Motivasi Belajar Bahasa Asing Melalui Game

Mengapa Bahasa Menjadi Penghalang dalam Bermain Game?

Apa yang terjadi ketika kita menemukan sebuah permainan yang tidak memiliki terjemahan dalam bahasa Indonesia? Saya sering kali merasa kesal, tetapi tetap ingin memainkannya. Dulu, jika suatu permainan tidak berbahasa Indonesia, maka saya akan cepat bosan dan kehilangan minat. Hanya saja, mungkin saya akan memainkannya demi melihat ilustrasi yang ada di dalamnya.

Saya menggunakan Google Translate sebagai jembatan agar bisa memahami misi atau alur permainan tersebut. Tapi, apakah itu benar-benar bermakna? Bagi saya, mengonsumsi sesuatu tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi adalah seperti memakan makanan penutup tanpa mengunyahnya. Atau seperti orang Asia yang mencoba masakan Perancis, yang terasa hambar.

Ketika kita tidak memahami bahasa dari suatu game, maka inti dari cerita, suasana, alur, karakter, dan konflik akan terlewat. Semuanya terlihat dan terdengar asing, sehingga tidak memberikan pengalaman yang berkesan.

Awalnya, saya hanya memainkan game yang sedang populer, seperti Mobile Legend, Free Fire, atau PUBG. Itu semua dilakukan karena ikut-ikutan teman-teman. Namun, lama-kelamaan saya sadar bahwa saya termasuk tipe pemain yang cepat bosan dan tidak terlalu menikmati game yang membuat saya mudah marah. Saya lebih suka game yang tidak terburu-buru, yang secara perlahan meningkatkan ketegangannya dan memiliki visual yang menarik.

Saya mulai mencoba berbagai genre game, seperti horor, musik (rhythm), petualangan (adventure), dunia terbuka (open-world), RPG (Role-playing Game), dan lainnya. Salah satu hal yang selalu ada di setiap game yang saya mainkan adalah cerita yang dalam, alur yang imersif, dan kompleks.

Sebuah game bisa dimainkan tanpa memahami bahasanya, karena adanya jembatan visual serta trial and error. Keduanya menjadi kekuatan terbesar bagi pemain game aksi atau petualangan. Namun, bagaimana jika permainan itu merupakan visual novel? Atau permainan petualangan sosial (MMO) yang mengharuskan interaksi antar pemain dari berbagai negara?

Jika permainan visual novel memiliki unsur puzzle, maka sulit untuk menyelesaikannya. Jika itu berunsur romantis, mungkin visualnya indah, tetapi sulit untuk tenggelam dalam alur ceritanya. Dan jika permainan petualangan sosial memiliki unsur teka-teki, maka mustahil menyelesaikan misteri hanya sendirian.

Dua genre ini mendorong saya untuk belajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Dengan tingkat keingintahuan yang tinggi, saya bertemu dua permainan di Play Store yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pembelajaran bahasa asing.

Mystic Messenger: Visual Novel yang Membuat Saya Belajar Bahasa Inggris

Permainan pertama yang membantu saya belajar bahasa Inggris adalah Mystic Messenger. Genre romantis dan misteri ini menarik banyak perhatian. Alasannya sederhana, karena fitur-fiturnya tidak biasa ditemukan di visual novel biasanya.

Dalam permainan ini, saya berperan sebagai MC (pemain utama) yang tidak sengaja masuk ke grup chat milik organisasi nirlaba yang didirikan oleh Rika. Organisasi ini bertujuan mengumpulkan dana amal melalui pesta-pesta mewah. Di dalam grup tersebut, saya akan bertemu enam karakter dengan kepribadian dan konflik yang berbeda.

Inti dari plot permainan ini adalah membantu anggota organisasi mengorganisir pesta setelah kematian Rika yang penuh misteri. Seiring waktu, rahasia demi rahasia mulai terungkap, dan pemain akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang memengaruhi hubungan, alur cerita, dan akhir permainan.

Fitur unik dari Mystic Messenger adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan keenam karakter melalui chat dan panggilan telepon selama 11 hari dengan waktu nyata. Grup chat bisa muncul di waktu yang beragam, mulai dari tengah malam hingga matahari terbit. Jika terlewat, percakapan tersebut tidak bisa diakses kembali.

Di sinilah bahasa menjadi penghalang sekaligus pendorong. Seluruh percakapan menggunakan bahasa Inggris, memaksaku untuk membaca dan memahami setiap konteks yang muncul.

Sky: Children of the Light – Belajar Bahasa Melalui Interaksi

Permainan kedua yang membantu saya belajar bahasa adalah Sky: Children of the Light. Berbeda dengan Mystic Messenger yang dipenuhi teks, Sky hampir tidak menggunakan kata-kata. Lalu, bagaimana sebuah cerita dapat disampaikan?

Pemain berperan sebagai Child of Light, Anak Cahaya, yang bertugas mengembalikan cahaya ke dunia yang telah kehilangan harapan. Dunia yang sunyi, luas, dan penuh makna. Dalam perjalanannya, pemain akan bertemu dengan pemain lain dari berbagai negara, menjalin banyak pertemanan.

Bagaimana cara berkomunikasi jika bahasa yang digunakan masing-masing pemain berbeda? Bahasa Inggris menjadi jembatan utama. Awalnya, saya hanya mengandalkan gestur dan emote, namun keinginanku untuk benar-benar terhubung perlahan mendorongku untuk belajar.

Pada waktu itu, banyak pemain yang terbuka dan menyambut sangat ramah, satu dengan yang lainnya. Semakin banyak aku bertemu, berteman, dan berbicara dengan mereka. Aku pun semakin familiar dengan penggunaan Bahasa Inggris. Bahkan beberapa Bahasa lainnya.

Dari permainan ini, saya menyadari bahwa bahasa bukan sekadar rangkaian kata. Namun, juga tentang memahami dan dipahami.

Exit mobile version