Budaya  

Jejak Keagungan Habib Husein, Pedagang dan Tabib yang Memperkuat Islam di Ampenan

Sejarah dan Makna Makam Bintaro di Lombok

Makam Bintaro merupakan salah satu situs religi yang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Lombok. Lokasinya berada di Kelurahan Bintaro, yang terletak di kawasan pesisir Ampenan. Meskipun terletak di tengah keramaian kota, makam ini menjadi tempat peristirahatan terakhir dari Habib Husein bin Umar Al Mashyur, seorang ulama yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah tersebut.

Hingga kini, makam ini masih menjadi destinasi utama bagi para peziarah dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri. Khususnya pada perayaan Lebaran Ketupat, jumlah pengunjung meningkat secara signifikan.

Awal Mula Keberadaan Makam Bintaro

Sejarah makam ini bermula pada pertengahan abad ke-19. Habib Husein bin Umar Al Mashyur, yang dipercayai sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAW, meninggalkan tanah airnya di Hadramaut, Yaman, sekitar tahun 1850-an. Sebelum menetap di Lombok pada tahun 1865, ia sempat tinggal beberapa tahun di Malaysia untuk menyebarkan ajaran Islam di sana.

Ketika tiba di Lombok, Habib Husein menemukan masyarakat yang belum sepenuhnya memahami ajaran agama Islam. Ia kemudian memulai dakwahnya dengan pendekatan yang sangat personal. Menurut penuturan Salim bin Karamah Bahweres, penjaga makam generasi ketujuh, Habib Husein berdakwah sambil berdagang dan menjadi tabib di Ampenan.

“Mereka (Habib Husein dan muridnya) ini syiar dan dakwah dari pintu ke pintu atau door to door di Ampenan. Mereka ini adalah seorang pedagang dan dia pun seorang tabib juga,” ucap Abah Salim saat menjelaskan dedikasi sang ulama di Lombok.

Kisah Pengobatan Putri Raja Lombok

Salah satu peristiwa yang paling dikenang oleh masyarakat adalah saat Habib Husein berhasil menyembuhkan putri dari penguasa Lombok saat itu, yakni Anak Agung. Sang putri raja menderita sakit parah yang tidak kunjung sembuh meski telah diobati oleh banyak dukun dan dokter. Akhirnya, raja menggelar sayembara untuk mencari orang yang mampu menyembuhkannya.

Habib Husein berhasil menyembuhkan sang putri atas izin Allah SWT. Namun, ketika ditawari hadiah untuk menikahi putri raja, ia menolak dengan halus karena sudah memiliki istri. Alih-alih harta atau kekuasaan, Habib pada saat itu justru meminta sebidang tanah untuk pemakaman.

“Saya tidak minta dinikahkan. Saya minta tanah untuk pemakaman badan saya dan keluarga saya,” ujar Abah Salim menuturkan permintaan Habib Husein kala itu.

Raja pun memberikan lahan yang membentang dari pinggir jalan Makam Bintaro saat ini hingga ke bibir pantai Bintaro. Tanah pemberian raja tersebut kemudian dikukuhkan oleh Habib Husein sebagai lahan pemakaman bagi keluarganya dan warga keturunan Arab secara umum yang datang dan singgah di tanah Ampenan.

Habib berpesan bahwa siapa pun orang Arab yang ingin dimakamkan di sana, diperbolehkan. Hingga kini, amanah tersebut tetap terjaga, di mana makam tersebut dikelola secara turun-temurun oleh keluarga dari Abah Salim sendiri.

Peran Makam Bintaro dalam Kehidupan Religi Masyarakat

Kini, Makam Bintaro telah menjadi destinasi wisata religi utama di Lombok. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari lokal Ampenan, tetapi juga dari Kalimantan, Sulawesi, Jakarta, hingga Papua, bahkan juga datang dari luar negeri seperti Malaysia hingga tanah kelahiran sang ulama yakni di Yaman.

Keramaian memuncak terutama menjelang musim haji, di mana ribuan orang datang untuk berziarah. Kepribadian Habib Husein yang ramah, sopan, dan bersih semasa hidupnya meninggalkan kesan mendalam yang terus diceritakan lintas generasi.

“Beliau (Habib Husein) ini adalah orangnya ramah, sopan, bersih, tidak mengenal itu lelaki itu perempuan, itu anak-anak maupun orang tua, dia selalu ramah,” pungkas Abah Salim mengenang sosok sang Waliullah ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *