Pentingnya Khutbah Jumat dalam Kehidupan Beragama
Khutbah Jumat merupakan elemen penting yang tak bisa dipisahkan dari pelaksanaan Shalat Sunnah Jumat setiap pekan. Ajuran untuk menyampaikan khutbah secara singkat terdapat dalam sebuah hadits riwayat Muslim dan Ahmad berikut ini.
“Ketahuilah bahwa panjangnya sholat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu, panjangkanlah sholat dan persingkatlah khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik.”
Dalam Islam sendiri menganjurkan supaya khutbah tidak disampaikan terlalu panjang agar jemaah tidak bosan. Untuk itu, penting bagi para khotib agar bisa memperhatikan dengan cermat apa yang disampaikan, agar bisa sampai pada pendengar atau jamaah, dan bisa dicerna serta diamalkan sesuai syarat.
Ada berbagai jenis topik khutbah Jumat, namun kali ini kita mengulas tentang satu tema dengan judul “Orang-orang Bangkrut dalam Agama Menurut Rasulullah”.
Khutbah I
Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita jalan menuju keselamatan dan membimbing kita dalam ajaran Nabi yang mulia. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.
Sesudah itu, wahai saudara-saudara, aku nasihatkan kalian dan diriku sendiri untuk takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya, semoga kalian sukses. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan kemenangan yang besar.” Dan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Jamaah Jumát hafidhakumullâh,
Pada suatu kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat apakah mereka tahu yang disebut orang bangkrut. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh sebagai berikut:
“Apakah kalian mengetahui siapa yang disebut orang bangkrut?”
Mereka (para sahabat) menjawab: “Orang bangkrut menurut pendapat kami ialah mereka yang tidak mempunyai uang dan tidak pula mempunyai harta benda.”
Jawaban seperti itu ternyata bukan sebagaimana yang dimaksudkan Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak bertanya tentang ekonomi. Beliau ingin mengajak para sahabat mengetahui bahwa kebangkrutan bisa terjadi tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang agama. Jadi di dalam agama juga ada perhitungan matematis terkait pahala dan dosa, seperti penambahan dan pengurangan di antara sesama manusia.
Penjelasan Mengenai Orang Bangkrut dalam Agama
Rasulullah menjelaskan: “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku ialah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal kebaikan dari shalat, puasa, dan zakat. Tetapi mereka dahulu pernah mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka kepada orang yang mereka salahi itu diberikan pahala amal baik mereka; dan kepada orang yang lain lagi diberikan pula amal baik mereka. Apabila amal baik mereka telah habis sebelum hutangnya lunas, maka diambillah kesalahan orang yang disalahi itu dan diberikan kepada mereka; Sesudah itu, mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.”
Jadi setiap orang dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pahala dari ibadah-ibadah yang mereka lakukan semasa hidupnya seperti shalat, puasa, dan zakat. Namun pahala-pahala yang didapat dari ibadah-ibadah wajib itu akan dikonfrontir dengan dosa-dosa sosialnya akibat berbuat zalim kepada sesama manusia seperti mencaci maki, menuduh, memfitnah, memakan harta orang lain seperti mencuri atau korupsi, membunuh secara tidak sah, melukai atau menyakiti orang lain baik secara fisik maupun non-fisik, dan sebagainya.
Apabila besarnya dosa-dosa sosial akibat kezaliman tidak sebanding dengan kesalehan-kekesalehan yang dilakukannya karena banyaknya orang yang dizalimi atau tingginya tingkat kezaliman kepada orang tertentu, maka dosa-dosa dari orang-orang yang dizalimi akan diberikan kepada orang yang menzalimi hingga mencapai titik impas. Apabila titik impas tidak tercapai, maka Allah subhanahu wata’ala akan melemparkan orang yang menzalimi itu ke neraka. Orang seperti inilah yang disebut orang bangkrut dalam agama sebagaimana penjelasan Rasulullah dalam hadits di atas.
Kezaliman dalam Perspektif Agama
Kezaliman manusia terhadap manusia lainnya pada dasarnya merupakan urusan manusia karena termasuk wilayah muamalah. Namun demikian, Allah tidak membiarkannya hingga pihak yang melakukan kezaliman menyelesaikan masalahnya, misalnya dengan konpensasi tertentu dan/atau meminta maaf kepada pihak yang dizalimi semasa hidupnya. Apabila hal ini tidak dilakukan hingga masing-masing meninggal dunia, maka Allah akan memperhitungkannya di akherat kelak.
Peringatan dari Hadits Marfu’
Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal.100), juga menjelaskan bahwa di antara hal-hal yang amat diperhitungkan oleh Allah pada hari kiamat adalah perbuatan zalim manusia terhadap manusia lainnya sebagaimana kutipan berikut ini:
“Ketahuilah bahwa di antara hal-hal berat dan sangat diperhitungkan pada hari kiamat adalah perbuatan zalim terhadap sesama manusia sebab hal ini merupakan kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah.”
Kesimpulan
Oleh karena itu, apabila kita benar-benar sayang pada diri sendiri, maka hal-hal yang harus kita lakukan dalam rangka mencegah kebangkrutan amal adalah menjaga agar pahala dari ibadah-ibadah yang kita lakukan tidak ludes oleh dosa-dosa sosial akibat kezaliman-kezaliman kita kepada orang lain. Jadi memang pahala-pahala dari berbagai ibadah saja seperti shalat, puasa, haji dan bahkan zakat sekalipun belum cukup menjadi bekal kita di akherat hingga ada kepastian bahwa orang-orang lain selamat dari lisan dan tangan kita melakukan kezaliman-kezaliman kepada mereka.
Mudah-mudahan kita semua senantiasa diberi kekuatan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mampu menjaga lisan, tangan dan anggota tubuh lainnya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang menzalimi sesama manusia seperti: menyakiti hati orang lain, mencaci maki, memfitnah dan menuduh tanpa bukti, mengambil hak orang lain seperti mencuri dan korupsi, membunuh secara tidak sah, menyakiti secara fisik, dan sebagainya. Dengan cara ini semoga kita semua selamat dari predikat orang-orang bangkrut di akherat. Amin… amin ya rabbal ‘alamin.
Khutbah II
Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya dan syukur kepada-Nya atas pertolongan dan anugerah-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang menyerukan keridhaan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.
Sesudah itu, wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dalam segala perintah-Nya dan hindari larangan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan sesuatu yang dimulai-Nya dengan diri-Nya sendiri dan ditetapkan oleh malaikat-Nya dengan kekudusan-Nya. Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepada-Nya dan berikan salam kepada-Nya dengan sebanyak-banyaknya.”












