Edwar Kurangi 120 Ton Sampah Plastik Bulanan, Layak Disebut Raja Tonase

Pengusaha Muda yang Mengubah Sampah Menjadi Peluang

Edwar Afriatna, seorang warga Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, berhasil menjadi pengusaha di usia 28 tahun. Ia membuktikan bahwa sampah plastik bukan hanya sekadar limbah, melainkan peluang bagi masyarakat untuk menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga bumi. Edwar dikenal dengan julukan ‘Raja Tonase’ karena keberhasilannya dalam mengelola sampah plastik.

Sejak tahun 2024, Edwar mampu mengurangi sekitar 120 ton sampah plastik setiap bulan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kesadaran pemuda lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) itu terhadap kondisi lingkungan sudah muncul sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, ia merasa prihatin dengan kondisi sungai, jalan, dan selokan dekat rumahnya yang dipenuhi tumpukan sampah. Baginya, sampah merupakan barang yang memiliki nilai ekonomis jika dikelola dengan baik.

Hal tersebut mendorongnya untuk menjalani bisnis berbasis lingkungan sebagai bentuk rasa cinta dan kepedulian agar generasi berikutnya tidak diwarisi daerah yang kotor.

Kelola 120 Ton Sampah Plastik Tiap Bulan

Dalam menjalani bisnisnya, Edwar memilih sampah plastik jenis High Density Polyethylene (HDPE), seperti bekas botol oli, shampo, sabun, dan detergen cair. Plastik jenis ini dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan jarang ditekuni oleh penguasa lain. Namun, beragam jenis sampah lainnya seperti kardus dan sampah plastik juga ia kumpulkan melalui bank sampah yang dibentuknya untuk disalurkan ke pengepul sampah lainnya.

Edwar mengaku, dalam satu bulan dirinya mampu mengelola sebanyak 120 ton sampah plastik jenis HDPE yang ia beli dari sejumlah pengepul di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan. “Per minggu saya mengirim 30 ton sampah ke sebuah perusahaan mitra, artinya satu bulan itu 120 ton sampah yang saya serap dan didaur ulang kembali hingga endingnya tidak masuk ke TPA,” ujarnya saat ditemui di kantornya.

Menurutnya, dalam mengelola sampah diperlukan konsistensi dan ketekunan. Karena sampah merupakan barang bekas yang kerap dipandang menjijikan dan dibuang begitu saja oleh masyarakat. “Karena ketika sampah itu masuk ke tempat kita, itu harus kita pilah dulu sebelum dikirim ke perusahaan mitra,” ucapnya.

Harapan untuk Dukungan Pemerintah

Edwar berharap industri pengelolaan sampah di Indonesia khususnya di Kabupaten Tangerang dapat mendapat dukungan dari sisi regulasi pemerintah. Sebab, kehadiran pengusaha pengelola sampah seperti dirinya tidak bisa terlalu diandalkan untuk menampung seluruh sampah yang ada tanpa dukungan pemerintah.

Apalagi saat ini, isu terkait pengelolaan sampah sedang ramai dibicarakan publik. “Dukungan yang dibutuhkan itu bisa berbentuk finansial, karena saya saja sekarang ini modal keringat sendiri, kadang harus minjem bank supaya bisa nampung sampah lebih banyak. Dan itu beda cerita kalau kami dibantu atau diberikan dana investasi,” katanya.

Belum lagi, Edwar juga mengatakan terbatas dari sisi armada pengangkutan. “Kemudian dari sisi regulasi juga dibutuhkan, seperti dibuatkan rumah pemilahan sampah dan aturan hari pengakutan sampah. Misal Senin-Rabu untuk sampah organik, Kamis-Minggu nya non organik,” tambahnya.

“Jadi intinya saya sih inginnya ada kolaborasi dengan pemerintah, supaya penanganan sampah ini bisa benar-benar selesai,” tutup Edwar.

Kisah Lain: Dede Sukriya, Penyelamat Gorong-gorong

Inilah kisah Dede Sukriya, yang selama 10 tahun membersihkan sampah gorong-gorong tanpa digaji. Pria berusia 37 tahun itu berasal dari Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Dede membersihkan sampah di gorong-gorong di wilayahnya sendirian tanpa teman.

Aksinya dimulai pada tahun 2015. Sampah-sampah yang terlihat dengan sadarnya ia angkut. “Saya mulai turun sedikit-sedikit ke pembuangan atau ke solokan itu sejak awal tahun 2000, tapi mulai rutin sekitar tahun 2015. Alhamdulillah, saya bersihkan sampah-sampah di solokan itu,” kata Dede saat ditemui di R3 Katulampa.

Dede awalnya fokus membersihkan sampah hanya sebagai ibadah. Ia tidak ingin wilayahnya atau tempat tinggalnya dipenuhi oleh sampah. “Kenapa saya lakukan ini? Karena saya resah melihat solokan sering banjir. Apalagi kalau melihat sungai yang seharusnya airnya jernih, tapi karena ada sampah jadi tidak nyaman dipandang mata. Akhirnya saya putuskan untuk ambil sendiri sampahnya.”

Kerja dari Pagi hingga Sore

Dede selalu membersihkan sampah mulai pagi hari. Ia membawa peralatan dan jaring kawat yang ia desain sendiri. 20-30 karung sampah selalu berhasil dikumpulkan olehnya. Sampah itu nantinya diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor.

“Biasanya saya bekerja dari jam 8 pagi sampai sore, kadang jam 5 atau jam 6 maghrib. Pokoknya kalau pekerjaan belum beres, saya terus berjuang. Untuk alat, saya bikin saringan sendiri. Saringan itu saya bawa setiap bertugas, saya arahkan sampah ke sana, lalu saya kumpulkan. Saringannya tidak saya tinggal di lokasi, saya bawa pulang lagi karena takut ada yang iseng mengambil,” ujarnya.

Berkat konsistensinya, kini diakui oleh Dede sampah yang diangkutnya dari solokan berkurang. Dede pun tidak memermasalahkan soal pendapatan. “Pekerjaan ini murni sukarela, dari awal tidak dibayar. Untuk biaya hidup keluarga, saya berjualan makanan. Saya jualan kue lupis, klepon, candil, hingga putu mayang,” ujarnya.

Dede kian semangat untuk terus membereskan sampah di solokan. Rencananya, ia akan membersihkan solokan di semua wilayah Kota Bogor. “Awalnya saya hanya bergerak di Jalur Cikaret, Bogor Selatan, tapi insya Allah sekarang saya mulai meluas ke wilayah Kota Bogor lainnya,” tandasnya.

Exit mobile version