Peran Ayah dalam Keluarga: Masih Dianggap Pelengkap?
Peran ayah dalam keluarga sering kali dianggap sebagai pelengkap, bukan sebagai elemen strategis dalam membangun generasi yang sehat dan berkarakter. Di banyak daerah, kontribusi ayah masih dianggap sebagai tambahan, bukan sebagai penentu utama. Akibatnya, pola asuh sering kali berfokus pada ibu, sementara keterlibatan ayah hanya sekadar membantu di waktu luang.
Dalam konteks pembangunan keluarga, kondisi ini menjadi perhatian serius karena kehadiran ayah yang minim dapat berdampak langsung terhadap perkembangan psikologis, pendidikan, hingga kesehatan anak. Fenomena ini dikenal sebagai fatherless, yaitu situasi di mana peran ayah secara emosional maupun fisik tidak hadir dalam kehidupan anak.
Untuk mengatasi tantangan ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI. Program ini dirancang sebagai gerakan nasional untuk meneguhkan kembali peran ayah dalam pengasuhan, sekaligus menyiapkan calon ayah agar memahami tanggung jawab mereka sejak dini.
Sasaran Program GATI
Gerakan Ayah Teladan Indonesia memiliki sasaran utama yang tidak hanya mencakup ayah yang sudah memiliki anak, tetapi juga generasi muda yang akan memasuki fase pernikahan. Fokus ini dirancang agar keluarga Indonesia memiliki fondasi pengasuhan yang kuat sejak awal.
Ayah dalam Keluarga
Kelompok sasaran pertama adalah para ayah yang telah memiliki anak, baik usia bayi, balita, maupun remaja. Pada kelompok ini, program GATI menekankan pentingnya keterlibatan aktif ayah dalam kegiatan pengasuhan sehari-hari. Mulai dari memberikan dukungan emosional, mendampingi proses tumbuh kembang, hingga memastikan terpenuhinya akses pendidikan dan kesehatan anak.
Program ini menggarisbawahi bahwa kehadiran ayah bukan sekadar simbol, melainkan bagian penting dari kesejahteraan psikologis anak. Ayah diposisikan sebagai figur teladan yang memberikan rasa aman, motivasi, dan arah dalam proses pembentukan karakter.
Calon Ayah dan Generasi Muda
Sasaran kedua adalah calon ayah, yaitu remaja dan dewasa muda yang sedang bersiap memasuki pernikahan. BKKBN menilai bahwa pembentukan keluarga berkualitas tidak bisa dimulai setelah anak lahir; melainkan harus dipersiapkan bahkan sebelum pernikahan berlangsung.
Dalam kelompok ini, materi GATI mencakup pemahaman tentang kesehatan reproduksi, kesiapan mental menjadi orang tua, literasi pengasuhan, hingga kesadaran akan peran ayah sebagai mitra dalam membangun rumah tangga. Dengan bekal ini, generasi muda diharapkan memasuki masa berkeluarga dengan pengetahuan yang memadai.
Tujuan dan Dampak Program
GATI membawa misi besar untuk mengurangi risiko fatherless di Indonesia. Minimnya kehadiran ayah terbukti dapat berdampak pada rendahnya kepercayaan diri anak, gangguan perilaku, hingga hambatan dalam prestasi akademik. Lewat pendekatan edukatif dan partisipatif, program ini berupaya membangun kembali budaya keluarga yang menempatkan ayah sebagai pilar utama.
Selain itu, GATI juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan keluarga secara keseluruhan. Ketika ayah dan ibu berkolaborasi secara seimbang, proses pengasuhan menjadi lebih stabil dan memberikan kesempatan bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan penuh dukungan.
