Boneka Sentasi: Edukasi Anak Lindungi Tubuh Sejak Dini



SURABAYA,

Lirik lagu yang dinyanyikan dengan polos oleh sejumlah anak di KB Sanggar Kreativitas Universitas Surabaya menggambarkan pentingnya batasan pribadi. Lagu tersebut menyampaikan pesan bahwa area tertentu harus dihormati dan tidak boleh disentuh atau dipegang. Boneka laki-laki dan perempuan yang menjadi pusat perhatian anak-anak bukan sekadar mainan biasa, melainkan media edukasi seksual bagi anak usia dini bernama Sentasi.

Boneka ini dirancang sebagai alat pendidikan untuk membantu anak memahami batasan tubuh dan kekerasan seksual. Di balik inovasi ini, ada sosok Amelia Margaretha Suprapto, mahasiswa Program Studi Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), yang menjadikan kegelisahan sosial sebagai dasar penciptaan karya tugas akhirnya.

Ide Awal Muncul dari Permasalahan Sosial

Amelia mengaku ide Boneka Sentasi lahir dari kekhawatirannya terhadap maraknya kasus kekerasan seksual di Indonesia, khususnya yang menimpa anak-anak. Ia melihat berita tentang kekerasan seksual yang sering muncul di berbagai media dan menemukan data bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan menjadi korban.

“Awalnya saya melihat banyak berita tentang kekerasan seksual di Indonesia. Setelah mencari tahu lebih dalam, ternyata anak-anak menjadi korban terbanyak,” ujarnya saat berbicara di Surabaya.

Dari situ, ia menyadari betapa pentingnya edukasi seksual sejak usia dini. Berdasarkan wawancara dengan psikolog anak, edukasi ini bisa dimulai sejak usia 3–5 tahun. Namun, ia juga memahami bahwa masyarakat masih menganggap topik ini tabu. Oleh karena itu, ia berupaya menciptakan media yang ramah dan mudah diterima anak-anak.

Proses Pembuatan Selama Satu Tahun

Pembuatan Boneka Sentasi tidak dilakukan secara instan. Amelia menjalani riset dan pengembangan selama kurang lebih satu tahun. Proses ini dimulai dengan pengumpulan data dan studi visual dari buku-buku anak yang membahas edukasi seksual.

Selain itu, ia juga melakukan wawancara dengan orang tua, guru TK, dan psikolog anak untuk memastikan materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. “Bagaimana menggambarkan karakter anak perempuan yang ada poninya, pipinya ada blush-nya, dan macam-macam termasuk bajunya ada rumbai-rumbainya,” jelasnya.

Setelah itu, ia merancang lima alternatif desain boneka, sebelum akhirnya memilih dan menyempurnakan desain final. Proses pemilihan dilakukan dengan melibatkan anak-anak dan guru TK. Setiap desain memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga Amelia menggabungkan elemen terbaik dari masing-masing alternatif.

“Dari situ dibuat studi model untuk uji coba dulu. Bonekanya direalisasikan berhasil karena ada rangkaian elektroniknya,” tambah dia.

Interaktif dengan Sensor Sentuh

Boneka Sentasi hadir dalam dua karakter, Luca dan Luna, yang dirancang sebagai media pembelajaran bagi anak usia 3–6 tahun. Boneka ini dilengkapi sensor sentuh di area terlarang seperti wajah, dada, alat kelamin, dan bokong.

“Begitu saklar dinyalakan, tinggal disentuh saja daerah-daerah yang dilarang, nanti boneka akan berbunyi ‘jangan sentuh’,” kata Amelia.

Selain respons suara, Boneka Sentasi juga memiliki ekspresi wajah magnetik yang dapat diganti sesuai kebutuhan pembelajaran. “Ada tempelan ekspresi wajahnya yang magnetik, jadi bisa diubah ekspresi wajah senang, sedih, dan marah,” sambung dia.

Dengan demikian, boneka ini memungkinkan guru mengajak anak bermain peran sambil belajar mengenali emosi dan batasan tubuh.

Harapan untuk Masa Depan Anak-Anak

Kini, pengalaman pertama Amelia melihat Boneka Sentasi digunakan langsung di hadapan anak-anak KB Sanggar Kreativitas Ubaya meninggalkan kesan tersendiri. “Kalau saya merasa mungkin karena anak-anak masih egosentris, jadi mereka maunya ini itu terus yang lain gak boleh pegang,” ujar dia.

Di balik tawanya, ia menyimpan harapan besar agar boneka hasil karyanya menjadi jembatan edukasi seksual yang aman, menyenangkan, dan efektif. “Semoga boneka ini bisa membantu orang dewasa dalam membantu topik seks edukasi kepada anak-anak dengan lebih mudah,” katanya.

“Selain itu, semoga anak-anak lebih paham dan aware, bisa mencegah terjadinya kekerasan seksual dan angka korbannya menurun,” tambah dia.

Exit mobile version