Ade Armando Sebut Ada Misi di Balik Candaan Pandji Pragiwaksono Soal Gibran, Pilpres 2029?

Komentar Ade Armando terhadap Komika Pandji Pragiwaksono

Ade Armando, seorang pegiat media sosial dan politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mengkritik materi komika Pandji Pragiwaksono yang sering menyentil nama Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai bahwa di balik ejekan dan sindiran yang disampaikan Pandji, terdapat agenda tertentu yang ingin ia sampaikan kepada publik.

Menurut Ade, Pandji tidak hanya sekali atau dua kali menyentil Gibran. Di berbagai kesempatan, termasuk saat Gibran resmi menjabat sebagai Wakil Presiden, Pandji sering kali menyampaikan kritik terhadapnya. Salah satu contohnya adalah saat ia membahas keputusan Gibran untuk maju sebagai Wakil Presiden. Pandji mengkritik bagaimana Mahkamah Konstitusi harus mengubah aturan agar Gibran bisa maju, bahkan menyindir bahwa Gibran terlalu buru-buru dan tidak sabar menunggu usianya yang belum cukup umur.

“Kenapa buru-buru? Kenapa harus mengubah aturan gitu? Nunggu aja, nunggu ulang tahun lagi aja beberapa kali, entar juga nyampai ke batas usia yang ditentukan. Jadi, kenapa harus buru-buru?” ujar Pandji dalam salah satu materinya. Ade menilai bahwa pandangan tersebut sangat merendahkan Gibran, meskipun sebenarnya ada alasan logis di balik keputusan itu.

Alasan di Balik Keputusan Gibran Maju Sebagai Wapres

Ade menjelaskan bahwa Gibran sebenarnya tidak begitu antusias untuk maju sebagai Wakil Presiden pada Pilpres 2024. Namun, Prabowo Subianto yang menjadi Presiden saat itu secara terus-menerus mendorong Gibran untuk maju. Menurut Ade, alasan utama adalah karena survei menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo paling tinggi jika Gibran menjadi wapres.

Selain itu, perubahan aturan yang memungkinkan Gibran maju bukanlah permintaan dari timnya sendiri. Perubahan tersebut lebih berkaitan dengan regulasi tentang kelayakan seseorang yang sudah pernah terpilih sebagai kepala daerah melalui pemilihan langsung oleh rakyat, untuk bisa menjadi calon presiden atau wakil presiden.

Program “Lapor Mas Wapres” dan Kritik Pandji

Salah satu program yang diluncurkan Gibran di awal masa pemerintahan Prabowo adalah “Lapor Mas Wapres”, yang memungkinkan masyarakat melaporkan ketidakberesan kerja pemerintah langsung ke Wakil Presiden melalui nomor WhatsApp tertentu. Pandji menilai bahwa tugas seperti ini seharusnya dijalankan oleh customer service, bukan oleh Wakil Presiden.

“Betapa malunya kita kalau wapres negara lain melihat kok di Indonesia seorang wapres bekerja sebagai customer service,” ujarnya. Ade menilai bahwa kritik ini justru menunjukkan kurangnya pemahaman Pandji terhadap pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan.

Menurut Ade, transparansi dan akuntabilitas adalah isu serius di Indonesia. Oleh karena itu, program Gibran dinilai sangat penting, meskipun tidak sepenuhnya berjalan sempurna. Ia menilai bahwa ada biaya yang terlalu mahal bagi mereka yang menjadi target pengawasan, itulah alasannya.

Ada Agenda Lain di Balik Kritik Pandji

Ade menilai bahwa Pandji terlalu “membenci” Gibran. Ia menduga bahwa di balik cemoohan dan ejekan Pandji, terdapat agenda terselubuk yang ingin ia sampaikan kepada publik. Ade menyoroti peran Pandji sebagai tim sukses Anies Baswedan dalam Pilpres 2024 lalu. Kini, Anies diperkirakan akan kembali maju dalam Pilpres 2029, dan popularitas Gibran semakin meningkat.

Dengan demikian, Ade mempertanyakan apakah ejekan Pandji terhadap Gibran adalah bagian dari propaganda hitam untuk mengurangi popularitas Gibran. Meskipun pertanyaan ini belum bisa dijawab, Ade menyarankan agar masyarakat menggunakan akal sehat untuk menilai situasi ini.


Exit mobile version