Polisi tangkap 12 tersangka kasus Tambrauw, termasuk ASN dan kepala kampung

Penangkapan 12 Orang Terkait Serangan di Tambrauw

Polda Papua Barat Daya telah melakukan penangkapan terhadap 12 orang yang terkait dengan kasus penyerangan terhadap tenaga kesehatan dan warga sipil di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw. Operasi gabungan ini melibatkan personel Polres Tambrauw, Brimob, hingga Satgas 763.

Plt. Kabid Humas Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny Setya Agustus Hengklare mengatakan bahwa ke-12 orang tersebut saat ini masih berstatus sebagai saksi. Penyergapan dilakukan di beberapa titik, mulai dari Kampung Salim hingga meluas ke Kampung Bano dan Jogbe.

Identitas mereka yang diamankan antara lain TY, LY, SY, PY, DJ, DY, BY, AY, DY, dan YJ yang diketahui berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Selain itu, polisi juga mengamankan dua kepala kampung yakni AY (Kepala Kampung Banfot) dan MY (Kepala Kampung Bamusbama).

Dalam operasi tersebut, aparat menyita sejumlah barang bukti, di antaranya:
– 7 pucuk senapan angin dan 7 bilah parang.
– 11 buah anak panah dan 3 buah tombak.
– Barang pribadi seperti handphone, tas, sepatu, botol miras, hingga benda yang diduga jimat.

Dir Reskrimum Polda Papua Barat Daya Kombes Pol Junov Siregar menegaskan bahwa pihaknya masih mendalami apakah para saksi terlibat langsung dalam pembunuhan sadis tersebut atau terafiliasi dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). “Kami masih mengumpulkan bukti. Jika ditemukan keterlibatan kuat, akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku,” kata Junov.

Detik-Detik OTK Menyerang Edwin

Sebelumnya, Yohanes Edwintus Bido (24), pemuda asal Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur meninggal dunia dalam insiden di jalan raya Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw. Korban yang akrab disapa Edwin meninggal bersama seorang tenaga kesehatan (nakes) bernama Yeremia Lobo (37).

Paman korban Reinhard Nussy (30) mengatakan, Edwin baru tiba di Papua Barat Daya pada Januari 2026 untuk mencari pekerjaan. “Ponakan dari istri saya datang ke sini untuk mencari kerja. Kemarin dia masih bersama kami di tempat tugas di Kabupaten Tambrauw,” ujar Reinhard, Selasa (17/3/2026).

Selama berada di Sorong hingga Tambrauw, Edwin dikenal sebagai pribadi yang ceria, terbuka, dan mudah bergaul. Ia diajak keluarga untuk berkunjung sekaligus melihat peluang kerja di wilayah tersebut. Selama di Tambrauw, Edwin lebih banyak berada di lingkungan tenaga kesehatan dan tidak pernah bepergian sendiri.

Kronologi Penyerangan

Dikutip dari TribunSorong.com, Hamzah seorang analis kesehatan RSUD Fef yang selamat dari insiden berdarah di Kampung Jokba, Kabupaten Tambrauw, membeberkan kronologi kejadian yang menewaskan dua orang pada 16 Maret 2026. Kesaksian ini disampaikan di hadapan Wakil Gubernur Papua Barat Daya di RSUD Sele Be Solu, Rabu (18/3/2026).

Hamzah menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat ia dan tiga rekannya menempuh perjalanan menuju Kota Sorong menggunakan tiga sepeda motor. Sekitar pukul 12.00 WIT, saat mendekati lokasi kejadian, mereka dikejutkan oleh suara letusan senjata api dari jarak sekitar 30 meter. “Suara tembakan itu membuat kami panik dan spontan memacu kendaraan lebih cepat,” ungkap Hamzah.

Nahas, saat memasuki tikungan, mereka dihadang oleh sekelompok orang bersenjata tajam. Pelaku yang diperkirakan berjumlah lima orang tersebut membawa tombak serta parang dan langsung menyerang. “Kondisi ini membuat rombongan hilang kendali,” katanya.

Korban Yeremia Lobo yang berada di posisi depan mengerem mendadak hingga terjatuh. Hamzah yang berada tepat di belakangnya tidak sempat menghindar dan menabrak motor Yeremia hingga ia ikut terpental. “Saya langsung bangkit dan lari menyelamatkan diri, diikuti rekan saya Robby namun, dua teman kami tidak sempat lolos,” tambahnya.

Insiden tragis ini merenggut nyawa tenaga kesehatan Yeremia Lobo dan seorang warga sipil asal NTT bernama Edwin Bido. Hamzah mengaku masih mengalami trauma mendalam dan belum siap kembali bertugas. Ia mendesak aparat penegak hukum segera menangkap para pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Penghormatan atas Jenazah Edwin

Sementara itu, ketika iring-iringan mobil penjemputan jenazah Yohanes Edwintus Bido alias Edwin (24) memasuki pintu masuk Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, di kiri kanan jalan terlihat ratusan warga berdiri di kiri kanan jalan.

Yohanes Edwintus Bido alias Edwin menjadi korban penyerangan Orang Tak Dikenal (OTK) di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya beberapa waktu lalu. Tua muda, laki-laki maupun perempuan menangis ketika mobil ambulans yang mengangkut jenazah Yohanes Edwintus Bido alias Edwin melintas di hadapan mereka.

Bukan hanya penerimaan di kampung halamannya, namun sejak tiba di Bandara H Hasan Aroeboesman Ende, ratusan keluarga serta rekan-rekannya bahkan ikut menjemput. Ketika memasuki jalan rabat menuju rumah duka, ratusan warga, keluarga serta rekan-rekan korban sudah menunggu di sekitar rumah duka yang tepat berada di tengah kampung Nduaria.

Air mata dari semua warga yang hadir tak bisa terbendung saat mobil ambulans tiba di rumah duka. Ibu kandung serta saudara/i Edwin yang menerima sosok Edwin yang terbujur kaku, pecahan air mata, syok seolah tak percaya apa yang sudah terjadi. Mereka sangat terpukul dengan kejadian itu sehingga belum bisa diwawancarai.

“Adik saya ini ternyata orang baik, kita lihat saja perjalanan kita dari Kota Ende, sampai ke kampung ini, itu luar biasa, itu membuktikan bahwa adik saya ini dalam kesehariannya baik dengan semua orang,” ujar Wilhelmus Hermanto Lose saat memberikan sambutan mewakili keluarga di rumah duka di Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Kamis (19/3/2026).

Rencananya, jenazah Yohanes Edwintus Bido alias Edwin dimakamkan pada Jumat (20/3/2026) siang di Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *