Budaya  

Hanya Gunakan Cat Kiloan dan Limbah Kayu, Tukang Parkir Sukabumi Buat Lukisan Bernilai Seni

Kehidupan Seorang Juru Parkir yang Menjadi Pelukis di Warungkiara

Di tengah kesibukan kehidupuan sehari-hari, Iyan Sopyan (40) menemukan cara unik untuk menyalurkan bakat melukisnya. Sebagai juru parkir di minimarket di Kampung Ubrug, Desa Ubrug, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ia tidak pernah mengabaikan hobi yang telah ia pelajari sejak kecil.

Awal Mula Hobi Melukis

Iyan mengaku bahwa hobi melukis sudah menjadi bagian dari dirinya sejak masa kecil. Dulu, ia sering meminta uang jajan kepada orang tuanya hanya untuk membeli buku gambar. Jika tidak ada, ia akan menangis dan memaksa agar bisa mendapatkannya.

“Saya dari kecil suka melukis. Sebelum SD dulu kalau mau jajan minta jajan buku gambar. Kalau tidak ada buku gambar saya menangis, harus ada buku gambar,” kata Iyan.

Sampai usia sekolah dasar dan menengah pertama, Iyan terus mengikuti berbagai lomba melukis. Ia mengaku, dulu ia sering melukis robot, khususnya karakter populer seperti Satria Baja Hitam RX.

“Kalau SD dan SMP suka ikut perlombaan. Dulu kalau melukis suka lukis robot, dulu yang populer Satria Baja Hitam RX, itu yang dilukis, terus ke sini-sini keterusan,” ujarnya.

Bakat yang Pudar dan Bangkit Kembali

Namun, semangat melukis Iyan sempat pudar karena tuntutan ekonomi saat ia sudah menikah dan memiliki empat anak. Ia pun mencoba berbagai pekerjaan sampingan, seperti berjualan bakso dan cilok.

Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 membuat Iyan kembali menganggur. Di tengah ketidakpastian tersebut, ia memutuskan untuk kembali menyalurkan bakat melukisnya. Ia mengatakan bahwa saat itu, ia tidak memiliki pekerjaan lain, sehingga memilih melukis sebagai aktivitas harian.

“Sempat tinggalkan melukis karena sibuk dagang. Baru kembali melukis lagi ketika ada Corona, karena tidak ada kerjaan, saya kembali mengisi sehari-hari melukis. Sejak Corona saya mulai melukis sampai sekarang melukis terus,” katanya.

Karya Seni dengan Bahan Sederhana

Kini, Iyan menjual karya-karyanya dengan harga Rp250 ribu per lukisan. Meskipun menggunakan bahan sederhana, seperti cat kiloan dan minyak, serta bingkai dari limbah pengrajin kursi, hasil karyanya tetap menarik dan bernilai.

“Satu lukisan segede ini saya jual seharga Rp250 ribu. Kalau modal beli cat kiloan dan minyak yang murah, bahan bingkainya dari limbah pengrajin kursi,” ujar Iyan.

Lukisan-lukisan yang ia buat biasanya berupa pemandangan alam, seperti gunung, sawah, dan sungai. Meskipun dibuat dalam waktu senggang, karyanya tampak sangat realistis dan menarik perhatian para pengunjung minimarket.

Kepuasan Batin dan Keluarga

Bagi Iyan, melukis bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga sebagai bentuk kepuasan batin. Ia mengaku bahwa uang adalah hal kedua, sedangkan kepuasan batin menjadi prioritas utama.

“Kalau saya sih uang nomor dua. Bagi saya setiap orang pasti punya hobi. Kalau saya, melukis sebagai bentuk menyalurkan kepuasan batin. Sebab kalau di kampung masyarakat masih awam soal lukisan, beda dengan kalau di kota, ramai kayaknya mahal jenis ini,” ujarnya.

Iyan juga menyadari bahwa kebutuhan keluarga tetap menjadi prioritas utama. Ia memastikan bahwa uang yang ia dapatkan dari penjualan lukisan digunakan untuk keperluan keluarga, termasuk membeli bahan-bahan seni.

“Istri mendukung, tapi jangan ganggu uang untuk keperluan anak. Makanya saya inisiatif kalau sudah laku, saya beli barang (bahan lukisan), tapi urusan keperluan keluarga tetap aman sampai sekarang, istri enjoy saja,” kata Iyan.

Kesimpulan

Dengan bakat yang ia miliki, Iyan berhasil menemukan jalan hidup yang unik. Di tengah kesibukan sebagai juru parkir, ia tetap menyalurkan hobi melukisnya dengan bahan sederhana dan harga yang terjangkau. Karyanya tidak hanya memberi kepuasan batin, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *