Membangun Pendidikan Inklusif: Kisah Iptu Efendi dan SLB Swadaya ABC Kendal



KENDAL,

Bagi Iptu Efendi Yulianto, kehidupan di dunia adalah kesempatan untuk membangun kebaikan yang akan berdampak pada akhirat. Prinsip ini ia wujudkan melalui berbagai upaya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, terutama dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Efendi percaya bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mengejar impian dan masa depan, tanpa memandang kondisi fisik atau mentalnya. Anak-anak dengan kondisi tunarungu, tunanetra, tunadaksa, tunagrahita, autisme, maupun tunaganda harus diberi kesempatan yang sama seperti anak lainnya.

Memiliki Anak dengan Keterbatasan Mental

Efendi sendiri memiliki dua anak kembar, salah satunya mengalami keterbatasan mental. Sebagai anggota Polres Kendal, ia memilih menyekolahkan putranya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Swadaya ABC Kendal, salah satu dari dua SLB yang ada di wilayah tersebut.

“Anak saya sekolah di SLB Swadaya ABC karena lokasinya dekat dengan Mapolres Kendal tempat saya bertugas,” ujarnya saat ditemui.

Dari interaksi dengan orang tua siswa lain, Efendi menyadari masih banyak anak dengan keterbelakangan mental yang belum mendapatkan akses pendidikan. Hal ini membuatnya prihatin.

“Jika SLB Swadaya ABC tutup, bagaimana dengan anak-anak yang mempunyai keterbelakangan mental? Mereka akan kehilangan kesempatan untuk belajar,” ujarnya.

Menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya

Tidak hanya sebagai orang tua, Efendi juga memutuskan untuk turut serta dalam pengelolaan SLB Swadaya ABC. Ia ditunjuk menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya yang membawahi sekolah tersebut.

Sekolah ini kini berlokasi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. “Saya menjadi ketua yayasan sejak tahun 2006,” katanya.

Sebelumnya, SLB Swadaya ABC berada di bawah yayasan di Kota Semarang. Namun pada tahun 2003, sekolah dilepas dan harus mandiri. Saat itu, pengurus sempat kesulitan karena hanya menyewa rumah di Jalan Sukarno-Hatta.

Relokasi Sekolah ke Kaliwungu

Setelah menjadi Ketua Yayasan pada 2006, Efendi bersama pengurus mencari lokasi baru untuk sekolah. Berkat bantuan salah satu komite sekolah, mereka berhasil mendapatkan gedung bekas SMA yang sudah tidak digunakan di Desa Karang Tengah.

“Tanah itu milik desa, jadi kami menyewa,” jelasnya.

Kini, Yayasan Swadaya telah membeli tanah lebih dari 2.000 meter persegi di Desa Barang, Kecamatan Brangsong, sebagai lokasi sekolah baru yang sedang dalam tahap pembangunan. Efendi menegaskan bahwa siswa dari keluarga kurang mampu akan digratiskan, terutama yang berdomisili di Karang Tengah. Pembiayaan dilakukan dengan sistem subsidi silang.

Perkembangan Sekolah

Sejak Efendi memimpin yayasan, perkembangan SLB Swadaya ABC cukup signifikan. Kepercayaan masyarakat meningkat, dan semakin banyak orang tua yang mau menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut.

Wakil Kepala Sekolah, Andy Widarsono, menjelaskan bahwa saat ini SLB Swadaya ABC memiliki:

97 siswa tingkat SD

61 siswa tingkat SMP

* 29 siswa tingkat SMA

Dengan total 27 guru, dimana satu di antaranya sudah berstatus PNS. Selain pelajaran akademik dasar dan pembelajaran sosial, siswa juga mendapat pelatihan keterampilan seperti melukis dan membatik. Karya mereka, seperti lukisan payung kertas dan batik jumput, dipasarkan kepada masyarakat.

Andy menambahkan, solidaritas antara orang tua sangat kuat, sehingga membantu proses pendidikan dan perkembangan siswa. “Kami berharap gedung yang baru cepat selesai, sehingga kami memiliki gedung sekolah sendiri,” ujarnya.

Exit mobile version