Tingkat pengangguran tertinggi di Jawa Barat terkait wilayah industri UMK paling besar

Paradox Investasi dan Pengangguran di Jawa Barat

Jawa Barat, yang dikenal sebagai provinsi dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia, masih menghadapi tantangan besar dalam mengurangi angka pengangguran. Meski memiliki kawasan industri yang luas dan upah minimum kabupaten/kota (UMK) tertinggi, tingkat pengangguran di wilayah ini tetap tinggi. Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks antara investasi dan kesempatan kerja.

Data Tingkat Pengangguran di Jawa Barat Tahun 2025

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran di Jawa Barat mencapai 6,77 persen pada tahun 2025/2026, meningkat dari 6,75 persen pada tahun 2024. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berkisar antara 4,8 hingga 5,3 persen. Dari 27 wilayah di Jawa Barat, Bekasi menjadi daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 8,78 persen. Meskipun Bekasi merupakan kawasan industri dengan UMK tinggi, banyak warga lokal tidak mampu memperoleh pekerjaan di sana.

Berikut adalah urutan tingkat pengangguran di Jawa Barat dari yang tertinggi hingga terendah:

  1. Bekasi – 8,78%
  2. Kota Cimahi – 8,75%
  3. Kota Sukabumi – 8,19%
  4. Karawang – 7,99%
  5. Kota Bogor – 7,95%
  6. Bogor – 7,69%
  7. Kuningan – 7,59%
  8. Purwakarta – 7,54%
  9. Kota Bekasi – 7,33%
  10. Sukabumi – 7,23%
  11. Kota Bandung – 7,22%
  12. Subang – 6,80%
  13. Bandung – 6,68%
  14. Bandung Barat – 6,60%
  15. Garut – 6,54%
  16. Kota Depok – 6,52%
  17. Indramayu – 6,47%
  18. Kota Tasikmalaya – 6,43%
  19. Cirebon – 6,42%
  20. Kota Cirebon – 6,41%
  21. Cianjur – 6,17%
  22. Sumedang – 6,08%
  23. Kota Banjar – 5,26%
  24. Ciamis – 4,08%
  25. Tasikmalaya – 3,69%
  26. Majalengka – 3,62%
  27. Pangandaran – 1,91%

Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengangguran

Beberapa faktor menyebabkan tingginya tingkat pengangguran meskipun Jawa Barat menduduki peringkat pertama dalam realisasi investasi. Pertama, populasi yang besar membuat jumlah angkatan kerja meningkat secara signifikan. Kedua, migrasi penduduk ke wilayah industri seperti Bekasi dan Cimahi menciptakan tekanan pada pasar tenaga kerja. Ketiga, otomasi industri semakin menggantikan peran tenaga manusia. Keempat, ketimpangan wilayah antara kawasan industri di utara/pusat Jabar dengan wilayah agraris/wisata di selatan juga berkontribusi pada masalah ini.

Investasi yang Tidak Terasa oleh Warga Lokal

Meski Jawa Barat berhasil meraih posisi pertama dalam realisasi investasi dengan total nilai Rp 296,8 triliun atau 15,4 persen dari total investasi nasional, banyak warga lokal belum merasakan manfaatnya. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan bahwa investasi tersebut harus benar-benar terserap menjadi lapangan kerja bagi masyarakat setempat, bukan hanya untuk pekerja ahli dari luar daerah.

Capaian Investasi di Jawa Barat

Investasi di Jawa Barat terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). PMA mencapai USD 9,2 miliar (16,3 persen), mengalahkan DKI Jakarta yang mendapat USD 6,0 miliar (10,6 persen). Sementara itu, PMDN mencapai Rp 148,8 triliun (14,5 persen), dengan DKI Jakarta berada di posisi pertama dengan Rp 176,3 triliun (17,0 persen).

Harapan untuk Masa Depan

Gubernur Dedi Mulyadi berharap tingginya investasi dapat menjadi peluang untuk menyerap tenaga kerja, terutama bagi warga Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa seluruh investasi harus dijaga agar bisa meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat.

Daftar 5 Provinsi dengan Investasi Tertinggi

Berikut ini daftar 5 provinsi yang mendapatkan investasi tertinggi di Indonesia:

  1. Jawa Barat – Rp 296,8 triliun (15,4 persen)
  2. DKI Jakarta – Rp 270,9 triliun (14,0 persen)
  3. Jawa Timur – Rp 145,1 triliun (7,5 persen)
  4. Banten – Rp 130,2 triliun (6,7 persen)
  5. Sulawesi Tengah – Rp 127,2 triliun (6,6 persen)


Exit mobile version