Harga Perak Rekor Baru, Analis Prediksi Kenaikan Belum Berakhir

Harga Perak Mencetak Rekor Baru, Tren Penguatan Masih Berlanjut

Harga perak kembali mencatat rekor baru dan para analis memperkirakan bahwa tren penguatannya belum berakhir. Kenaikan harga terjadi di tengah pasokan yang semakin ketat dan permintaan yang meningkat tajam, khususnya dari India serta sektor industri.

Pergerakan harga ini sejalan dengan reli emas yang sempat melampaui USD 4.000 per ons atau sekitar Rp66,5 juta per ons. Pada pertengahan Oktober, harga perak menyentuh USD 54,47 per troy ons atau sekitar Rp907.000. Angka tersebut naik 71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski sempat terkoreksi, harga perak kembali naik akibat pasokan yang menipis.

“Beberapa orang terpaksa mengangkut perak dengan pesawat daripada kapal kargo untuk memenuhi permintaan pengiriman,” ujar Paul Syms, Kepala Pendapatan Tetap ETF EMEA dan manajemen produk komoditas di Invesco.

Menurut Syms, dalam jangka panjang, ada dinamika berbeda kali ini yang dapat mempertahankan harga perak pada level yang cukup tinggi dan mungkin terus naik untuk beberapa waktu mendatang.

Ini menjadi kali ketiga perak menyentuh level rekor dalam 50 tahun. Lonjakan pertama terjadi pada 1980 saat Hunt bersaudara menguasai sepertiga pasokan dunia. Lonjakan kedua terjadi pada 2011 ketika logam mulia menjadi aset pelarian di tengah krisis plafon utang AS.

Permintaan India Mengerek Harga

Syms menjelaskan bahwa pasar perak jauh lebih kecil dibanding emas. “Perak hanya sekitar sepersepuluh ukuran pasar emas, dan short squeeze itu, tentu saja, cukup mengejutkan beberapa investor,” ujarnya.

Kenaikan tahun ini muncul dari kombinasi permintaan tinggi dan pasokan yang menyusut. Biasanya, emas naik setelah Hari Pembebasan. Namun kali ini perak terkoreksi, membuat rasio emas–perak menembus angka 100. Angka itu sering membuka ruang kenaikan karena perak dinilai terlalu murah.

Permintaan terbesar datang dari India. Musim hujan selesai, panen tuntas, dan perayaan Diwali mendorong pembelian perak. “Para petani tidak terlalu menyukai bank, jadi emas, dan belakangan, perak, cenderung menjadi pilihan pertama mereka setelah panen,” kata Rhona O’Connell, Kepala Analisis Pasar EMEA dan Asia di Stone X.

India mengonsumsi sekitar 4.000 metrik ton perak per tahun, terutama untuk perhiasan, perkakas, dan ornamen. Pada 17 Oktober, harga perak di India menyentuh rekor 170.415 rupee per kilogram. Angkanya naik 85 persen sejak awal tahun.

Pasokan Menyusut Tajam

India mengandalkan impor untuk memenuhi 80 persen kebutuhan perak. Namun pasokan global utama di brankas London terus menipis. London Bullion Market Association mencatat persediaan perak turun dari 31.023 metrik ton pada 2022 menjadi 22.126 metrik ton pada Maret 2025.

“Yang tidak terlalu terlihat oleh orang-orang adalah apa yang terjadi di brankas,” ujar O’Connell. “Dan itu telah mencapai titik di mana pada dasarnya tidak ada logam yang tersisa di London.”

Kelangkaan ini membuat biaya pinjaman perak melonjak ekstrem. “Pada suatu saat, meminjam dalam semalam saja biayanya 200 persen per tahun,” katanya.

Survei Perak Dunia 2025 menunjukkan produksi tambang perak turun selama satu dekade, terutama di Amerika Tengah dan Selatan. “Surplus yang mendasarinya mulai berubah menjadi defisit karena tiga alasan: elektrifikasi kendaraan, kecerdasan artificial, dan fotovoltaik,” jelas O’Connell.

EV, AI, dan Panel Surya Jadi Mesin Baru Permintaan

Kebutuhan industri ikut memacu kenaikan. “Kendaraan listrik standar mengandung sekitar 25 gram perak, mungkin EV yang lebih besar mengandung 50 gram,” kata Syms.

Ia memperkirakan permintaan akan melonjak jika baterai solid-state berbahan perak memasuki produksi massal. “Setiap kendaraan listrik mungkin membutuhkan satu kilo atau lebih perak.”

Dengan konduktivitas listrik dan termal yang lebih tinggi dari logam lain, perak punya peran penting di sektor energi terbarukan, panel surya, serta teknologi AI.

“Perak melintasi jembatan antara logam mulia dan logam industri, dan dengan perkembangan teknologi, baterai, panel surya, memiliki beberapa kasus penggunaan yang hebat seiring kita bergerak menuju dunia yang lebih terlistriki,” kata Syms.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *