Bisnis  

Kinerja Melesat 553% Emiten EBT TOBA, ARKO hingga ARCI di 2025



Perusahaan-perusahaan besar di Indonesia kini semakin memperkuat posisi mereka dalam sektor energi baru terbarukan (EBT). Momentum ini dimanfaatkan oleh berbagai korporasi lintas sektor untuk mengamankan pangsa pasar di industri energi hijau yang berkembang pesat. Salah satu faktor pendorongnya adalah rencana Danantara Investment Management (DIM) untuk menjajaki peluang investasi pada sejumlah proyek listrik berbasis EBT, yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan dampak sosial berkelanjutan. Selain itu, langkah ini juga menjadi strategi untuk menjaga daya saing bisnis di tengah tekanan dekarbonisasi global.

Berikut beberapa perusahaan yang lebih agresif dalam menggarap proyek EBT:

  • PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)

    TOBA sedang mengalami transformasi bisnis dari perusahaan berbasis batu bara menuju pemain energi hijau regional. Transformasi ini menjadi pijakan penting dalam pelaksanaan peta jalan dekarbonisasi yang telah diluncurkan sejak 2021. Presiden Direktur TBS Energi Utama Dicky Yordan menyatakan bahwa perubahan identitas bukan sekadar pergantian nama, melainkan simbol perjalanan panjang perusahaan dalam membangun pondasi bisnis hijau yang memberikan nilai ekonomi dan sosial. Di sisi lain, saham TOBA kini berada di level Rp 740 atau turun 2,63% pada penutupan perdagangan saham 2025, dengan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 6,11 triliun. Secara year to date (ytd), saham TOBA telah naik 85,93%, akan tetapi turun 11,38% dalam sebulan terakhir.

  • PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)

    ADRO kini berfokus pada bisnis mineral dan energi terbarukan setelah memisahkan bisnis batu baranya. Perusahaan menjalankan bisnis energi terbarukan melalui anak usahanya, PT Alamtri Renewables Indonesia. Proyek yang tengah dan akan digarap mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kalimantan Tengah serta pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan industri Kalimantan Utara. Saat ini, saham ADRO kini berada di level Rp 1.810 atau turun 6,94% pada penutupan perdagangan saham 2025, dengan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 53,20 triliun. Secara year to date (ytd), saham ADRO merosot 25,51% dan stagnan dalam sebulan terakhir.

  • PT Arkora Hydro Tbk (ARKO)

    Harga saham ARKO naik 546,74% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Pada 2 Januari, harga saham ARKO Rp 915 per lembar. Kini harganya menjadi Rp 5.950 pada penutupan perdagangan saham 2025, dengan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 17,42 triliun. ARKO tengah membangun dua PLTA baru, yaitu Kukusan II di Tanggamus, Lampung dan Tomoni di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Untuk kedepannya, ARKO telah menempatkan Proyek Pongbembe di Tana Toraja dalam daftar pipeline.

  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)

    BREN berencana meningkatkan portofolio bisnisnya di bidang pengembangan pembangkit panas bumi (geothermal) mencapai 910,3 megawatt (MW) dan pembangkit listrik tenaga angin (wind farm) sebesar 78,75 MW. Direktur Utama BREN Tan Hendra Soetjipto mengatakan bahwa kedua lini bisnis ini masih akan menjadi fokus utama perseroan dalam jangka menengah dan panjang. BREN membidik total kapasitas pembangkit listrik mencapai 2.300 MW pada 2032 melalui empat proyek strategis yang sedang dieksekusi.

  • PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)

    ARCI bergeliat masuk ke bisnis pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal. Dalam aksi terbaru, Archi Indonesia membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan PT Ormat Geothermal Indonesia bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG). Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengeboran eksplorasi, perancangan, pengadaan, pembiayaan, konstruksi, pengujian, komisioning, hingga pengelolaan dan pemeliharaan.

  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)

    DSSA terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) hingga memperkuat rantai pasok nasional berbasis teknologi rendah karbon. Melalui anak usahanya, DSSA menggandeng PT FirstGen Geothermal Indonesia mempercepat pengembangan portofolio sumber daya panas bumi dengan potensi kapasitas awal mencapai 440 MW. Selain itu, DSSA juga membangun pabrik sel dan panel surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah, yang kini telah mulai beroperasi.

  • PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)

    CDIA menggarap proyek energi terbarukan melalui anak usahanya, PT Krakatau Chandra Energi (KCE). KCE mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru berkapasitas 4,7 megawatt-peak (MWp). Fasilitas tersebut telah mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 17 November 2025, lebih cepat satu minggu dari target awal. PLTS ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon hingga 5.086,74 ton CO?eq per tahun.



Seiring perkembangan industri energi hijau, perusahaan-perusahaan ini terus berkomitmen untuk memperkuat posisi mereka dalam sektor EBT. Mereka tidak hanya berupaya meningkatkan kinerja keuangan, tetapi juga berkontribusi pada transisi energi nasional dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan inovasi dan strategi yang tepat, para pemain ini siap menghadapi tantangan di masa depan.

Exit mobile version