Opini  

Ketika Kekuasaan Menjadi Hak untuk Menghakimi

Refleksi tentang Hasrat Menjatuhkan, Ilusi Mayoritas, dan Kekerasan Narasi dalam Relasi Sosial

Dalam sebuah percakapan yang terdengar santai, seseorang memulai dengan nada yakin: “Banyak orang juga melihat hal yang sama.” Tidak ada nama, tidak ada sumber, tidak ada konteks. Namun kalimat itu cukup untuk mengubah arah pembicaraan. Perlahan, isu berubah menjadi vonis, dan seseorang yang tidak hadir mulai dipreteli reputasinya.

Dalam obrolan lain, pola yang sama terulang. Begitu muncul persoalan, kesimpulan datang lebih cepat daripada klarifikasi. Orang yang dibenci langsung dituding tidak kompeten, tidak layak, bermasalah. Yang berbicara seolah-olah berada di ruang evaluasi resmi—padahal ia berada di luar struktur, di luar kewenangan, bahkan di luar tanggung jawab organisasi.

Fenomena ini kian jamak: orang-orang yang gemar menghasut dengan mengatasnamakan suara kolektif, menjatuhkan individu tertentu lewat narasi berantai, dan memosisikan diri seakan memiliki mandat moral maupun struktural untuk menilai orang lain.

Hasutan dan Ilusi Mayoritas

Dalam psikologi sosial, kecenderungan ini dikenal sebagai false consensus effect—yakni ilusi bahwa pandangan pribadi dianggap mewakili pandangan umum. Ross, Greene, dan House menjelaskan bahwa individu cenderung melebihkan sejauh mana orang lain berbagi keyakinannya, sehingga opini pribadi terasa objektif dan sah secara sosial (Ross et al., 1977).

Kalimat “banyak orang bilang” bukan sekadar ungkapan, melainkan strategi komunikasi. Ia berfungsi sebagai shortcut legitimasi. Dengan mengatasnamakan mayoritas, seseorang membebaskan diri dari kewajiban membuktikan klaimnya. Seolah-olah, jika banyak yang sepakat, maka kebenaran tidak lagi perlu diuji.

Padahal, sebagaimana diingatkan Hannah Arendt, kejahatan kerap bekerja bukan melalui niat jahat yang besar, melainkan melalui normalisasi cara berpikir yang tidak lagi kritis. “Ketidakmampuan berpikir,” tulis Arendt, “membuka jalan bagi kejahatan yang tampak biasa” (Arendt, 1963). Hasutan menjadi berbahaya justru karena ia terdengar wajar.

Prasangka, Bias, dan Vonis Instan

Ciri lain dari penghasut adalah kegemarannya menarik kesimpulan tanpa proses. Begitu muncul isu, pikirannya langsung tertuju pada satu nama yang telah lama dibenci. Dalam psikologi kognitif, ini disebut confirmation bias: kecenderungan mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang menguatkan keyakinan awal (Nickerson, 1998).

Setiap peristiwa dibaca sebagai bukti tambahan. Setiap kata dipelintir agar sesuai prasangka. Klarifikasi tidak dicari karena dianggap tidak relevan. Dalam situasi ini, penilaian bukan lagi hasil penyelidikan, melainkan pengulangan kebencian yang diberi baju rasional.

Filsuf Paul Ricoeur mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medan kekuasaan. Siapa yang menguasai narasi, menguasai persepsi. Ketika prasangka diulang sebagai cerita, ia perlahan berubah menjadi “kebenaran sosial”.

Merasa Berwenang Tanpa Mandat

Yang paling problematik, penghasut sering berbicara seolah ia memiliki otoritas formal. Ia menilai kompetensi, menghakimi kinerja, bahkan merekomendasikan pengucilan. Padahal, ia tidak berada dalam struktur organisasi, tidak memiliki mandat, dan tidak menanggung konsekuensi dari penilaiannya.

Dalam etika sosial, ini dapat dibaca sebagai moral overreach: melampaui batas peran diri dan mengambil posisi hakim tanpa legitimasi. Max Weber menegaskan bahwa otoritas selalu membutuhkan legitimasi—entah legal, tradisional, atau karismatik. Tanpa itu, klaim kuasa hanyalah ilusi (Weber, 1947).

Hasrat ini sering berakar pada kebutuhan akan signifikansi. Dengan menjatuhkan orang lain, seseorang merasa penting. Dengan mengklaim kedekatan dengan pusat keputusan, ia memperoleh identitas semu sebagai “orang dalam”.

Kekerasan Simbolik dan Pembunuhan Karakter

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut praktik semacam ini sebagai kekerasan simbolik: kekerasan yang bekerja halus melalui bahasa, simbol, dan legitimasi sosial (Bourdieu, 1991). Tidak ada pukulan, tidak ada sanksi resmi, tetapi reputasi runtuh dan martabat tergerus.

Dalam banyak organisasi, pembunuhan karakter terjadi bukan lewat laporan resmi, melainkan melalui cerita yang beredar dari mulut ke mulut. Yang paling berbahaya, korban sering tidak tahu siapa yang memulai, atau bagaimana membela diri.

Kekerasan ini sulit dilawan karena selalu bisa dibantah: “Saya hanya menyampaikan apa yang beredar.” Tanggung jawab menguap di antara kata-kata.

Rasionalisasi Moral dan Nurani yang Tenang

Penghasut jarang melihat dirinya sebagai pelaku kerusakan sosial. Ia merasa sedang peduli, menjaga organisasi, atau melindungi pimpinan. Psikologi menyebut mekanisme ini sebagai moral disengagement: kemampuan memisahkan tindakan merugikan dari rasa bersalah (Bandura, 1999).

Dengan mengatasnamakan kebaikan bersama, nurani menjadi tenang. Dengan membawa “banyak orang”, tanggung jawab personal menghilang. Yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa dirinya berada di pihak yang benar.

Padahal, sebagaimana ditekankan Emmanuel Levinas, etika justru lahir ketika kita berhadapan dengan wajah sesama dan menahan diri untuk tidak mereduksinya menjadi objek penilaian (Levinas, 1969).

Penutup: Menolak Hasutan, Merawat Martabat

Fenomena hasutan mengajak kita bercermin. Apakah kita sungguh mencari kebenaran, atau sekadar pembenaran? Apakah kita berbicara untuk memperbaiki, atau untuk menjatuhkan?

Tidak semua suara lantang memiliki otoritas moral. Tidak semua klaim kolektif mencerminkan kenyataan. Kadang, yang terdengar seperti suara banyak orang hanyalah gema dari satu prasangka yang terus diulang.

Di tengah budaya cerita yang mudah melukai, mungkin keberanian terbesar hari ini adalah memilih berhenti sejenak—memeriksa fakta, membuka ruang klarifikasi, dan menolak ikut serta dalam narasi yang merusak martabat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *