwa ia tidak pernah membayangkan bahwa keterlibatannya dalam insiden itu akan menjadi masalah besar. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Namun, tindakan keberaniannya itu bukannya tanpa konsekuensi. Deepak menghadapi kecaman dari para kritikus yang menyebutnya pengkhianat iman dan menerima banyak ancaman kematian.

Ponselnya terus berdering tanpa henti, dan ia banyak dicari oleh jurnalis, fotografer, serta warga lainnya. Jumlah pengikutnya di Instagram telah meningkat pesat, dan sebuah video pendek yang dia bagikan pada 29 Januari telah mendapatkan lebih dari lima juta suka. Dalam video tersebut, ia mengatakan: “Saya bukan seorang Hindu, saya bukan seorang Muslim, saya bukan seorang Sikh, saya bukan seorang Kristen. Pertama dan terpenting, saya adalah seorang manusia.”

Meski menghadapi ancaman dan kekhawatiran, Deepak mengatakan jika ia menghadapi situasi serupa di masa depan, ia akan tetap berdiri melawan apa yang salah. “Jika kita tetap diam hari ini, besok anak-anak kita juga akan belajar untuk diam,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *