Pemilik SPPG di Bengkulu Jadi Sorotan, Netizen Sebut Pengkritik MBG Suudzon Berhati Busuk dan Dengki

Polemik di Media Sosial Terkait Program Makanan Bergizi Gratis (MBG)

Polemik terkait program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu perdebatan di media sosial, khususnya di Bengkulu. Peristiwa ini dimulai dari pernyataan seorang pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyebut netizen pengkritik MBG sebagai pihak yang suudzon, berhati busuk, dan penuh dengki. Ucapan tersebut langsung memicu reaksi beragam dari masyarakat.

Pemilik SPPG yang diketahui bernama WAT mengkritik para netizen yang mengkritik program MBG. Dalam pernyataannya, ia menilai kritik yang dilontarkan oleh para pengkritik tidak berdasar dan cenderung bernada negatif. Menurutnya, para pengkritik memiliki sikap suudzon serta dipenuhi rasa iri dan dengki, sehingga tidak melihat persoalan secara objektif.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan publik setelah viral di berbagai platform media sosial. Dalam sebuah video yang beredar, WAT mengkritik para netizen yang mengkritik program MBG. Ia menjelaskan bahwa program ini telah memberikan dampak positif terhadap masyarakat, khususnya dalam menggerakkan sektor ekonomi lokal. Menurutnya, program ini telah mendorong peningkatan aktivitas di sektor pertanian dan peternakan.

Namun, pernyataan WAT langsung menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Beberapa netizen menilai bahwa pendapatnya terlalu subjektif dan tidak mewakili pandangan umum. Sebaliknya, banyak yang mendukung pernyataan WAT karena merasa bahwa kritik terhadap MBG sering kali tidak didasari informasi yang akurat.

Aksi Joget Viral dan Klarifikasi dari Hendrik

Sebelumnya, Hendrik Irawan menjadi sorotan tajam warganet setelah mengunggah video joget yang menyebutkan angka insentif mencapai Rp 6 juta per hari dari program MBG. Hendrik mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Aksi joget viralnya di ruangan SPPG serta pernyataannya mengenai insentif harian berujung pada sanksi administratif yang berat.

Konten tersebut dinilai kurang peka terhadap polemik program nasional yang tengah berjalan. Langkah Hendrik semakin membuat kegaduhan setelah melaporkan beberapa akun ke Polres Cimahi terkait pelanggaran UU ITE. Klarifikasinya menegaskan bahwa informasi yang beredar di berbagai media sosial telah mengalami distorsi, sehingga berdampak buruk pada reputasinya secara pribadi.

Menurut Hendrik, narasi yang berkembang di tengah masyarakat tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa dapur SPPG yang ia kelola dibangun menggunakan dana pribadi, bukan dari anggaran negara. Ia mengklaim telah merogoh kocek hingga Rp 3,5 miliar untuk membuat mendukung program nasional tersebut.

Angka Insentif dan Penjelasan Lengkap

Terkait angka Rp 6 juta yang ramai diperbincangkan, Hendrik bilang bahwa nilai tersebut merupakan insentif bangunan bagi seluruh mitra yang bergabung, bukan penghasilan pribadi semata. Meski menerima jutaan rupiah per hari, ia mengaku saat ini belum mencapai titik balik modal (break even point).

“Yang menerima Rp 6 juta tuh bukan saya, semua mitra yang bergabung dengan program semua menerima Rp 6 juta, itu untuk insentif bangunan yang kami buat,” ucap Hendrik.

Menghadapi kecurigaan publik, Hendrik menyatakan dirinya sangat terbuka jika pihak berwenang ingin melakukan pemeriksaan keuangan terhadap operasional SPPG miliknya.

Tindakan Hukum dan Evaluasi SPPG

Rasa nama baiknya tercoreng, Hendrik telah mendatangi Polres Cimahi untuk melaporkan akun-akun yang menyebarkan berita bohong (hoax). “Ada dua akun yang saya laporkan. Ke satu, akun yang meng-up tanpa seizin saya, dan itu sudah masuk ke ranah hukum.”

Meski Hendrik sudah menyampaikan klarifikasi, BGN tetap mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara aktivitas di SPPG Pangauban guna evaluasi lebih lanjut.

Penutupan Sementara SPPG

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan BGN tak hanya menyayangkan tindakan Hendrik, tapi juga marah. Ia mengingatkan bahwa SPPG bukanlah sebuah bisnis. Lebih lanjut, Nanik menyoroti viral video joget pria tersebut di dalam sebuah dapur MBG tanpa dilengkapi APD.

Nanik mengingatkan agar mitra MBG tidak bersikap aneh-aneh. Ia mengancam mitra yang melakukan tindakan serupa akan disanksi tutup dapur MBG. “Ya saya minta mitra itu low profile lah jangan aneh-aneh, kalau ada yang aneh-aneh nanti saya suspend atau malah kita hentikan dapurnya,” tutur Nanik.

Exit mobile version