Bisnis  

Yani Yuhani Panigoro dan Perjuangan untuk Hak Perempuan di Perusahaan

Peran Kritis Yani Yuhani Panigoro dalam Membangun Kesejahteraan dan Keberlanjutan

Yani Yuhani Panigoro, Komisaris Utama PT Medco Intidinamika, memiliki peran yang tidak hanya terlihat dari keberhasilannya di dunia bisnis, tetapi juga dari komitmennya terhadap isu perempuan dan sosial. Dalam berbagai momen penting, ia menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan visi jangka panjang.

Menolak PHK Saat Krisis Ekonomi

Salah satu tantangan besar yang pernah dihadapi Yani adalah saat Medco Energi menghadapi krisis ekonomi akibat anjloknya harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah. Situasi ini berdampak luas pada banyak perusahaan energi di Indonesia. Pada masa itu, Yani bersama jajaran manajemen memilih untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), meskipun opsi ini sering kali menjadi pilihan bagi perusahaan lain.

“Tantangannya sangat menarik adalah ketika saya diberi kepercayaan menangani krisis di Medco Energi, di mana harga minyak anjlok berat, kemudian dolar naik,” ujar Yani saat diwawancarai di Jakarta Pusat.

Strategi yang diambil melibatkan penghematan ketat dan penyesuaian pengeluaran biaya kerja tanpa mengorbankan tenaga kerja. Contohnya, ia mengurangi penggunaan kelas bisnis untuk perjalanan dinas, beralih ke kelas ekonomi agar biaya lebih hemat.

“Kami berupaya mengancangkan ikat pinggang, mengurangi hal-hal yang membuat kita lebih nikmat, misalnya terbang kelas bisnis, jadi ekonomi. Hal-hal yang memang tidak terlalu perlu,” tambahnya.

Dengan strategi ini, Medco Energi berhasil bangkit dari krisis dan kembali beroperasi secara berkelanjutan.

Membangun Daycare untuk Mendukung Karyawan Perempuan

Selain fokus pada keberlangsungan perusahaan, Yani juga memberi perhatian khusus pada kebutuhan karyawan perempuan. Ia menyadari bahwa banyak karyawan Medco berada di usia produktif dan memiliki bayi, sementara jarak rumah ke kantor sering menjadi tantangan.

“Kalau usianya 25 tahun masuk Medco, sampai umur 30-an pasti hamil dan punya bayi, dedangkan mereka rumahnya jauh. Lalu saya pikir mereka itu harus ada tempat di mana bayi-bayi itu diasuh,” ujarnya.

Dari pemikiran tersebut, Yani mengusulkan pembangunan daycare di lingkungan kantor sebagai solusi nyata bagi karyawan. Fasilitas ini tidak hanya dimanfaatkan oleh karyawan perempuan, tetapi juga oleh karyawan laki-laki yang pasangannya bekerja.

“Itu salah satu yang kalau menurut saya keputusan yang tepat sampai sekarang. Saya perhatikan, tidak hanya karyawan perempuan, karyawan laki-laki juga yang istrinya juga bekerja membawa bayinya ke situ,” katanya.

Membangun Rumah Layak Huni Bersama Karyawan

Kepedulian Yani terhadap isu sosial juga diwujudkan melalui program pembangunan rumah layak huni. Seiring bertambahnya usia Medco Group, kontribusi sosial perusahaan pun diperluas.

“Berjalannya waktu Medco Group makin besar, tahun ini nih Medco Energi sudah 45 tahun. Jadi kami membuat rumah layak huni sebanyak 45 rumah,” ujar Yani.

Program ini melibatkan partisipasi aktif karyawan serta kerja sama dengan Habitat. Karyawan ikut berdonasi dan mengerjakan rumah tersebut, sementara Yani turut serta sepanjang proses berlangsung.

“Bulan Juni pertengahan tahun ini, saya dengan 100 karyawan datang ke suatu desa, tidak jauh dari Jakarta. Itu rumah-rumah yang tidak layak huni dibongkar,” ungkap Yani.

Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan keterlibatan langsung para karyawan dari awal pembangunan hingga diserahkan ke penghuni. Setiap rumah dikerjakan oleh 10 karyawan, mulai dari fondasi, pembesian, batako, hingga pengecatan.

“Sampai tiga bulan kemudian pengecatan dan kami serahkan pada penghuninya langsung ketika sudah selesai,” ujarnya.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, Yani Yuhani Panigoro menunjukkan bahwa peran pemimpin tidak hanya soal menjaga bisnis tetap berjalan, tetapi juga memastikan kebermanfaatan bagi karyawan, perempuan, dan masyarakat luas secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *