Pulau Sumatera kini berubah menjadi lanskap yang menyedihkan, dengan 940 orang meninggal dunia, 276 orang masih hilang, dan sekitar 5.000 orang mengalami luka-luka akibat banjir bandang dan longsor yang menyerang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ratusan desa terdampak, beberapa bahkan lenyap tersapu oleh banjir dan berubah menjadi aliran sungai. Sebanyak 147 ribu unit rumah rusak, dan 52 kabupaten/kota terkena dampak bencana ini.
Angka-angka ini bukan sekadar angka biasa. Ini adalah 940 individu dengan nama, keluarga, dan mimpi yang terhenti. Ini adalah ratusan ribu orang yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman. Bencana ini menjadi bencana alam paling mematikan di Indonesia sejak gempa bumi dan tsunami Sulawesi pada tahun 2018 yang menewaskan 4.340 orang.
Lebih menyedihkan lagi, lebih dari 1.000 satuan pendidikan terdampak banjir Sumatera, dengan 310 di Aceh, dan ratusan lainnya di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Artinya, puluhan ribu siswa kehilangan akses pendidikan, trauma yang mereka alami akan berdampak jangka panjang, dan proses pembelajaran terganggu secara masif.
Namun, di tengah kesedihan yang mendalam ini, kita harus mengajukan pertanyaan krusial: Apakah tragedi ini sepenuhnya tidak bisa dihindari? Atau sebenarnya ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, khususnya dalam hal mitigasi bencana?
Cuaca Ekstrem Hanya Pemicu, Bukan Penyebab Utama
Beberapa pakar menyebutkan bahwa bencana besar ini terjadi karena interaksi tiga faktor: kondisi atmosfer yang sangat aktif, kerusakan lingkungan yang menurunkan daya resap tanah, dan melemahnya kapasitas tampung wilayah. Meskipun curah hujan ekstrem menjadi pemicu, tingkat kehancuran yang masif adalah hasil dari kerentanan ekologis yang telah lama diabaikan.
Cuaca ekstrem bukan satu-satunya penyebab bencana di Sumatera. Kerusakan lingkungan, perubahan fungsi lahan, dan penurunan kapasitas daya tampung air menjadi faktor penting yang memperburuk dampak banjir. Degradasi hutan di wilayah hulu, pembukaan lahan untuk perkebunan dan tambang, serta lemahnya perencanaan tata ruang adalah “dosa ekologis” yang telah menumpuk selama puluhan tahun.
Selain itu, bencana Pulau Sumatera adalah akibat dari rusaknya ekosistem hulu dan daerah aliran sungai oleh industri ekstraktif. Sedikitnya 1.907 wilayah IUP aktif dengan luas 2.458.469,09 hektar setara empat kali luas Brunei Darussalam.
Pertanyaannya adalah: Apakah masyarakat, termasuk pelajar, memahami bahwa kerusakan lingkungan di hulu akan berdampak pada banjir di hilir? Apakah mereka tahu bahwa pembukaan hutan ilegal dan perubahan tata guna lahan adalah ancaman nyata bagi keselamatan mereka?
Kegagalan Sistemik Pendidikan Mitigasi Bencana
Indonesia adalah negara yang sangat rawan bencana. Terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, memiliki puluhan gunung berapi aktif, dan mengalami cuaca tropis dengan curah hujan tinggi membuat Indonesia sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana. Namun, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana masih sangat rendah.
Salah satu akar masalahnya adalah kegagalan sistemik dalam pendidikan mitigasi bencana. Meskipun Indonesia telah meluncurkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan berbagai inisiatif lainnya, implementasinya masih jauh dari memadai.
-
Pendidikan Mitigasi Bencana Belum Terintegrasi dalam Kurikulum Secara Komprehensif
Saat ini, materi mitigasi bencana memang sudah ada dalam kurikulum, terutama dalam mata pelajaran Geografi untuk SMA. Namun, cakupannya sangat terbatas, biasanya hanya beberapa pertemuan dalam satu semester, dan sering kali lebih fokus pada teori daripada keterampilan praktis.
Siswa diajarkan tentang definisi bencana, jenis-jenis bencana, dan teori mitigasi, tetapi mereka tidak dilatih secara reguler tentang apa yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi. Mereka tidak tahu jalur evakuasi di sekolah mereka, tidak pernah mengikuti simulasi evakuasi secara rutin, dan tidak memahami bagaimana membaca tanda-tanda alam yang mengindikasikan potensi bencana.
