Soal dan Jawaban B Indonesia Kelas 10 Halaman 126-128 Bab 5

Tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 10 SMA

Pada buku Cerdas Cergas Bahasa Indonesia kelas 10 yang ditulis oleh Fadillah Tri Aulia dan Sefi Indra Gumilar, diterbitkan oleh Pusat Kurikulum Perbukuan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, terdapat tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia di halaman 126, 127, dan 128. Materi dalam Bab 5 membahas tentang inspirasi, motivasi, dan pelajaran hidup dari tokoh, yang tidak hanya berasal dari teks biografi, tetapi juga dari teks rekon.

Siswa diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan mengenai nilai-nilai dalam Hikayat Bayan Budiman dan kisah inspiratif tokoh kepahlawanan Bung Hatta. Sebelum melihat kunci jawaban, siswa harus mengerjakan tugas secara mandiri terlebih dahulu. Kunci jawaban berikut ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi belajar.


Tugas: Analisis Nilai-Nilai dalam Hikayat Bayan Budiman

Bacalah hasil analisis nilai-nilai yang terkandung dalam Hikayat Bayan Budiman. Kemudian, analisislah apakah nilai-nilai tersebut masih sesuai dengan kehidupan saat ini.

Kunci Jawaban

  1. Nilai Agama dan Edukasi
  2. Kutipan teks hikayat: “Setelah umurnya Khojan Maimun lima tahun, maka diserahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru sehingga sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun.”
  3. Analisis kandungan nilai: Hingga saat ini masyarakat masih memegang teguh nilai edukasi dengan memberikan pendidikan ilmu umum dan ilmu agama bagi anak-anaknya.

  4. Nilai Agama

  5. Kutipan teks hikayat: “Maka bernasihatlah ditentang perbuatannya yang melanggar aturan Allah Swt.”
  6. Analisis kandungan nilai: Nilai agama untuk saling mengajak dalam berbuat kebaikan dan mencegah keburukan masih dilakukan.

  7. Nilai Budaya

  8. Kutipan teks hikayat: “Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu minta izinlah dia kepada istrinya.”
  9. Analisis kandungan nilai: Di masyarakat saat ini suami atau istri berpamitan kepada pasangannya ketika hendak pergi atau bekerja masih tetap dilakukan.

  10. Nilai Moral

  11. Kutipan teks hikayat: “Maka diberilah ia cerita-cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam. Burung tersebut bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatannya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.”
  12. Analisis kandungan nilai: Keharusan untuk bertaubat, menghentikan perbuatan maksiat dan dosa sebagai nilai agama masih berlaku hingga saat ini.

  13. Nilai Sosial

  14. Kutipan hikayat: “Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi isteri yang curang. Dia juga dapat menjaga nama baik tuannya serta menyelamatkan rumah tangga tuannya.”
  15. Analisis kandungan nilai: Tindakan menasihati dan mencegah orang lain berbuat dosa memang masih dipegang teguh oleh masyarakat. Namun, dalam kehidupan masyarakat perkotaan kepedulian ini semakin menghilang.

Tugas: Menyusun Tesis dan Mengembangkan ke dalam Teks Eksposisi

Buatlah tesis berdasarkan nilai-nilai dalam hikayat yang masih relevan dengan kehidupan saat ini. Selanjutnya, kembangkanlah tesis tersebut ke dalam teks eksposisi.

Kunci Jawaban

  1. Nilai dalam Hikayat: Terdapat nilai agama untuk berdoa kepada Tuhan dan berusaha agar memiliki anak.
  2. Tesis/pernyataan sikap: Manusia wajib menempatkan agama dalam kehidupannya, termasuk ketika mengharapkan keinginannya bisa tercapai.
  3. Pengembangan dalam teks eksposisi:
    Manusia adalah hamba Tuhan di muka bumi. Ia wajib mengikuti kehendak dan ketentuan sang Pencipta. Apabila Tuhan menghendaki manusia mendapat rezeki, memiliki keturunan atau sebaliknya, maka terjadilah. Namun demikian, apabila manusia sudah berusaha keras untuk memiliki keturunan, namun belum terwujud, langkah yang seharusnya dilakukan manusia tersebut adalah berdoa dan pasrah kepada Tuhan. Bukan hanya pada hikayat, pada zaman sekarang pun manusia harus bekerja keras untuk memperoleh apa yang dicita-citakannya, dan pada saat yang sama ia harus rajin berdoa kepada Tuhan.

