Seorang Siswi SMP yang Berprestasi di Dunia Taekwondo
Di halaman SMP Al Azhar 3 Bandar Lampung, seorang gadis berusia 14 tahun tampak percaya diri memperagakan jurus-jurus Taekwondo. Mengenakan seragam putih dengan sabuk biru melingkar di pinggang, ia menunjukkan keahlian yang luar biasa. Gadis tersebut adalah Shaza Zahira, siswi kelas 9C dari sekolah yang sama dan langganan raih medali dalam berbagai kompetisi Taekwondo.
Shaza bukanlah atlet Taekwondo yang lahir dari keinginan sendiri. Awalnya, ia hanya mengikuti ekstrakurikuler karena dorongan ibunya saat masa pandemi. Namun, semangatnya terbangun seiring waktu, hingga kini menjadi atlet muda yang berprestasi.
Perjalanan Awal yang Tidak Terduga
Perjalanan Shaza dimulai ketika ia pindah dari Aceh ke Bandar Lampung pada semester kedua kelas 4 SD. Di tengah situasi yang terbatas akibat pandemi, ia diarahkan oleh ibunya untuk bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Taekwondo. Awalnya, ia tidak terlalu serius, tetapi setelah mencoba, ia merasa bahwa Taekwondo sangat menyenangkan.
Pada kelas 6 SD, Shaza mulai serius dan memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi Taekwondo. Hasilnya, ia berhasil meraih medali nasional pertama di ajang Kemenpora RI di Bogor. Sejak itu, prestasinya terus meningkat.
Keahlian dalam Dua Kategori
Kemampuan Shaza dalam Taekwondo tidak diragukan lagi. Ia mahir dalam dua kategori sekaligus: Kyorugi (pertarungan) dan Poomsae (seni gerakan). Deretan prestasi yang diraihnya membuktikan bakat dan dedikasinya:
- Juara 1 Taekwondo cabor Kyorugi Dandanan CUP 5 Tahun 2023 (UIN RIL) Piala Gubernur.
- Juara Emas Cabor Kyorugi dan Pomsae Tingkat Nasional – Internasional Event Indonesia Taekwondo Series 4 Kini 2023 (GOR PORKI Cibubur Jakarta Timur)
- Juara 3 Taegeuk 4 Prov Lampung Event Kenyataan Takwondo Danlanud CUP 6 2024 di UIN RIL Piala Gubernur
- Juara 1 Pomsae dan Kyurugi Kejuaraan Taekwondo Piala Wali Kota Bandar Lampung 2024
- Juara 3 Cabor Taegeuk Sekota Bandar Lampung Event Atia Taekwondo Kompetisi Road To Liga Pelajaran 2025
Tantangan sebagai Atlet Perempuan
Menjadi atlet perempuan di olahraga fisik seperti Taekwondo tentu memiliki tantangan tersendiri. Shaza sering mengalami memar dan kaku pada kaki serta lengannya, baik saat latihan yang keras maupun saat jarang berlatih. Namun, bagi Shaza, rasa sakit itu adalah bagian dari proses belajar.
Tantangan terbesarnya adalah saat kalah dalam pertandingan. Ada perasaan kurang percaya diri untuk melangkah selanjutnya. Namun, ia selalu berkonsultasi dengan pelatih dan mendapatkan dukungan penuh dari orang tua untuk bangkit kembali.
Latihan Rutin dan Target Masa Depan
Saat ini, Shaza berlatih tiga kali seminggu. Frekuensi latihan meningkat menjadi setiap hari menjelang pertandingan. Baginya, Taekwondo bukan hanya tentang mengumpulkan medali emas. Di era modern, ia merasa penting bagi seorang perempuan untuk memiliki kemampuan bela diri.
“Mama dan keluarga mengajarkan saya untuk bisa menjaga diri sendiri. Minimal untuk bisa bertahan dari tindak kriminalitas,” ujarnya dengan tegas.
Shaza kini menargetkan pencapaian Sabuk Merah sebagai langkah menuju sekolah impiannya melalui jalur prestasi. Melalui Taekwondo, tubuhnya menjadi lebih ringan dan bugar. Ia juga berpesan kepada teman-temannya bahwa prestasi bisa datang dari mana saja, asalkan ada kemauan untuk terus mencoba dan konsisten berlatih.
