SMC RS Telogorejo Perluas Edukasi Epilepsi Kebal Obat Melalui Seminar Neuro di Yogyakarta

Seminar Neuro: Membuka Harapan Baru bagi Penderita Epilepsi Kebal Obat

SMC RS Telogorejo menggelar seminar neuro di Yogyakarta, Sabtu (13/12/2025). Acara ini bertajuk “Tata Kelola Epilepsi Kebal Obat” dan diselenggarakan di The Alana Malioboro Hotel. Seminar ini merupakan langkah awal SMC RS Telogorejo untuk lebih dekat dengan masyarakat Yogyakarta melalui forum edukasi kesehatan saraf.

Kegiatan ini juga menjadi ajang perkenalan Telogorejo Neuro Center sebagai salah satu center of excellence yang berfokus pada layanan neurologi dan bedah saraf secara komprehensif. Dalam seminar tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk mengikuti konsultasi one on one secara gratis bagi peserta terpilih.

Topik seminar dipilih karena masih terbatasnya pemahaman masyarakat tentang pilihan terapi lanjutan bagi pasien epilepsi yang tidak merespons pengobatan standar. Corporate Business Marketing Communication Yayasan Kesehatan Telogorejo, Adhitia Budi, menjelaskan bahwa kehadiran SMC RS Telogorejo di Yogyakarta hari ini adalah bagian dari komitmen institusi untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat lintas wilayah.

“Kami berharap masyarakat menyadari bahwa epilepsi bukan sekadar stigma yang tidak bisa disembuhkan. Melalui Telogorejo Neuro Center, kami ingin memastikan bahwa edukasi, harapan, dan akses terhadap penanganan yang tepat dapat dirasakan oleh lebih banyak keluarga, khususnya mereka yang menghadapi tantangan epilepsi kebal obat,” ujar Adhitia.

Ia menambahkan bahwa Yayasan Kesehatan Telogorejo secara konsisten mendorong pengembangan pusat-pusat unggulan yang tidak hanya kuat secara teknologi dan keilmuan, tetapi juga berorientasi pada nilai kemanusiaan dan pelayanan berkelanjutan.

Humas SMC RS Telogorejo, Bunga, menyampaikan bahwa seminar ini dirancang sebagai ruang edukasi yang inklusif dan dialogis bagi masyarakat. “Melalui kegiatan ini, SMC RS Telogorejo ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat Yogyakarta, tidak hanya sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai mitra edukasi yang mendampingi,” ungkapnya.

Dalam seminar tersebut, SMC RS Telogorejo juga menghadirkan kisah penyintas epilepsi kebal obat, Azka Primardi, warga Sleman. Azka mengalami kejang rutin sejak usia 13 hingga 23 tahun dengan frekuensi mencapai 12–15 kali dalam sepekan. Berbagai pengobatan telah dijalani, termasuk pergantian obat dan penyesuaian dosis, namun tidak memberikan hasil yang signifikan.

“Awalnya saya juga tidak menyangka kejang bisa dioperasi. Kondisi saya waktu itu sudah tergolong berat karena frekuensi kejang bisa 10–15 kali seminggu. Baru di usia 23 tahun saya mengetahui ternyata ada solusi lain, yaitu bedah saraf,” kata Azka.

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan, termasuk MRI dengan pemeriksaan lebih detail, sumber kejangnya dapat diidentifikasi. Operasi dilakukan pada 2007 dan memberikan dampak signifikan. “Setelah operasi, kejang berkurang secara signifikan. Dosis obat perlahan diturunkan. Pada 2011–2012 saya sudah bebas kejang dan bebas obat sampai sekarang,” ujarnya.

Pengalaman Azka juga menggambarkan tantangan keterbatasan layanan dan teknologi pada masa lalu, mulai dari pemeriksaan yang belum komprehensif hingga alur layanan kesehatan yang berlapis.

Penanganan Kejang Secara Cepat dan Tepat

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis saraf, Prof. Dr. dr. Elisabeth Siti Herini, Sp.A(K), menegaskan pentingnya penanganan kejang secara cepat dan tepat sejak fase awal untuk mencegah kerusakan otak yang lebih luas, sekaligus meningkatkan peluang kontrol kejang pada anak dengan epilepsi.

