Petualangan Asterix begitu fenomenal di ‘kampung halamannya’, Prancis. Ia dianggap pahlawan Galia. Tapi kenapa sudah masuk Amerika Serikat?
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
Intisari-Online.com –
Para penggemar komik tak sulit mengenal nama Uderzo dan Goscinny. Di negeri asalnya, Prancis, kedua orang itu disebut pahlawan komik. Karya mereka yang terkenal,
Petualangan Asterix
, menjadi kisah kepahlawanan yang kondang di seantero dunia.

Cerita tentang Asterix bersetting sekitar tahun 20 SM, tepatnya saat kekuasaan Romawi dipegang Julius Caesar. Romawi memang sedang jaya-jayanya saat itu. Hampir sepertiga dunia dikuasainya.
Tapi alkisah ada satu daerah di Galia (sekarang Prancis), di sekitar benteng Totorum, Aquarium, Laudanum, dan Compendium, yang masih bebas dari kekuasaan Romawi. Tentu saja ini cuma isapan jempol penulisnya karena sebenarnya saat itu semua wilayah Galia takluk di bawah kekuasaan Romawi.
Tak apa. Namanya juga cerita. Daerah merdeka itulah yang didiami oleh Asterix dan kawan-kawannya. Dipimpin oleh Abraracourcix (Vitalstatistix), tokoh pemberani tapi selalu khawatir langit akan runtuh menimpanya, menjadikan desanya seperti duri dalam daging bagi Caesar.

Maka diutuslah berbagai macam panglima dan tentara untuk menaklukkan desa kecil itu. Tapi sampai bertahun-tahun, Asterix dan penduduk desa mampu memporak porandakan pasukan Romawi.
Kunci kekuatan Asterix ternyata ada pada ramuan ajaib buatan dukun Getafix (versi Prancis-nya Panoramix). Ramuannya mampu memberikan kekuatan berlipat ganda bagi yang meminumnya. Sayangnya, ramuan itu harus selalu diminum sebelum sang jagoan beraksi.
Itulah sebabnya Panoramix selalu membekali sebotol ramuan setiap kali Asterix bertualang. Namun, berbeda dengan Obelix – raksasa sahabat Asterix. Saat masih bayi, Obelix pernah tercebur ke dalam kuali berisi ramuan ajaib itu, akibatnya tubuhnya tetap kuat walau tanpa meminum ramuan.
Petualangan Asterix
menceritakan berbagai pengalaman Asterix dalam membebaskan kampungnya dari kekuasaan Romawi. Tak jarang dia bepergian ke luar negeri untuk membantu sekutu-sekutunya memerangi Romawi. Tercatat berbagai negeri seperti Inggris, Skandinavia, Belgia, Jerman (Visigoth), Korsika, Mesir, India, Romawi, Yunani, dan Persia pernah dikunjunginya.
Dalam pengembaraannya Asterix selalu ditemani Obelix. Obelix mau mengikuti Asterix dengan satu syarat … ada babi hutan panggang dan pertarungan seru.
Pasangan Abadi
Persahabatan Asterix dan Obelix mirip persahabatan penciptanya, Uderzo dan Goscinny. Uderzo yang keturunan Italia dan Goscinny yang Prancis tulen pertama kali bertemu tahun 1950. Mereka membuat komik pertamanya:
Jehan Pistolet
. Beberapa tahun kemudian keduanya menciptakan Asterix. Sebelumnya mereka berkarya sendiri-sendiri.
Albert Uderzo memulai debutnya pada usia 14 tahun. Komik
Mickey Mouse
-nya diterbitkan di Majalah
Le Petit Parisien
. Tahun 1956 dia melukis
Clopinard
. Kemudian berturut-turut tercipta
Ary Buck
dan
Belloy l’l vulnerable
. Kemudian dia bekerja untuk Majalah
KID, Bravo, France-Dimanche
, dan
France-Soir
.
Pada 1958, Uderzo mengerjakan ilustrasi
Oumpah-pah
(bersama Goscinny) dan
La Famille Moutonet
di Majalah
Tintin
. Tahun 1959, bersama Goscinny dan Charlier, Uderzo mendirikan penerbitan sendiri, Pilote. Dua seri pertamanya adalah
Asterix
dan
Michel Tanguy
.
Latar Belakang Kedua Seniman
Berbeda dengan Uderzo yang lahir di Italia, Rene Goscinny lahir di Paris tapi besar di Buenos Aires, Argentina. Pada 1944 dia pindah ke Amerika Serikat dan bekerja pada agen perdagangan.
