Bisnis  

Keuangan di Balik Kehidupan Influencer



Mengapa influencer mikro dan nano menjadi pilihan utama brand global?

Menurut laporan dari Influencer Marketing Hub, brand global semakin beralih anggaran promosi ke micro dan nano influencer. Alasannya adalah karena tingkat engagement mereka lebih stabil dibandingkan influencer dengan jumlah pengikut besar. Dengan kata lain, potensi keterlibatan dari nano dan micro influencer masih terus dipertimbangkan karena dianggap mampu menciptakan interaksi yang lebih bermakna, jujur, efektif, relevan, dan hemat biaya.

Ada banyak hal yang menarik dalam dunia influencer. Misalnya, sering kali saya menerima pesan langsung (DM) yang mengatakan, “Seru banget bisa treatment di ZAP tiap bulan gratis.” Sebenarnya, tidak sepenuhnya gratis, karena tukarannya adalah konten yang saya hasilkan. Atau ada juga yang berkata, “Enak banget dapet produk dibayar pula,” dengan nada-nada sejenis.

Banyak orang penasaran bagaimana cara menghasilkan uang dari menjadi seorang influencer. Hal ini sering ditanyakan oleh peserta kelas coaching Kompasianival 2024 bertajuk How to Monitize Your Content. Banyak yang bertanya soal tips dan trik, tetapi tidak ada yang bertanya tentang kehidupan finansial di baliknya.

Jika Anda sedang memulai karier sebagai influencer dan sudah mendapatkan beberapa client, lalu tergoda untuk serius dan meninggalkan pekerjaan 9-5 yang selama ini memberikan stabilitas finansial, maka catatan awal tahun ini saya tulis khusus untuk Anda.

Finansial di balik gemerlap hidup influencer

Hasil riset terbaru yang dilakukan Tirto bersama Jakpat pada 1 Juli 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 66,48% responden, yang berusia 16-45 tahun, sangat ingin dan tertarik menjadi seorang influencer. Mayoritas dari mereka adalah anak muda berusia 20-25 tahun.

Kehidupan menjadi seorang influencer memang terlihat menyenangkan. Anda akan menjadi orang pertama yang tahu tentang produk baru, memiliki privilege untuk menikmati produk atau jasa yang belum diketahui orang lain, feed konten tampak menarik seperti etalase, dan bahkan dibayar. Siapa yang tidak mau?

Masalahnya adalah soal pembayaran yang kadang-kadang sangat mengejutkan. Ini juga berlaku bagi Anda yang ingin menjadi full time Blogger.

Dari pengalaman saya, ada brand yang bekerja sama dengan komunitas yang langsung menunaikan pembayaran pasca tugas diselesaikan oleh influencer atau Blogger. Tapi ada juga yang melakukan pembayaran dengan durasi waktu yang ditentukan secara sepihak oleh brand.

Sebagai seorang influencer, Anda sebenarnya punya pilihan untuk menerima atau menolak tawaran kerjasama tersebut jika dirasa pembayarannya terlalu lama. Namun atas nama portofolio, biasanya influencer baik nano atau micro akan tetap memutuskan menerima tawaran tersebut.

Beberapa Term of Payment (TOP) yang pernah saya terima antara lain: H+1 pasca pengerjaan, H+14 hari kerja, H+30 hari kerja, H+45 hari kerja, H+60 hari kerja, termasuk tidak ada info sama sekali.

Bagaimana bisa tidak ada info tapi tetap diterima? Jika dalam kasus saya, client lama yang repeat order dan kepercayaan yang mendasari terjalinnya kerja sama. Jika saya masih baru, saya akan terima untuk menambah portofolio.

Yang paling parah yang pernah saya alami adalah, kerja sama berjalan Maret, pembayaran dilakukan di akhir Desember. Ada juga kasus yang mundurnya pembayaran tanpa pemberitahuan. Kasus lainnya, ada yang menjanjikan TOP 14 hari, sebulan baru dibayarkan. Macam-macam bentuk tantangannya.

Saya tidak akan bicara dari sisi brand karena mungkin perusahaan memiliki aturan sendiri soal pola pembayaran kerja sama dengan pihak lain. Meski saya pribadi sangat berharap topik ini jadi bahasan yang cukup serius untuk didiskusikan oleh mereka yang punya kewenangan dalam menentukan aturan.

Yang ingin saya tekankan adalah, ada tantangan finansial di balik gemerlap hidup influencer yang mungkin Anda belum tahu selama ini. Anda yang biasanya mendapatkan penghasilan sekali sebulan, harus menunggu 45-60 hari kerja untuk nominal yang tidak seberapa.

Mengapa tidak seberapa? Umumnya perhitungan biaya untuk influencer itu berdasarkan jumlah followers nano dan micro influencer. Nano followers adalah mereka dengan pengikut di bawah 10.000 dan micro influencer dengan pengikut 10.000 hingga 100.000. Semakin kecil jumlah followersnya, semakin murah pula harganya. Atau tergantung dengan kepiawaian dalam tawar menawar harga yang bisa dilakukan oleh influencer tersebut.

Kalau clientnya banyak sih oke oke saja, sekali invoice cair, totalnya banyak. Tapi kalau masih baru merintis, dan hanya punya satu dua client saja, menunggu nominal yang tidak seberapa itu kadang-kadang terasa sangat menyebalkan.

Jadikan sebagai sampingan

Jika keuangan pribadi belum cukup kuat untuk menghadapi hari-hari pelik menjadi seorang influencer dengan bayaran yang kadang tanggalnya random, maka sebaiknya pertimbangkan kembali soal pembayaran di atas.

Ada dua kemungkinan yang akan terjadi bagi para influencer yang baru memulai, satu kali posting langsung viral dan jika beruntung langsung digandeng oleh brand, atau produksi ratusan konten namun tak kunjung dilirik calon client.

Tidak ada yang tahu. Karenanya, jika Anda tidak ingin tebak-tebakan soal kemungkinan penghasilan yang bisa Anda dapatkan dari ngonten, sebaiknya jangan resign dari pekerjaan 9-5. Jadikan Content Creator sebagai sampingan dan hiburan yang menghasilkan di sela-sela kerja harian Anda.

Keputusan ini jauh lebih aman sebab finansial Anda tetap berjalan bahkan bertambah dengan penghasilan tambahan dari konten yang Anda hasilkan.

Di artikel sebelumnya, saya bercerita bagaimana ngeblog dan ngonten pernah beberapa kali menghasilkan lebih dari gaji bulanan saya saat jadi pekerja kantoran. Dan itu menyenangkannya terasa berkali lipat. Tapi perjalanan untuk bisa di titik ini sangat panjang. Banyak trial and error yang hasilnya kebanyakan gagal.

Memang kehidupan jadi influencer tampak sangat menggoda untuk dicoba, namun – lagi – jika keuangan Anda belum begitu kuat untuk menopang kebutuhan hari-hari diri sendiri apalagi keluarga, maka jangan coba-coba meninggalkan penghasilan utama dan mengadu nasib di kehidupan digital yang tingkat keberhasilannya tidak ada yang tahu.

Selamat tahun baru ya, Kompasianer! Semoga tahun ini lebih ramah, lebih cuan, lebih sehat dan lebih penuh cinta kasih.

Exit mobile version