  4. Nilai dalam Hikayat: Terdapat nilai agama dan edukasi yaitu ketika Khojan Maimun mengaji.

  5. Tesis/pernyataan sikap: Hingga saat ini, pendidikan merupakan hal yang sangat penting.
  6. Pengembangan dalam teks eksposisi:
    Pendidikan yang dilaksanakan oleh Khoja Maimun dengan mengaji di berbagai tempat hingga usia lima belas tahun merupakan upaya dari orang tua Khoja Maimun demi kesuksesan anaknya. Pada zaman sekarang, ada orangtua yang mengirimkan anaknya ke tempat pendidikan agama (pesantren), sekaligus memberi bekal ilmu modern kepada anak-anak mereka.

  7. Nilai dalam Hikayat: Terdapat nilai budaya yaitu perjodohan.

  8. Tesis/ pernyataan sikap: Meskipun kebudayan modern membebaskan manusia bertingkah semaunya, namun perjodohan masih relevan dilakukan pada zaman sekarang.
  9. Pengembangan dalam teks eksposisi:
    Meskipun kebudayaan modern membebaskan manusia sehingga bisa bertingkah semaunya, namun perjodohan masih relevan dilakukan pada zaman sekarang. Hal tersebut karena bangsa Indonesia masih memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat dan sangat menghormati orang tua. Dengan demikian, orangtua akan memilihkan yang terbaik bagi anaknya, salah satunya melalui perjodohan.

Tugas: Kisah Inspiratif Bung Hatta

Bagi pejabat di Indonesia, kisah kejujuran Mohammad Hatta mungkin adalah sebuah legenda. Bung Hatta, yang pernah menduduki jabatan sangat penting di republik ini, adalah sosok pria yang dikenal sederhana dan tidak mudah tergoda harta. Bahkan, biaya perjalanan dinasnya pun ia kembalikan ke negara ketika mengetahui ada kelebihan uang saku.

Cerita ini berawal dari tuturan I Wangsa Widjaja, sekretaris pribadi sang wakil presiden (wapres) pertama tersebut. Dalam buku yang berjudul Mengenang Bung Hatta, Wangsa, pria yang puluhan tahun mendampingi Bung Hatta, meriwayatkan jika bosnya selalu mengembalikan kelebihan uang negara yang diberikan sebagai anggaran perjalanan dinas.

Pada tahun 1970, ketika sudah tidak lagi menjadi wapres, Bung Hatta diundang ke Irian Jaya—sekarang bernama Papua. Saat diundang ke Irian Jaya, Bung Hatta juga meninjau tempat dimana ia pernah dibuang pada masa kolonial Belanda. Drama pun terjadi ketika Bung Hatta disodori amplop berisi “uang saku” setelah ia dan rombongan tiba di Irian.

“Surat apa ini?” tanya Bung Hatta.

Dijawab oleh Sumarno, menteri koordinator keuangan saat itu yang mengatur kunjungannya, “Bukan surat, Bung. Uang, uang saku untuk perjalanan Bung Hatta di sini.”

“Uang apa lagi? Bukankah semua ongkos perjalanan saya sudah ditanggung pemerintah? Dapat mengunjungi daerah Irian ini saja saya sudah harus bersyukur. Saya benar-benar tidak mengerti uang apa lagi ini?”

“Lho, Bung. Ini uang dari pemerintah, termasuk dalam biaya perjalanan Bung Hatta dan rombongan,” kata Sumarno mencoba meyakinkan Bung Hatta.

“Tidak! Itu uang rakyat. Saya tidak mau terima. Kembalikan!” kata Bung Hatta menolak amplop yang disodorkan kepadanya.

Rupanya Sumarno ingin meyakinkan Bung Hatta bahwa dia dan semua rombongan ke Irian dianggap sebagai pejabat. Pada masa itu, pejabat diberi anggaran perjalanan, termasuk uang sakunya. Tidak mungkin dikembalikan lagi.

Setelah terdiam sebentar Bung Hatta berkata,

“Maaf, Saudara. Saya tidak mau menerima uang itu. Sekali lagi saya tegaskan! Bagaimanapun itu uang rakyat dan harus dikembalikan pada rakyat!”

