Kehadiran Delegasi AS dan Iran di Islamabad untuk Perundingan Damai

Para pejabat Amerika Serikat dan Iran telah tiba di Islamabad, Pakistan, untuk menghadiri pertemuan damai. Pertemuan antara perwakilan dua negara tersebut berlangsung pada hari Sabtu (11/4) waktu setempat.
Dari pihak Amerika Serikat, delegasi dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner. Sementara dari sisi Iran, delegasi terdiri dari lebih dari 70 anggota, yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Pertemuan trilateral ini diselenggarakan dengan Pakistan sebagai tuan rumah di ibu kota Islamabad. Seorang pejabat Pakistan menyatakan bahwa pembicaraan “berjalan ke arah yang benar.” Pembicaraan telah dilakukan dalam dua putaran.
“Saya dapat mengatakan bahwa diskusi berjalan positif dan suasana secara keseluruhan ramah,” ujar pejabat tersebut, yang meminta tetap anonim.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran dan seorang pejabat Pakistan lainnya menyebutkan bahwa pembicaraan kemungkinan akan memasuki putaran ketiga.

Diperkirakan putaran ketiga pembicaraan akan berlangsung pada Sabtu malam atau Minggu (12/4) waktu setempat.
“Menurut informasi yang diberikan kepada koresponden TV pemerintah oleh seseorang yang dekat dengan tim negosiasi, putaran negosiasi berikutnya kemungkinan akan diadakan malam ini atau besok,” laporan penyiar pemerintah IRIB.
Belum diketahui apa saja yang dibahas dalam perbincangan tersebut. Namun, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa isu Selat Hormuz yang strategis, yang dilalui hampir seluruh dunia, adalah salah satu topik yang menghadapi perbedaan pendapat serius di antara para negosiator.
Trump Mengingatkan Iran untuk Tidak Memungut Biaya Kapal di Selat Hormuz

Sebelum perundingan terjadi, Presiden AS Donald Trump kembali mengingatkan Iran untuk tidak memungut biaya kepada kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Dilansir Bloomberg, Sabtu (11/4), Trump mengatakan pungutan biaya di Selat Hormuz sebagai tindakan yang bisa memperburuk pasokan energi dunia.
“Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melewati Selat Hormuz,” tulis Trump dalam postingan di Truth Social.
“Mereka lebih baik tidak, dan jika mereka (melakukannya), lebih baik mereka berhenti sekarang!” lanjutnya.
Sebelumnya, Iran akan memungut biaya bagi kapal-kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. Hal ini bertujuan untuk membangun kembali infrastruktur yang runtuh akibat perang. Menurut laporan Financial Times, Iran berencana menerima pembayaran dalam mata uang kripto, bitcoin. Sementara itu, Bloomberg sebelumnya melaporkan opsi pembayaran lain yang dipertimbangkan termasuk yuan dan stablecoin.
Secara konsep, penggunaan kripto dinilai menarik bagi Iran karena memungkinkan transaksi di luar sistem berbasis dolar AS yang selama ini menjadi alat utama penegakan sanksi Barat.
Namun, para pelaku pasar menilai implementasi rencana tersebut akan sangat sulit dilakukan secara legal.
“Perusahaan pelayaran sudah berada di bawah pengawasan yang cukup ketat di seluruh dunia, mengingat mereka berada di industri berisiko tinggi,” ujar Jake Ostrovskis dari Wintermute.












