Bisnis  

3 Tahun Jadi Ojol di Bali, Kadek Irawan Bisa Beli Motor Cash Meski Libur Seminggu Sekali

Kehidupan Seorang Driver Ojol di Bali dan Perjalanan Kesuksesannya

Kadek Irawan, seorang driver ojek online (ojol) yang tinggal di Bali, memiliki kisah unik tentang perjalanan hidupnya selama tiga tahun bekerja di sana. Awalnya, ia pernah bekerja di sebuah vila, namun kondisi pekerjaan yang stagnan membuatnya memutuskan untuk mencari jalan lain.

“Tidak ada kenaikan gaji sudah 1,5 tahun, segitu-segitu saja. Awalnya nyoba-nyoba setelah pulang dari vila, lumayan juga ternyata penghasilannya,” ujar Kadek saat berbicara mengenai awal karier sebagai driver ojol.

Bali menjadi lokasi yang menjanjikan bagi profesi ini, terutama saat musim liburan atau high season. Kehadiran wisatawan mancanegara menjadi berkah tersendiri bagi para pengemudi ojol. Dalam kesehariannya, Kadek sering kali mengantar wisatawan mancanegara yang memberikan tantangan tersendiri.

Yang membedakan mereka adalah kebiasaan saat dibonceng motor. Bukan soal bahasa atau tarif, melainkan kebiasaan mereka yang sering kali menguras tenaga ekstra bagi pengemudi. “Yang membedakan mereka enggak bisa diam, gerak terus, mungkin karena tinggi badannya lebih besar mereka ya. Apalagi waktu nikung, badannya melawan tidak mengikuti arah tikungan jadi enggak imbang motornya,” ujarnya.

Kadek tidak segan memberikan arahan demi keselamatan perjalanan, meski hal itu cukup melelahkan. Ia bercerita bahwa mengantar bule dalam jarak jauh sering kali membuat tangan pegal karena harus menjaga keseimbangan motor lebih kuat.

“Makanya kalau perjalanan jarak jauh boncengin bule tangan pegal dan sakit-sakit karena nahan. Kalau masyarakat lokal kan lebih anteng bisa mengikuti ritme jalannya motor,” kata Kadek Irawan.

Libur Seminggu Sekali

Jika terkendala bahasa, Kadek pun mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi dengan penumpangnya, terutama wisatawan dari Korea dan China. “Komunikasi sama bule juga sebisanya, kalau tidak bisa dimengerti baru buka Google Translate,” imbuhnya.

Kadek memilih bekerja dengan ritme yang aman bagi tubuhnya mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WITA. Ia sengaja menghindari area kelab malam yang ramai untuk menjaga kondisi fisik agar tetap prima di hari berikutnya. Keleluasaan mengatur waktu menjadi alasan utama pria lulusan sekolah kejuruan di Singaraja ini bertahan.

Di Bali yang kental dengan tradisi, fleksibilitas sangat dibutuhkan untuk menghadiri upacara adat. “Seminggu kadang libur sekali saja. Apalagi kalau ada acara upacara. Nah itu yang membuat saya suka dengan pekerjaan ojol ini. Mengambil jadwal liburnya bebas, tidak bisa dilakukan di tempat kerja yang terikat,” tutur pria berusia 28 tahun itu.

Hasil jerih payahnya selama tiga tahun di jalanan mulai membuahkan hasil nyata. Setelah dua tahun awal meminjam motor milik bapaknya, Kadek kini berhasil membeli sepeda motor sendiri secara tunai.

“Ini motor sendiri, bekerja ojol sambil nabung pelan-pelan. Tahun ketiga bisa beli motor sendiri secara cash. Jadi tidak kepikiran nyicil tiap bulan, sehari-hari tinggal mikir bayar kos, kebutuhan sehari-hari, dan nabung,” ucap perantau asal Singaraja tersebut.