Ketika mengunjungi Tanah Merah, tempat ia diasingkan, setelah memberikan wejangan kepada masyarakat Digul, ia memanggil Sumarno.

“Amplop yang berisi uang tempo hari apa masih Saudara simpan?” tanya Bung Hatta.

Dijawab, “Masih Bung.”

Lalu, oleh Bung Hatta amplop dan seluruh isinya diserahkan kepada pemuka masyarakat di Digul.

“Ini uang berasal dari rakyat dan telah kembali ke tangan rakyat,” kata Bung Hatta menegaskan.

Cerita Bung Hatta menolak menerima uang lebih berlanjut satu tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1971 ketika ia pergi berobat ke Belanda. Saat tiba di Indonesia, Bung Hatta bertanya kepada Wangsa tentang catatan penerimaan dan pemakaian uang selama perjalanan. Ketika mengetahui ada sisa uang, ia memerintahkan Wangsa mengembalikan kepada negara dan mengucapkan terima kasih kepada presiden.

Wangsa pun bergegas mengembalikan uang ke Sekretariat Negara (Sekneg). Namun, Wangsa malah dijadikan bahan tertawaan di sana. Alasannya, uang yang sudah dikeluarkan dianggap sah menjadi milik orang yang dibiayai. Apalagi yang dibiayai adalah mantan wakil presiden yang ditanggung negara.


Kunci Jawaban Pertanyaan

  1. Mengapa kisah kejujuran Mohammad Hatta dianggap legenda oleh para pejabat?
    Karena Bung Hatta sangat jujur dan tegas dalam menggunakan uang negara. Ia menolak uang yang bukan haknya dan bahkan mengembalikan sisa uang perjalanan kepada negara. Sikap seperti ini sangat jarang terjadi sehingga dianggap sebagai legenda.

  2. Apa yang dimaksud “uang saku” dalam teks?
    Uang saku adalah uang tambahan yang diberikan oleh pemerintah kepada pejabat atau rombongan sebagai bagian dari biaya perjalanan dinas.

  3. Apa alasan Sumarno memberikan amplop berisi uang kepada Mohammad Hatta?
    Alasan Sumarno adalah karena uang tersebut merupakan bagian dari biaya perjalanan dinas yang diberikan pemerintah kepada Bung Hatta dan rombongannya, termasuk uang saku pejabat.

  4. Apa alasan Mohammad Hatta menolak uang pemberian Sumarno?
    Karena menurut Bung Hatta uang tersebut adalah uang rakyat. Ia merasa tidak berhak menerimanya jika tidak benar-benar diperlukan dan lebih baik uang itu dikembalikan kepada rakyat.

  5. Apa bukti bahwa Mohammad Hatta seorang yang sederhana dan tidak mudah tergoda harta?
    Bukti:

  6. Ia menolak uang tambahan dari pemerintah.
  7. Ia memerintahkan agar sisa uang perjalanan dikembalikan kepada negara.
  8. Ia bahkan memberikan uang tersebut kepada masyarakat Digul karena menganggap itu milik rakyat.

  9. Apakah keputusan memberikan uang kepada pemuka masyarakat Digul sudah tepat?
    Menurut pendapat saya, keputusan tersebut tepat karena Bung Hatta ingin mengembalikan uang rakyat kepada rakyat yang membutuhkan sehingga uang itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

  10. Apa maksud pernyataan bahwa uang negara adalah uang rakyat?
    Artinya uang negara berasal dari rakyat dan digunakan untuk kepentingan rakyat. Karena itu pejabat tidak boleh menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

  11. Bagaimana watak atau karakter Mohammad Hatta dalam teks?
    Karakter Bung Hatta adalah jujur, sederhana, bertanggung jawab, tegas, dan memiliki integritas tinggi terhadap penggunaan uang negara.

  12. Apa pesan atau amanat dalam teks tersebut?
    Pesan yang dapat diambil adalah kita harus bersikap jujur, tidak menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi, hidup sederhana, dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat.

  13. Apakah kalian setuju dengan sikap Bung Hatta?
    Setuju, karena sikap Bung Hatta menunjukkan kejujuran, tanggung jawab, dan integritas yang sangat baik. Sikap tersebut patut diteladani oleh para pemimpin dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *