Gunung Marapi Sumbar Alami Deflasi, Ahli Pastikan Tidak Ada Magma Baru Masuk

Kondisi Terkini Gunung Marapi Sumbar: Deflasi dan Potensi Bahaya

Gunung Marapi, yang terletak di Provinsi Sumatera Barat, kembali menjadi perhatian masyarakat setelah data terbaru menunjukkan adanya tren deflasi pada tubuh gunung. Meski tampak tenang, kolom abu setinggi 1.600 meter tiba-tiba muncul, mengundang pertanyaan apakah ini merupakan tanda bahaya.

Deflasi atau pengempisan pada tubuh gunung dapat menjadi sinyal positif karena menandakan tekanan di dalam sistem gunung api cenderung stabil dan tidak mengalami akumulasi energi yang besar. Hal ini disampaikan oleh Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, yang menyebutkan bahwa nilai RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) hanya berfluktuasi di sekitar garis dasar tanpa menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan.

“Nilai RSAM berfluktuasi di sekitar baseline dan tidak menunjukkan akumulasi energi yang signifikan. Ini menandakan bahwa tekanan di dalam sistem gunung api relatif stabil,” tambah Lana.

Meskipun demikian, Badan Geologi menilai sistem dangkal Gunung Marapi masih dalam kondisi terganggu pascaerupsi. Kondisi ini berpotensi memicu erupsi mendadak berskala kecil hingga menengah, terutama di sekitar area kawah. “Secara keseluruhan, aktivitas Gunung Marapi saat ini didominasi oleh dinamika sistem dangkal pascaerupsi. Potensi erupsi mendadak masih ada dan perlu diwaspadai,” ujarnya.

Aktivitas vulkanik Gunung Marapi hingga pertengahan Januari 2026 masih menunjukkan dinamika fluktuatif. Meski terjadi sejumlah letusan dan hembusan, status Gunung Marapi tetap berada pada Level II atau Waspada.

Lana Saria menjelaskan bahwa secara visual, Gunung Marapi Sumbar masih memperlihatkan aktivitas erupsi dari kawah utama. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang, membumbung setinggi 50 hingga 250 meter dari puncak. Dalam periode pengamatan, erupsi masih terjadi dengan tinggi kolom maksimum mencapai sekitar 1.600 meter dari puncak. Warna kolom erupsi didominasi putih hingga kelabu.

Selain pengamatan visual, Badan Geologi juga melakukan pemantauan secara instrumental. Hasilnya, aktivitas kegempaan Gunung Marapi selama dua pekan terakhir didominasi oleh gempa hembusan. Tercatat pula beberapa kejadian gempa letusan, tremor non-harmonik, gempa vulkanik dangkal dan dalam, serta gempa tektonik lokal maupun jauh.

Menurut Lana Saria, meskipun masih terekam berbagai jenis gempa, secara umum aktivitas kegempaan menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini terutama terlihat pada gempa hembusan, tremor non-harmonik, dan gempa vulkanik dangkal. “Kondisi tersebut menandakan melemahnya aktivitas fluida dangkal. Sementara itu, gempa vulkanik dalam relatif stabil dan tidak menunjukkan adanya indikasi intrusi magma baru,” jelasnya.

Badan Geologi juga mengingatkan sejumlah potensi bahaya yang dapat menyertai aktivitas Gunung Marapi. Selain lontaran material vulkanik dalam radius 3 kilometer dari Kawah Verbeek, abu vulkanik berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan serta aktivitas penerbangan, tergantung arah dan kecepatan angin. Material erupsi yang bercampur dengan air hujan juga berpotensi memicu lahar atau banjir lahar di lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi.

Di kawasan puncak dan kawah, masyarakat juga diminta mewaspadai keberadaan gas vulkanik beracun seperti CO₂, CO, SO₂, dan H₂S.

Seiring kondisi tersebut, Badan Geologi menegaskan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang memasuki dan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Marapi. Warga yang bermukim di sekitar aliran sungai juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan.

“Jika terjadi hujan abu, masyarakat diimbau menggunakan masker untuk menghindari gangguan saluran pernapasan. Kami juga meminta semua pihak tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan pemerintah,” tegas Lana.

Badan Geologi memastikan pemantauan Gunung Marapi akan terus dilakukan secara intensif. Evaluasi tingkat aktivitas akan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas vulkanik.


Exit mobile version