Tiga Kelemahan Persebaya Surabaya yang Mengancam Kemenangan di Laga Kontra Borneo FC
Persebaya Surabaya menghadapi pertandingan krusial melawan Borneo FC dalam laga pekan ke-15 Super League 2025/2026. Pertandingan ini akan digelar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada Sabtu (20/12/2025) malam. Namun, kondisi tim tuan rumah tidak ideal dan berpotensi menjadi ancaman besar bagi perolehan poin.
Kehilangan Pilar Utama
Salah satu kelemahan utama Persebaya Surabaya adalah absennya dua pemain kunci sekaligus, yaitu Bruno Moreira dan Francisco Rivera. Keduanya dipastikan tidak bisa tampil dalam laga ini.
Bruno Moreira harus absen karena akumulasi kartu kuning. Sebagai winger kiri andalan, ia memiliki peran penting dalam skema serangan Persebaya Surabaya. Kecepatannya, kemampuan duel satu lawan satu, serta kemampuannya membuka ruang sering menjadi faktor penentu dalam pertandingan-pertandingan ketat.
Untuk menggantikan Bruno Moreira, Persebaya Surabaya diprediksi akan menurunkan Gali Freitas. Meskipun memiliki kecepatan, pengalaman dan chemistry-nya belum sepenuhnya menyamai Bruno Moreira.
Selain itu, Francisco Rivera juga harus absen karena sanksi kartu merah. Ia menerima kartu merah saat bertandang ke markas Persik Kediri pada 7 November 2025. Sejak saat itu, lini tengah Persebaya Surabaya terlihat kurang dinamis.
Francisco Rivera dikenal sebagai motor serangan Persebaya Surabaya. Kemampuannya mengatur tempo, memberi umpan terobosan, dan menekan lawan sulit tergantikan dalam satu pertandingan penting.
Posisi gelandang serang akan dipercayakan kepada Malik Risaldi. Meski memiliki pengalaman, adaptasi di posisi baru ini menjadi tantangan tersendiri.
Tanpa Pelatih Kepala
Kelemahan kedua Persebaya Surabaya terletak pada kepelatihan. Tim kebanggaan Surabaya belum memiliki pelatih kepala sejak ditinggal Edu Perez pada 22 November 2025.
Sementara itu, Uston Nawawi ditunjuk sebagai caretaker. Namun, ia juga harus absen dalam laga kontra Borneo FC karena akumulasi kartu kuning. Akibatnya, Persebaya Surabaya akan bermain tanpa kehadiran sosok pelatih utama di pinggir lapangan.
Shin Sang-Gyu, pelatih fisik asal Korea Selatan, akan menggantikan Uston Nawawi. Meski memiliki pengalaman internasional, peran Shin Sang-Gyu tentu berbeda dari pelatih kepala. Pengambilan keputusan taktis saat pertandingan berjalan bisa menjadi tantangan besar.
Performa Belum Stabil
Kelemahan ketiga Persebaya Surabaya terlihat dari tren performa yang belum stabil. Dalam lima laga terakhir, Persebaya Surabaya empat kali bermain imbang.
Hasil seri beruntun melawan PSM Makassar, Bhayangkara FC, Arema FC, dan Persik Kediri menunjukkan masalah konsistensi. Satu-satunya hasil positif adalah kemenangan tipis atas Persis Solo.
Situasi ini berbanding terbalik dengan kebutuhan Persebaya Surabaya untuk meraih poin penuh. Bermain di kandang sendiri seharusnya menjadi momentum bangkit.
Namun tekanan justru semakin besar karena absennya pemain kunci dan pelatih. Kondisi ini membuka peluang bagi Borneo FC untuk mencuri poin, bahkan kemenangan.
Borneo FC datang dengan motivasi bangkit setelah dua kekalahan beruntun. Kekalahan dari Bali United dan Persib Bandung membuat tim tamu berambisi memulihkan kepercayaan diri.
Secara performa, Borneo FC masih menunjukkan potensi besar. Mereka sempat meraih kemenangan meyakinkan atas Madura United, Semen Padang, dan Dewa United.
Head to head memang sedikit berpihak pada Persebaya Surabaya saat bermain di kandang. Namun kondisi terkini membuat catatan tersebut tak lagi menjadi jaminan.
Pertemuan terakhir di kandang Borneo FC berakhir imbang 1-1 pada 18 Mei 2025. Sementara setahun lalu, Persebaya Surabaya menang tipis 2-1 di GBT.
Kini situasi berubah dengan tiga kelemahan besar yang mengiringi langkah Persebaya Surabaya. Absennya pilar utama, krisis di kursi pelatih, dan performa yang belum stabil bisa menjadi celah besar.
Jika mampu memaksimalkan kondisi tersebut, Borneo FC berpeluang membuat pendukungnya pulang dengan senyum lebar. Laga malam ini pun menjanjikan tensi tinggi dan cerita menarik hingga peluit akhir.
