Perawat RSHS Bandung yang Bekerja 20 Tahun Kini Dinonaktifkan, Sosoknya Bikin Sedih

Perawat RSHS Bandung yang Diduga Terlibat dalam Kasus Bayi Nyaris Hilang

Perawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang diduga terlibat dalam kasus bayi nyaris hilang telah dinonaktifkan dan diberikan sanksi. Hal ini dilakukan setelah kejadian viral di media sosial, yang memicu perhatian publik dan pihak berwenang.

Perawat Dinonaktifkan dan Diberi Sanksi SP1

Direktur Utama RSHS Bandung, Rahim Finata Marsidi, mengatakan bahwa perawat yang diduga terlibat dalam insiden tersebut telah dipindahkan dari layanan pasien. Ia menegaskan bahwa perawat tersebut tidak lagi bertugas di area perawatan langsung dan diberikan sanksi SP1.

“Perawatnya dinonaktifkan, dipindahkan ke bagian yang tidak melayani pasien dan diberikan SP 1,” ujar Rahim.

Ia juga menekankan bahwa tindakan ini merupakan bentuk pembinaan sekaligus evaluasi internal terhadap tenaga kesehatan. Meski demikian, pihak rumah sakit menyatakan bahwa insiden ini tidak mengandung unsur kriminal atau kesengajaan.

“Enggak ada unsur kriminal, perawatnya lagi banyak pasien di intensive care,” jelasnya.

Kronologi Kejadian yang Membuat Ibu Panik

Kronologi kejadian tersebut terjadi pada Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, bayi Nina Saleha (27) telah dirawat selama empat hari karena penyakit kuning.

Menurut Nina, bayi sebenarnya sudah diperbolehkan pulang, namun proses administrasi belum selesai sehingga mereka masih menunggu di ruang perawatan. Saat ia dan suami sempat keluar sebentar untuk makan, Nina mengaku perasaannya tidak enak dan memutuskan kembali masuk.

Ketika kembali, ia mendapati bayi di inkubator sudah tidak ada dan dirinya panik. “Saya cek ke inkubator, anak saya sudah tidak ada, pas saya lihat lagi, ternyata bayi yang digendong itu memang anak saya,” ungkap Nina.

Ia kemudian melihat seorang perempuan yang sebelumnya sempat berbicara dengannya sedang menggendong bayinya. Nina langsung berteriak dan menghentikan perempuan tersebut.

Respons Petugas yang Mengecewakan

Nina juga menyebut adanya kejadian saat seorang petugas keamanan meminta ponselnya dan mengubah penilaian layanan rumah sakit. “Saya diminta kasih rating, saya kasih empat, lalu satpamnya malah pinjam hp saya dan diubah jadi bintang lima,” katanya.

Selain itu, Nina juga menyoroti minimnya respons saat ia meminta bantuan dalam keadaan panik. “Saya teriak sambil nangis, tapi saya malah disuruh diam oleh perawat,” ujarnya.

Setelah kejadian, bayi berhasil diamankan kembali oleh petugas medis.

Tanggapan Gubernur Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ikut menyoroti kasus ini dan meminta penjelasan transparan terkait sanksi terhadap pihak yang diduga lalai. Dalam pernyataannya, ia mempertanyakan bentuk hukuman yang diberikan kepada perawat terkait.

“Kalau kelalaian sanksinya apa? Penundaan gaji atau apa?” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kejelasan apakah insiden tersebut murni kelalaian atau ada unsur kesengajaan. “Kalau kesengajaan, bisa sampai pemberhentian?” tambahnya.

Pihak RSHS menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP), terutama terkait penyerahan bayi kepada orang tua.


Exit mobile version