JAKARTA – Pada Mei 2025, Orkes Silampukau mengumumkan bahwa penerbitan episode Stambul Arkipelagia berikutnya tidak akan membutuhkan penantian lama. Wara-wara tersebut dilontarkan saat volume pertama dari album kedua, Stambul Arkipelagia, resmi mengudara. Janji itu kini dibayar lunas oleh Orkes Silampukau. Stambul Arkipelagia Vol. 2 berisi lima repertoar, dengan durasi putar lebih kurang 20 menit telah diluncurkan.
Besar harapan kami agar karya ini dapat dinikmati sedalam-dalamnya sebagai sebuah kisah fiksi. Sebuah pakansi singkat kala kenyataan demikian mengimpit, dan hari-hari terasa kian muskil, kian sulit,” ungkap Orkes Silampukau dalam pernyataan resmi.
Pada EP terbaru, Orkes Silampukau mengundang Rio Sidik, seorang maestro terompet Indonesia, untuk berkolaborasi di trek pembuka album: Blues Bunga Api (Dan Maut Kian Benderang). Mini album terbaru juga diperkuat oleh dua virtuoso instrumen gesek: violinist Dika Chasmala kembali bergabung untuk memperkuat narasi musikal pada Sentrapolis (trek 3), dan cellist Billy Aryo pada trek 5 dengan judul Masuk Angin.
Dalam Stambul Arkipelagia, Orkes Silampukau menawarkan sebuah kisah tentang negara-bangsa bernama Arkipelagia, sebuah fiksi tentang sebuah negeri maritim penuh marabahaya yang terletak di sekitar lingkar tropis. Negara Arkipelagia merupakan perwujudan distopia terburuk dari peradaban manusia. Ia adalah negeri yang senantiasa terapung di masa lalu dan masa depan yang jauh secara bersamaan; sebuah negeri yang senantiasa berada di ambang kenyataan dan khayalan.
Pendeknya, Arkipelagia ini adalah negeri amit-amit. Epos yang kami tulis dengan satu harapan besar: agar tragedi hanya terjadi di ranah fiksi semata, gak perlu jadi kenyataan hidup kita sehari-hari,” kata Kharis Junandharu, anggota Orkes Silampukau.
Dalam Stambul Arkipelagia: Vol. 2, Orkes Silampukau menawarkan eksperimen musik folk yang menjahit pusparagam musik folk dari pusparagam tradisi; timur dan barat, stilistika lampau dan kiwari, menjadi sebuah Fusion Folk yang menjadi landasan musikal negara fiktif ini.
Arkipelagia bagi kami, pertama-tama dan terutama, terlepas dari elemen-elemen lainnya, selalu merupakan platform eksperimental musik untuk bersenang-senang. Perpaduan celtic folk dan dangdut di EP volume 1, atau disko-manouche, dan punk dengan skala Phrygian di volume 2, dan juga episode soundscape untuk unsung hero, rasanya hampir mustahil dilakukan jika tidak dilandasi suatu justifikasi fiksional,” ujar Kharis Junandharu.
Jika world building yang diperlukan untuk memungkinkan eksperimentasi itu ternyata harus sebesar negara, maka biarlah demikian. Mudah-mudahan eksperimen kami ini masih selaras dengan spirit fusi budaya dan genre trans-etnik yang, rasanya, merupakan ciri khas Komedi Stambul, yang lahir di Surabaya, kurang-lebih seabad yang lalu,” sambungnya.
Orkes Silampukau kembali mempercayakan gambar sampul Stambul Arkipelagia: Vol. 2 kepada Redi Murti, seorang seniman visual asal Surabaya, yang karyanya telah turut menemani perjalanan musikal dari Orkes Silampukau sejak album Dosa, Kota, dan Kenangan.
Stambul Arkipelagia: Vol. 2 diproduseri oleh Tommy Respati, dan diproduksi oleh Moso’ Iki Records & Stoopa Music. Proses mastering album ini dikerjakan oleh Barry Junius di Studio Prapen.
Album Stambul Arkipelagia: Vol. 2 dari Orkes Silampukau sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital.