Kadek menyadari bekerja di jalanan menuntut kesabaran ekstra di tengah kemacetan Bali. Pesan orang tua untuk selalu menjaga diri dan tidak cepat emosi menjadi pegangan utamanya saat melaju di atas aspal Pulau Dewata.

Kisah Lain: Imam Hambali, Driver Ojol di Pamekasan

Sudah 16 tahun lamanya Imam Hambali menjadi driver ojek online atau ojol di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Pria berusia 43 tahun ini sudah berganti seragam berkali-kali. Sepeda motornya juga cukup bersih.

“Bukan berarti saya orang baru. Tapi ini sudah berganti seragam kesekian kalinya. Demi performa dan pelayanan terbaik ke pelanggan,” tuturnya sambil tersenyum saat berbincang, Minggu (14/12/2025) sore.

Hambali memilih menjadi driver ojol untuk menopang kebutuhan hidup. “Awalnya saya coba-coba. Tapi ternyata bisa menopang kebutuhan hidup, akhirnya berlanjut sampai sekarang,” katanya.

Saat itu, dia ingin menyelesaikan biaya pendidikannya di salah satu perguruan tinggi. Akhirnya terbantu dari hasil menjadi pengemudi ojol. Berselang, beberapa tahun, Hambali menikah hingga punya anak. Sejak itu, pekerjaan driver online menjadi pendapatan utama untuk menghidupi keluarganya.

“Sampai saya punya dua anak, pendapatannya dari driver ojol. Sembari di pagi hari, saya jadi honorer di sekolah swasta,” ujarnya.

Hambali bercerita, suka duka sebagai driver ojol cukup banyak dialaminya. Salah satunya, akun tidak bertanggung jawab mengorder makanan dan lokasinya di tengah kuburan. Saat itu, malam hari dia menerima order makanan cash and delivery (COD). Setelah tiba di lokasi sepi, titik pengorder ada di tengah pemakaman.

“Saya sudah beli makanan sesuai pesanan. Setelah diantar lokasinya gelap dan ternyata di tengah kuburan dan cukup jauh dari rumah warga. Tapi saya sempat menunggu,” katanya.

Di lain kesempatan, dia juga menerima pesanan makanan fiktif. Pengorder memesan terang bulan dan martabak senilai Rp 1.000.000. Namun, setelah diantar ke lokasi sesuai di aplikasi, pemesannya tidak ada. Setelah beberapa jam pemesan tidak ditemukan, akhirnya makanan dibawa kembali ke tempat mangkal.

“Saat itu akhirnya makanan dibagi antar ojol. Sementara uang diajukan dan diklaimkan ke penyedia jasa aplikasi ojol,” ujarnya.

Berkat kegigihannya, Hambali tetap bertahan menjadi driver ojol demi keluarga. Di samping itu, dia juga tetap aktif mengajar di sekolah saat pagi hari. Pendapatannya setiap bulan tidak kurang dari Rp 4 juta untuk menghidupi keluarganya.

Hingga akhirnya, dia sukses lulus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di salah satu sekolah swasta di Kecamatan Bumbungan, Pamekasan. Sejak itu, dia mulai mencari nafkah sebagai pengemudi ojol sejak pukul 15.00 hingga pukul 23.00 malam.

“Karena pagi harinya saya harus mengajar. Jadi pulang lebih cepat,” katanya.

Hambali mengaku, sejak diterima sebagai PPPK, ekonominya mulai membaik. Namun, dia mengaku sulit meninggalkan kebiasaannya menjadi ojol. Bekerja di ojol pada akhirnya tidak sekadar cari nafkah. Tetapi, bagian dari pekerjaan yang menyenangkan.

“Saya sudah merasa nyaman bekerja ojol. Pekerja ojol sudah seperti saudara semua. Kita susah senang bersama dan saling bantu,” katanya.

Akhirnya Hambali memilih untuk tetap aktif menjadi ojol. Meski jam kerjanya mulai dikurangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *