Longsor Sumatera Tewaskan Pasangan Baru Menikah di Dalam Kamar

Trauma dan Kehilangan yang Menghancurkan

Dian Saputra Simanjuntak mengalami trauma berat setelah kehilangan lima anggota keluarganya dalam peristiwa longsor dan banjir yang terjadi di Jalan Murai, Aek Manis, Sibolga Selatan, Sumatera Utara. Peristiwa tersebut menewaskan 43 orang dan menyebabkan kerusakan besar di sejumlah wilayah.

Dian menceritakan bahwa dua hari sebelum bencana, keluarganya baru saja merayakan pesta pernikahan kakaknya dan abang iparnya di rumah orang tua mereka. Pesta tersebut berlangsung dari hari Sabtu hingga hari Selasa (25/11/2025). Pada saat kejadian, seluruh keluarga sedang berada di rumah, kecuali adik Dian yang paling kecil yang sedang berada di luar.

“Kami di sini mulai dari hari Sabtu. Karena kakak saya mau pesta. Jadi hari Selasa kami masih di sini. Ternyata dua hari mereka menikah ajal menjemput mereka,” ujar Dian sambil menahan air mata.

Dari lima korban, dua pasangan suami istri yang baru menikah menjadi korban utama. Tiga lainnya adalah ibunya dan kedua ponakannya. Dian mengaku sulit untuk mengungkapkan rasa kehilangan yang dirasakannya. “Gak terucap dengan kata-kata lagi,” katanya.

Proses Pencarian dan Pemulihan

Setelah dua hari pencarian, jasad pasangan suami istri tersebut akhirnya ditemukan. Mereka ditemukan di dalam kamar. Meski begitu, Dian dan keluarganya masih merasakan trauma yang mendalam.

Kini, kelima korban telah dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Sibolga. Dian bersama dua adiknya serta bapaknya mulai melakukan pembersihan di area longsor untuk mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. Mereka berhasil menemukan dompet bapak, celana, dan baju yang bisa digunakan.

Di lokasi bencana, alat berat mulai memperbaiki jalan setelah pencarian 43 korban selesai. Sebagian warga juga mulai mencari-cari baju atau benda di area rumahnya yang terkena banjir dan longsor.

Pasar Mulai Beraktivitas, Harga Bahan Pokok Masih Mahal

Setelah bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, warga mulai menghadapi kesulitan dalam keberlangsungan hidup. Mulai dari krisis air bersih, ekonomi, gas, hingga listrik yang masih mati di sejumlah kecamatan.

Pasar-pasar tradisional di Kota Pandan dan Sibolga mulai aktif berjualan. Namun, aktivitas pasar tidak seperti biasanya. Di Pasar Kalangan Pandan, misalnya, banyak pedagang yang belum membuka toko. Pedagang hanya menjual ikan teri dan asin, serta bumbu giling, karena listrik yang belum stabil.

Menurut Idar, seorang pedagang bumbu giling, warga lebih memilih membeli bumbu giling daripada cabai karena listrik yang sering mati. “Jika listrik mati, mereka tetap bisa masak sambal tanpa blender,” katanya.

Harga sembako masih tinggi, terutama bawang merah yang harganya mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Sayuran juga langka karena lahan pertanian di sekitar rusak akibat banjir. Warga kini harus membeli sayur dari daerah lain yang harganya lebih mahal.

Upaya Pemerintah dalam Memastikan Stabilitas Harga

Bupati Tapanuli Tengah, Masinton, mengatakan akan melakukan sidak ke sejumlah pasar pasca bencana. Tujuannya adalah memastikan harga bahan pokok sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan.

“Kami akan mulai tinjau pasar-pasar agar harga bahan pokok dan makanan stabil. Kami juga mengusahakan percepatan perbaikan infrastruktur jalan agar bahan-bahan sembako bisa masuk dengan cepat ke Tapteng,” ujarnya.


Exit mobile version