Bisnis  

Azzuri, Camilan dan Perjalanan Maryani: Meraih Cuan dari Kerupuk Ikan



BATAM – Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terang, aroma ikan tenggiri dan minyak panas mulai mengisi sebuah rumah sederhana di kawasan Bengkong, Batam. Di dapur kecil itulah Maryani memulai rutinitas yang telah ia jalani lebih dari sepuluh tahun, mengolah ikan menjadi kerupuk, sekaligus merawat mimpi agar tetap hidup.

Bagi Maryani, kerupuk ikan bukan hanya sekadar camilan. Ia adalah jawaban atas krisis, sarana bertahan hidup, dan pintu masuk menuju masa depan yang lebih pasti.

Maryani datang ke Batam pada 1995 sebagai perantau dari Kabupaten Karimun. Seperti banyak pendatang lain, ia mencoba nasib di sektor industri dan bekerja sebagai karyawan pabrik. Setelah menikah dan menetap di Batam, kehidupannya berjalan sederhana—hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Waktu itu rasanya campur aduk. Saya berpikir, masa saya tidak bisa bantu apa-apa? Bahkan untuk kebutuhan dapur,” tuturnya saat diwawancarai di rumahnya yang ada di Bengkong, Batam.

Di tengah tekanan ekonomi keluarga, Maryani memilih tidak larut dalam keputusasaan. Ia memulai usaha kecil-kecilan dari rumah, bermodal keberanian dan kemauan belajar.

Langkah pertama Maryani sangat sederhana. Ia membuat kue rumahan dan menitipkannya ke warung-warung sekitar. Harganya pun terjangkau—seribu rupiah per potong. Setiap pagi, sebelum mengantar anak ke sekolah, ia lebih dulu berkeliling menitipkan kue.

Anaknya yang masih kecil ikut dibonceng motor, menemani sang ibu berjualan.

“Waktu itu belum kepikiran besar. Yang penting bisa nambah uang belanja,” katanya.

Maryani tidak memiliki latar belakang tata boga. Ia belajar secara otodidak, dengan mencari resep di internet, menonton video di YouTube, dan mengikuti pelatihan UMKM yang diselenggarakan berbagai instansi. Dari situlah naluri usahanya perlahan terbentuk.

Pada 2010, usaha kecil itu diberi nama Azzuri Snack, diambil dari nama anak keduanya, Panzuri, yang sejak kecil paling rajin membantu di dapur.

“Biar selalu ingat, usaha ini lahir dari keluarga,” ujarnya.

Melihat Laut sebagai Peluang, Bukan Sekadar Pemandangan

Sebagai daerah kepulauan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memiliki kekayaan laut yang melimpah. Ikan mudah didapat, namun selama ini lebih banyak diolah sebagai lauk. Bagi Maryani, laut menyimpan peluang yang belum sepenuhnya digarap.

Sekitar 2015–2016, ia mulai serius mengembangkan kerupuk ikan tenggiri. Pilihannya bukan tanpa pertimbangan. Tenggiri dikenal sebagai ikan premium, bercita rasa kuat, dan digemari pasar. Namun, Maryani sadar, kualitas saja tidak cukup. Ia harus memiliki pembeda.

Azzuri Snack kemudian mengembangkan kerupuk ikan tanpa MSG, menyasar konsumen yang lebih peduli kesehatan. Bahan baku dijaga ketat, cita rasa dibuat konsisten, dan proses produksi dilakukan bertahap.

“Kalau mau bertahan lama, produknya harus punya ciri,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi musim ikan tenggiri yang tidak menentu, Maryani menyiapkan stok ikan beku dari jauh hari. Ia juga menjalin kemitraan dengan nelayan dan penampung ikan lokal agar pasokan tetap terjaga.

Produksi kerupuk ikan menyisakan persoalan lain, yakni limbah tulang dan kulit ikan. Awalnya, limbah ini menumpuk, menimbulkan bau, dan berpotensi mengganggu lingkungan sekitar. Alih-alih membuang, Maryani memilih bereksperimen. Tulang ikan direbus, dihaluskan, lalu diolah kembali menjadi kerupuk. Prosesnya tidak singkat, namun hasilnya mengejutkan. Dari dapur sederhana itu lahirlah Tulgi, kerupuk tulang ikan tenggiri yang kaya kalsium.

“Inspirasi awalnya sederhana. Orang takut makan tulang, padahal justru di situ kalsiumnya,” katanya. Inovasi ini mengantarkan Azzuri Snack meraih predikat Produk Ramah Lingkungan (Green Product) dalam ajang UMKM pesisir. Limbah yang dulu dianggap masalah, justru menjadi nilai tambah.

Pandemi Covid 19, Titik Terendah yang Menguji Daya Tahan

Pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat sepanjang perjalanan Azzuri Snack. Pusat oleh-oleh tutup, hotel berhenti beroperasi, pesanan ritel macet. Banyak produk diretur, penjualan turun drastis.

“Waktu itu sempat bingung. Mau lanjut atau berhenti,” kenang Maryani. Namun naluri bertahannya kembali bekerja. Ia mengalihkan fokus ke kue ulang tahun rumahan, memaksimalkan penjualan online, dan menyesuaikan sistem distribusi tanpa tatap muka. Anak-anaknya yang kuliah dari rumah dilibatkan sebagai kurir. Kerupuk tetap diproduksi, meski dalam jumlah terbatas, sebagai produk pendamping.

Hanya sekitar satu hingga dua bulan usaha benar-benar terhenti. Setelah itu, perlahan roda kembali berputar. Memasuki 2022–2023, seiring bangkitnya pariwisata Batam, permintaan kembali meningkat.

Kini, Azzuri Snack bukan hanya menopang ekonomi keluarga Maryani. Usaha ini juga menjadi sumber penghasilan bagi lingkungan sekitar. Dalam sehari, Azzuri Snack mampu memproduksi sekitar 40 kilogram kerupuk, setara 400–500 kemasan. Proses produksi melibatkan enam ibu rumah tangga sekitar Bengkong dengan jam kerja fleksibel.

“Saya paham betul, jadi ibu itu banyak perannya. Anak, rumah, semua harus jalan,” ucap Maryani. Sistem kerja dibuat menyesuaikan ritme keluarga, tanpa target yang memberatkan, namun tetap menjaga kualitas. Produk Azzuri Snack kini telah masuk ke berbagai kanal distribusi, seperti ritel modern, hotel, pusat oleh-oleh, outlet rumah produksi, hingga pesanan kiloan untuk kebutuhan coffee break. Tak sedikit wisatawan yang membawa kerupuk Azzuri Snack sebagai oleh-oleh ke luar daerah. Bahkan, permintaan datang dari Singapura dan Brunei Darussalam.

Ke depan, Maryani menargetkan ekspor ke Arab Saudi. Sertifikasi halal telah lama dikantongi, sementara proses perizinan BPOM terus dipersiapkan.

“Pelan-pelan saja, yang penting siap dan sesuai aturan,” katanya. Di balik semua capaian itu, Maryani tetap memegang prinsip sederhana yang ia yakini sejak awal.

“Teruslah bersinar tanpa mematikan sinar orang lain. Majulah dengan cara kita sendiri,” katanya mantap. Dari dapur kecil di Bengkong, Maryani membuktikan bahwa ketekunan, keberanian beradaptasi, dan kepedulian terhadap lingkungan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang. Di tangan Azzuri Snack, kerupuk ikan bukan sekadar makanan ringan—melainkan kisah tentang daya juang perempuan, ekonomi keluarga, dan mimpi UMKM lokal yang menatap pasar dunia.

Exit mobile version