Lebih parah lagi, untuk jenjang PAUD, TK, dan SD, pendidikan mitigasi bencana hampir tidak ada. Padahal, anak-anak adalah kelompok paling rentan dalam situasi bencana. Mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan sejak dini agar bisa menyelamatkan diri ketika bencana terjadi. -
Simulasi dan Latihan Evakuasi Tidak Dilakukan Secara Rutin dan Serius
Sekolah-sekolah di Jepang, negara yang juga sangat rawan gempa, melakukan simulasi bencana secara rutin bahkan hingga puluhan kali dalam setahun. Setiap siswa, dari TK hingga SMA, tahu persis apa yang harus dilakukan ketika alarm bencana berbunyi. Mereka tahu jalur evakuasi, tempat berkumpul, dan prosedur penyelamatan diri.
Di Indonesia, simulasi evakuasi bencana di sekolah biasanya hanya formalitas. Dilakukan setahun sekali atau bahkan kurang, tidak serius, dan sering kali tidak melibatkan seluruh warga sekolah. Akibatnya, ketika bencana benar-benar terjadi, kepanikan merajalela dan banyak korban yang sebenarnya bisa diselamatkan jika mereka tahu apa yang harus dilakukan.
Dalam bencana Sumatera ini, berapa banyak korban yang sebenarnya bisa diselamatkan jika mereka tahu cara menyelamatkan diri dari banjir bandang? Berapa banyak yang bisa diselamatkan jika mereka memahami tanda-tanda longsor dan tahu harus mengungsi kemana? -
Infrastruktur Sekolah Tidak Didesain untuk Aman Bencana
Lebih dari 1.000 sekolah terdampak dalam bencana Sumatera ini, menunjukkan bahwa banyak sekolah yang tidak didesain dengan standar keamanan bencana yang memadai. Sekolah-sekolah dibangun tanpa mempertimbangkan risiko bencana di wilayah tersebut.
Sekolah yang berada di daerah rawan longsor tidak memiliki struktur bangunan yang tahan longsor. Sekolah di daerah rawan banjir tidak memiliki elevasi yang cukup atau sistem drainase yang memadai. Jalur evakuasi tidak jelas, rambu-rambu keselamatan tidak ada, dan tempat berkumpul aman tidak ditentukan dengan baik.
Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat teraman bagi anak-anak. Jika sekolah saja tidak aman, bagaimana kita bisa mengharapkan anak-anak belajar dengan tenang? -
Guru Tidak Dibekali dengan Pelatihan Mitigasi Bencana yang Memadai
Guru adalah garda terdepan dalam pendidikan mitigasi bencana. Namun, berapa banyak guru yang telah mendapat pelatihan komprehensif tentang manajemen bencana? Berapa banyak yang tahu cara melakukan pertolongan pertama, cara melakukan evakuasi dengan aman, atau cara memberikan dukungan psikososial kepada siswa yang trauma pasca-bencana?
Sebagian besar guru hanya mengandalkan materi di buku teks, tanpa pemahaman praktis tentang mitigasi bencana. Mereka sendiri tidak siap menghadapi bencana, apalagi memimpin siswa untuk menyelamatkan diri dalam situasi darurat.
Jika guru tidak kompeten dalam mitigasi bencana, bagaimana mereka bisa mendidik siswa untuk siaga bencana? -
Tidak Ada Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan
Program SPAB telah diluncurkan, berbagai pelatihan telah dilakukan, dan modul-modul telah disusun. Namun, apakah ada evaluasi yang serius tentang efektivitas program-program ini? Apakah ada data tentang berapa sekolah yang benar-benar telah menerapkan SPAB dengan baik? Apakah ada mekanisme untuk memastikan bahwa sekolah-sekolah di daerah rawan bencana benar-benar siap menghadapi bencana?
Tanpa evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, program-program ini akan menjadi sekadar proyek yang menghabiskan anggaran tanpa dampak nyata. Kita akan terus kehilangan nyawa setiap kali bencana terjadi karena masyarakat tidak siap.
Pendidikan Bukan Hanya tentang Akademis, tetapi Juga Keselamatan Hidup
Selama ini, pendidikan di Indonesia sangat fokus pada prestasi akademis, nilai ujian, ranking, masuk perguruan tinggi favorit. Namun, kita lupa bahwa pendidikan yang paling fundamental adalah pendidikan tentang bagaimana menyelamatkan hidup sendiri dan orang lain.
Apa gunanya siswa pintar matematika dan sains jika mereka tidak tahu cara menyelamatkan diri dari banjir? Apa gunanya mereka bisa berbahasa Inggris dengan lancar jika mereka tidak tahu tanda-tanda longsor? Pendidikan mitigasi bencana adalah life skills yang jauh lebih penting daripada banyak materi akademis yang kita ajarkan di sekolah.
Bencana Sumatera 2025 adalah tamparan yang sangat keras bagi sistem pendidikan. Kita tidak bisa lagi mengabaikan pentingnya pendidikan mitigasi bencana. Kita tidak bisa lagi menganggap ini sebagai prioritas sekunder. Nyawa ratusan orang, termasuk anak-anak, telah hilang, lantas siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kegagalan ini?