Elisabeth menjelaskan bahwa kejang terjadi akibat aktivitas saraf yang tidak terkendali di otak. Jika aktivitas tersebut melibatkan kedua belahan otak, kondisi itu disebut kejang umum atau kejang general. Sementara jika hanya melibatkan satu hemisfer atau area tertentu, disebut kejang fokal.

Pada kejang fokal, anak masih dapat sadar dan diajak berkomunikasi meskipun terdapat gerakan kejang pada bagian tubuh tertentu. Elisabeth memaparkan bahwa jenis kejang sangat beragam. Salah satu yang paling sering dijumpai adalah kejang demam, yang umumnya tergolong ringan dan hanya terjadi hingga usia lima tahun.

“Kejang demam justru lebih ringan dibandingkan epilepsi. Biasanya setelah usia lima tahun, kejang demam akan berhenti,” ujarnya. Namun, bila kejang masih terjadi saat demam setelah usia tersebut, kondisi itu dikenal sebagai kejang demam plus.

Sementara itu, epilepsi didefinisikan sebagai kejang tanpa demam yang berulang. Elisabeth juga mengingatkan adanya kondisi status epileptikus, yakni kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit dan memerlukan penanganan khusus di IGD atau ICU.

Selain itu, terdapat kejang non-konvulsif yang tidak tampak secara klinis, tetapi hanya dapat dideteksi melalui pemeriksaan EEG karena ditandai penurunan kesadaran.

Pengobatan Epilepsi Kebal Obat

Elisabeth juga menyoroti epilepsi resisten obat atau epilepsi refrakter, yakni kondisi kejang yang tetap berlanjut meskipun sudah diberikan dua jenis obat anti-epilepsi tanpa hasil memuaskan. “Tidak jarang kami menemui anak yang sudah mendapatkan empat atau lima macam obat, tetapi kejangnya tetap tidak terkontrol,” katanya.

Secara global, terdapat lebih dari 51 juta penderita epilepsi di dunia, dengan sekitar 4,9 juta kasus baru setiap tahun. Sekitar sepertiga penderita epilepsi tidak mencapai kontrol kejang yang baik dan tidak memberikan respons optimal terhadap obat, sehingga masuk kategori drug resistant epilepsy.

Menurut Elisabeth, kunci utama terapi adalah identifikasi tipe kejang yang tepat. Pemilihan obat sangat bergantung pada apakah kejang bersifat general atau fokal. Ia mengakui, peran orang tua yang merekam kejadian kejang sangat membantu dokter dalam menentukan jenis kejang dan obat yang sesuai.

Namun, tidak semua obat anti-epilepsi tersedia melalui BPJS, sehingga penanganan epilepsi kebal obat kerap menjadi tantangan. Pada kasus tertentu, terapi dapat dilanjutkan dengan bedah epilepsi melalui kolaborasi tim bedah saraf.

“Bedah epilepsi dipertimbangkan pada pasien dengan kejang yang sulit terkontrol dan disertai kelainan struktural di otak,” ujarnya. Kelainan tersebut umumnya terdeteksi melalui MRI dan lebih berisiko menyebabkan epilepsi resisten obat, terutama bila onset kejang terjadi setelah usia lima tahun.

Elisabeth menekankan, epilepsi resisten obat merupakan kondisi kompleks dan multifaktorial. Langkah awal penanganannya adalah menyingkirkan pseudoresistensi, seperti ketidakpatuhan minum obat, pemilihan obat yang tidak tepat, dosis yang tidak sesuai, atau interaksi obat.

Selain optimalisasi obat, terapi tambahan seperti diet ketogenik dapat dipertimbangkan dengan pengawasan ketat. Jika seluruh upaya tersebut tidak berhasil, bedah epilepsi menjadi pilihan terakhir.

“Banyak orang tua awalnya ragu, tetapi pada kasus terpilih, bedah epilepsi dapat memberikan perbaikan yang signifikan,” kata Elisabeth. Ia menambahkan, perbaikan gaya hidup, seperti cukup tidur, menghindari stres, dan edukasi yang tepat terkait penghentian obat anti-epilepsi, juga menjadi bagian penting dalam tata laksana epilepsi pada anak.

Exit mobile version