Kehidupan dan Karier Joko Supratikto, Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara
Joko Supratikto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, berbagi kisah hidupnya dalam sebuah podcast yang dipandu oleh Pemred Tribun Manado, Jumadi Mappanganro. Acara ini digelar pada Jumat, 20 Februari 2026. Dalam sesi tersebut, Joko menceritakan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga menjadi pejabat di BI.
Masa Kecil di Boyolali
Joko lahir pada 28 Desember 1968 di Kaliurang, Kelurahan Kali Genting, Kecamatan Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. Ayah dan ibunya adalah guru. Masa kecil Joko hingga kelas tiga SD dihabiskan di daerah yang terletak di lereng Gunung Merbabu. Ia menghabiskan waktu sekolah dengan jalan kaki sejauh empat hingga lima kilometer setiap hari. Saat itu, banyak siswa yang tidak memakai sepatu, termasuk Joko sendiri.
Kenangan lain yang selalu ia ingat adalah setiap pulang sekolah, ia dan teman-temannya sering menyusuri persawahan, sungai, dan kebun tembakau. Kadang mereka bermain atau mencari ikan. Setelah kelas empat SD, Joko pindah ke Salatiga bersama ayahnya yang bekerja di sana setelah lulus kuliah dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Pendidikan dan Awal Karier
Di Salatiga, Joko menuntut ilmu hingga SMA. Ia lulus dari SMA Negeri 1 Salatiga. Setelah lulus SMA, Joko melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), mengambil jurusan Akuntansi. Ia menyelesaikan pendidikannya dalam lima tahun dan lulus pada tahun 1992.
Setelah lulus, Joko mencoba mencari pekerjaan dengan merantau ke Jakarta. Ia bekerja di beberapa perusahaan swasta sebelum akhirnya mencoba ikut seleksi pegawai BI pada tahun 1994. Ia berhasil lolos dan mengikuti pendidikan calon pegawai, lalu lulus pada tahun 1995. Sejak saat itu, Joko telah bekerja di BI selama 31 tahun.
Pengaruh Keluarga dan Filosofi Hidup
Keluarga Joko adalah keluarga pengajar. Orangtuanya serta saudara-saudaranya adalah guru, dosen, atau PNS. Filosofi yang selalu ia pegang adalah makna dari kata “cukup”. Di tengah keluarga yang sederhana, Joko diajarkan untuk menggunakan apa yang dimiliki dan tidak sampai kekurangan.
Selain itu, keluarganya juga mengajarkan pentingnya rukun dengan saudara. Keluarga Joko terbiasa hidup dalam keberagaman, seperti ketika paman dan kakeknya Muslim. Mereka saling berkunjung saat Lebaran dan Natal.
Perjalanan Karier di BI
Joko memulai karier di BI sebagai Pengawas Bank. Ia mengawasi bank pelat merah dan menjadi pemeriksa bank pemerintah serta swasta. Ia juga menjadi bagian dari tim yang membidani lahirnya Bank Mandiri. Selain itu, ia terlibat dalam Tim Likuidasi Perbankan dan Pembekuan Bank pada tahun 1997, di tengah krisis moneter yang sedang berlangsung.
Setelah krisis selesai, Joko mendapat beasiswa dari BI untuk studi lanjut ke Filipina pada tahun 2001. Setelah kembali, ia bergabung dengan Departemen Manajemen Risiko Keuangan Bank. Ia juga pernah ditugaskan ke Departemen Pengembangan UMKM, di mana ia berinteraksi langsung dengan sektor riil seperti UMKM dan pertanian.
Penugasan di Papua dan Festival Kopi Papua
Pada tahun 2015, Joko ditugaskan ke daerah sebagai Kepala Perwakilan BI Papua. Tantangan besar di sana membuatnya menikmati pengalaman tersebut. Salah satu legacy-nya di Papua adalah gagasannya tentang Festival Kopi Papua, yang kini menjadi agenda rutin.
Festival ini pertama kali digelar pada 2018. Saat itu, ada lelang kopi yang menciptakan rekor harga. Arabica Tiom terjual Rp 5,3 juta per kilogram, lebih tinggi dari rekor MURI. Sayangnya, saat itu MURI tidak diundang.
Kesibukan di Papua dan Pengalaman Harga Mahal
Di Papua, akses transportasi yang sulit membuat semua barang diangkut dengan pesawat, sehingga harga-harga sangat mahal. Contohnya, harga BBM di Jayapura bisa mencapai 8 ribu rupiah, sedangkan di Papua Pegunungan bisa mencapai 100 ribu rupiah.
Penugasan di Sulawesi Utara
Setelah beberapa penugasan di Jakarta, Joko ditugaskan sebagai Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara pada Juni 2025. Ia mengungkapkan kesan pertamanya tentang Manado, yaitu daerah yang kaya akan kuliner dan pariwisata. Salah satu destinasi yang menarik perhatiannya adalah Bunaken dengan taman lautnya yang indah.
Ia juga menyebutkan potensi industri rumah kayu Woloan. Pernah, ia tertarik dengan rumah panggung Woloan saat tugas ke Manado, lalu membelinya dan tinggal di Bekasi.