Empat tahun kemudian dia bekerja di studio yang dipenuhi penulis terkenal seperti Harvey Kurtzman, Will Elder, dan John Severin. Tiga tahun kemudian Goscinny kembali ke Eropa dan bekerja di kantor Surat Kabar
Dick Dicks
, kemudian
World Press
.
Sejak 1956 Goscinny menghasilkan berbagai karya seperti
Spaghetti
bersama Dino Attanasio,
Strapontin
bersama Berck,
Prudence
Petitpas
bersama Marechal,
Modeste et Pompon
bersama Franquin, serta
Oumpah-pah
bersama Uderzo.
Dia juga menulis
Lili Mannequin
(bersama Will tahun 1957) di Majalah
Paris-Flirt
.
Le Capitaine Bibobu
yang dilukisnya sendiri, juga
Pistolin
,
La Fee Aveline
, serta
Petit Nicolas
yang ilustrasinya dikerjakan oleh Sempe.
Meski telah menghasilkan banyak karya,
masterpiece
keduanya sebenarnya adalah
Petualangan Asterix
. Duet ini bertahan hingga Goscinny mengembuskan napas terakhir pada 1977 karena serangan jantung. Tapi sebelum meninggal, Goscinny masih meninggalkan satu naskah cerita,
Asterix in Belgium
(
Asterix di Belgia
).
Lanjutan Karya Setelah Goscinny
Sepeninggal sahabatnya, Uderzo tidak patah semangat. Dibantu putranya, dia melanjutkan pembuatan kisah Asterix. Hingga kini tercatat 30 buah komik dengan judul Asterix, termasuk enam seri karya tunggal Uderzo.
Tentu saja kualitasnya tidak sebaik karya berduanya dengan Goscinny. Tapi tidak semuanya jelek.
Astérix & Son
(Le Fils d’Astérix, 1986) dan
Asterix Odyssey
(1981) termasuk bagus. Pada tahun 1980, Uderzo mendirikan Les Editions Albert-Rene yang menerbitkan komik-komik Asterix.
Kesuksesan di Berbagai Media
Asterix terbit pertama kali tahun 1959 di komik terbitan Pilote. Nomor perdana ini hanya dicetak 6.000 eksemplar. Baru edisi kedua,
La Serpe d’or
(
Asterix and the Golden Sickle
), laku hingga 20.000 kopi. Tapi sukses besar diraih saat pemunculan komik
Asterix dan Cleopatra
pada 1965. Sampai awal 1967, lebih dari satu juta kopi terjual.
Pilote terus menerbitkan Asterix hingga jilid ke-20. Komik terakhir adalah
Asterix di Korsika
. Sedangkan episode “Le Cadeau de Caesar” diterbitkan oleh Sud-Quest pada tahun 1975. Komik berikutnya diterbitkan oleh Le Nouvel Observateur.
Antara 1961 – 1974 telah terjual 22 juta kopi Asterix, setara dengan 22 album Tintin. Komik terakhir berjudul
La Galeve d’Obelix
, terbit pada 1966. Semuanya telah diterjemahkan ke dalam 70 bahasa.
Sebagai sebuah produk massa, Asterix juga cukup berhasil. Sukses di komik, Asterix melangkah ke dunia lain, yaitu film. Mula-mula muncul video kartunnya, dan belakangan versi manusianya. Film karya Claude Zidi berjudul
Asterix and Obelix versus Caesar
laris seperti kacang goreng.
Film yang Menggebrak
Film yang antara lain dibintangi Gerard Depardieu dan Christian Clavier ini videonya laku hingga 1,2 juta buah. Sedangkan DVD-nya laku 40.000 keping. Versi layar lebarnya ditonton lebih dari 20 juta orang. Di Prancis disaksikan sembilan juta pasang mata dan di Jerman empat juta penonton.
Winston Churchill dan The Beatles juga muncul
Karakter yang Unik dan Terinspirasi
Kekuatan karya duet Uderzo dan Goscinny terletak pada karakternya yang kompleks dan sangat berbau Prancis. Seperti biasanya, musuh selalu digambarkan sebagai pecundang. Pasukan Romawi digambarkan sebagai sekumpulan orang dungu dan selalu kalah perang.
Setiap adegan pertempuran selalu kocak dan konyol. Pengarangnya meledek orang Romawi habis-habisan. Padahal leluhur Uderzo adalah orang Romawi. Tapi itu tak mengalanginya menggambarkan betapa konyolnya pasukan nenek moyang bangsa Italia itu. Lucunya, film itu juga laris di Italia.
Asterix dengan cerdik menyentil masalah-masalah modern dengan
setting
masa Romawi kuno. Maka gaya hidup konsumerisme dan perang dagang muncul dalam
Obelix et Compagnie
. Atau emansipasi wanita dalam
La Rose et le Glaive
.
Goscinny tidak lupa menambahkan tokoh-tokoh sejarah sebagai pemanis. Selain Julius Caesar yang benar-benar pernah hidup, hadir juga Cleopatra dan Brutus. Tokoh-tokoh modern macam Winston Churchill, Edith Cresson (mantan Perdana Menteri Prancis), Charles De Gaulle, Brigitte Bardot, Sean Connery, dan The Beatles diselipkan juga dengan nama samaran.
Detail yang Menarik dan Lukisan yang Indah
Cerita menarik itu menjadi hidup di tangan Uderzo. Kalau karakternya digambarkan berhidung besar dan kaki kecil, maka bangunan-bangunan sejarahnya justru digambarkan megah dan mendetail.
Lihatlah bagaimana Goscinny menggambarkan detail Colosseum, teater di Olimpus, atau istana Cleopatra di Mesir. Detailnya cukup sempurna. Mungkin hanya Herge (pelukis dan penulis Tintin) yang mampu menandinginya. Lukisan Uderzo makin indah berkat warna-warna menawan. Untuk itu dia harus mengerahkan anak buahnya karena ternyata dia … buta warna!
Kritik dan Penilaian
Ada yang kurang dalam petualangan Asterix, yakni peran kaum perempuan. Wanita hanya muncul sebagai pemanis. Memang ada istri kepala suku yang cerewet, atau istri yang seksi dan mirip Brigitte Bardot.
Tetapi peran mereka terlalu kecil dibandingkan dengan kaum laki-laki. Kalau ada yang menonjol, mungkin Cleopatra-lah orangnya. Ratu Mesir ini digambarkan lebih berkuasa daripada sang Kaisar.
Kritikus menilai, kisah Asterix sebagai komik laki-laki. Kesan romantis pun jauh dari harapan. Asterix digambarkan hanya sekali jatuh cinta dalam
La Rose et la Glaive
. Selebihnya, dipenuhi adegan
bak-bik-buk
kaum laki-laki.
Dalam komik pertama tokoh perempuan bahkan tidak muncul sama sekali. Perempuan baru muncul dalam
LaZizanie
(1970) yang diwakili oleh Mrs. Senilix. Dalam
Le Cadeau de Cesar
(Hadiah Caesar, 1974) wanita baru digambarkan dalam jamuan terakhir.
Sementara dalam
La Rose et la Glaive
(Asterix dan Senjata Rahasia, 1991), Uderzo justru membuat kesalahan fatal: keliru menggambarkan feminisme.
Dalam komik yang dibuatnya sepeninggal Goscinny itu, pasukan Romawi menggunakan taktik baru dengan menurunkan pasukan wanita untuk menyerang Galia dengan alasan pasukan Galia tentu tidak akan menyakiti wanita. Sebelumnya, seorang feminis dari luar kota bernama Maestria (tokoh karikatural dari Edith Cresson) membuat perubahan mendadak yang menyebabkan para pria menyingkir ke hutan.
Ketika pasukan wanita Romawi datang, para wanita desa menggunakan taktik menjual pakaian dan perhiasan untuk mengalihkan perhatian lawan. Akibatnya, pasukan Romawi tidak jadi perang, tapi berbelanja.
Padahal dalam sejarah Prancis kuno, wanita juga ikut berperang. Tidak heran jika komik ini dianggap melecehkan wanita dan dinilai sebagai komik Asterix terburuk. Tapi Uderzo menangkis kecaman itu.
“Saya hanya mencoba mempermalukan Asterix dengan menggunakan feminis. Dia sama sekali tidak berdaya melawan wanita, terutama wanita yang berkepribadian kuat,” kilahnya.
Para pengkritik juga menuduh Goscinny dan Uderzo pembenci perempuan, rasis, dan bermental imperialisme ala De Gaulle. Sisi imperialisme diwakili Julius Caesar, sedangkan tokoh rasis diwakili oleh Senilix. Tokoh ini dilukiskan selalu membenci orang luar.
The World Encyclopedia of Comics
karya Maurice Horn menyebutkan, “Ada beberapa hal menarik dalam komik Asterix seperti penggunaan dialog dalam gambar lingkaran, gambar yang rapi, dan penggambaran situasi lucu. Tapi alurnya yang menjemukan dan kegemaran Goscinny untuk selalu menyindir, membuat komiknya tidak menyenangkan. Itulah sebabnya Asterix selalu gagal masuk Amerika Serikat.”
Tapi Asterix tetap Asterix, yang seperti kata pepatah, “Dibenci tapi juga dirindukan.”












