Apakah Pendidikan Tinggi Masih Bisa Ubah Nasib?

Pendidikan dan Peran Orang Tua di Masa Lalu

Orang tua di masa lalu, terutama mereka yang lahir sebelum kemerdekaan atau sebelum tahun 1980-an, umumnya tidak memiliki kesempatan untuk menikmati pendidikan formal. Kondisi ini wajar karena pada masa itu, pendidikan dianggap mahal dan hanya tersedia bagi kalangan ningrat. Selain itu, selama masa penjajahan, pendidikan hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Berkat perjuangan Ibu RA Kartini, pendidikan mulai merata dan dapat diakses oleh semua kalangan.

Namun, pentingnya pendidikan masih belum sepenuhnya menyentuh masyarakat luas pada masa itu. Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa orang-orang jaman dulu lebih memilih bekerja daripada melanjutkan studi. Banyak dari mereka belajar keahlian secara mandiri atau berguru dari orang berpengalaman, seperti bertukang, berkebun, menjahit, membuat kerajinan, instalasi listrik, dan lainnya. Keahlian-keahlian ini membuka peluang bagi banyak orang untuk menjadi pengusaha sukses.

Selain itu, banyak orang yang tertarik pada perdagangan dan akhirnya menjadi taipan dalam 9 naga. Mereka memiliki keahlian dalam berbisnis dan berdagang. Orang-orang jaman dahulu memiliki tekad yang kuat, seperti baja, dan tidak takut menghadapi tantangan. Mereka percaya bahwa tidak ada hal instan di dunia ini. Segala sesuatu harus dilalui dengan proses bertahap dari dasar hingga mencapai puncak kesuksesan.

Peluang dan Persaingan di Era Boomer

Di era boomer, peluang untuk menjadi kaya melalui keterampilan atau bisnis sangat besar. Tingkat persaingan juga masih relatif rendah, sehingga bahkan tanpa pendidikan tinggi pun seseorang bisa menjadi kaya. Kemauan untuk mengubah nasib menjadi alasan kuat bagi generasi ini. Peluang sekecil apa pun bisa menjadi besar bagi mereka.

Bagi orang-orang boomer yang mengenyam pendidikan tinggi, seperti insinyur, arsitek, pengacara, profesor, dan lainnya, kesuksesan juga mudah diraih. Di era 70 hingga 90-an, lulusan perguruan tinggi tidak begitu banyak, sehingga mereka direkrut oleh berbagai perusahaan sebelum lulus. Permintaan lulusan sarjana tinggi diimbangi dengan karir dan kehidupan yang mapan, membuat banyak orang mulai melirik pendidikan tinggi sebagai jalan menuju kemapanan hidup.

Pendidikan Tinggi Saat Ini dan Tantangannya

Pandangan bahwa lulusan sarjana adalah tiket menuju kesuksesan dan kemapanan hidup masih berlaku hingga saat ini. Mengenyam pendidikan tinggi dengan fokus pada bidang tertentu menjadi harapan besar bagi setiap orang, dimana kelak dapat meraih kesuksesan dengan bekerja di perusahaan besar.

Namun, pendidikan di perguruan tinggi di negara kita masih berfokus pada teori. Lulusan sarjana Strata 1 seringkali harus mengikuti pelatihan tambahan agar siap bekerja. Hal ini membuat lulusan dalam bidang yang sama sulit mendapatkan pekerjaan karena kurangnya keahlian spesifik yang dibutuhkan industri. Setiap tahun, ribuan lulusan sarjana bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang serupa, sementara jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding.

Biaya Pendidikan dan Akses Bagi Semua

Mengenyam pendidikan tinggi tentu memerlukan biaya yang cukup besar. Bagi orang tua yang mampu membiayai kuliah anaknya, terutama hingga ke luar negeri, tidak terlalu mempermasalahkan soal biaya. Bagi orang tua dari kalangan konglomerat, pendidikan tinggi bagi anak merupakan bekal untuk menambah pengalaman hidup dan mengembangkan wawasan. Anak mereka dapat menjalin lebih banyak relasi dan menemukan peluang bisnis baru. Banyak juga anak yang disiapkan untuk menjadi penerus perusahaan keluarga.

Bagi mereka yang tidak memiliki biaya, masih dapat berjuang melalui program beasiswa. Banyak orang yang sukses dan bangkit memuliakan hidupnya setelah berupaya gigih membiayai kuliah dengan bantuan beasiswa serta berhasil bekerja di perusahaan besar. Tidak sedikit juga dari mereka yang sukses berbisnis setelah memiliki banyak pengalaman dalam menerapkan ilmu yang didapatkan dari bangku kuliah.

Kesuksesan Tidak Hanya Datang dari Pendidikan

Kesuksesan hidup orang yang mengenyam pendidikan tinggi tidak terjadi begitu saja. Ada faktor keberuntungan dan jalan yang tepat. Banyak kisah orang yang berjuang keras hanya bisa hidup dalam keadaan cukup. Bukan karena mereka tidak sukses, hanya saja keberuntungan masih belum berpihak. Jadi, kehidupan setiap orang sebenarnya tidak dapat dibandingkan. Masing-masing orang berjalan di jalannya sendiri.

Dunia Teknologi dan Peluang Baru

Maraknya motivator di televisi pada tahun 2000-an awal membuat banyak orang menjadi sangat berambisi untuk sukses. Kalimat “sukses sebelum usia 30 tahun” menjadi tren yang bertebaran di toko buku, televisi, hingga media sosial. Anak muda semakin banyak yang tergopoh-gopoh dan panik untuk segera sukses di kala itu. Namun, usia 30 tahun masih sangat muda. Usia ini memang cukup matang dan dewasa, namun kehidupan seseorang seharusnya masih cukup panjang untuk memikirkan ambisi berlebih untuk segera kaya di usia sebelum 30 tahun.

Anak muda pada masa kini juga masih tertular virus sukses muda dan instan dari era 2000-an. Banyak yang mendirikan start-up besar dengan suntikan dana hingga triliunan, namun perusahaan tersebut hanya bertahan kurang dari 5 tahun. Awal kemunculan belanja online yang bakar-bakar uang juga memicu persaingan sengit antar pedagang online dengan memasang harga semurah mungkin, walau nyaris tidak ada untung. Usaha ini meningkatkan trafik pada aplikasi belanja online.

Pendidikan Tinggi Masih Penting

Meskipun dunia teknologi berkembang pesat, pendidikan tinggi tetap penting. Saat belajar di bangku kuliah, kita mendengarkan dan menyimak pemikiran ahli di bidangnya yang kita sebut dosen. Ilmu yang diberikan dapat menjadi kunci untuk membuka wawasan dan mengembangkan pola pikir kita. Selain itu, kedewasaan karakter kita akan terbentuk selama proses perkuliahan.

Setelah pendidikan tinggi selesai dijalani, di saat inilah dunia berubah. Kita mulai menghadapi dunia orang dewasa yang harus dapat berdiri mandiri. Kemudian, kehidupan masing-masing dari kita yang berlangsung saat ini merupakan hasil dari usaha yang kita lakukan. Tidak hanya itu, faktor keberuntungan dan peluang yang ada sangat berperan.

Ujian kehidupan bukan hanya dari selesainya pendidikan tinggi, namun karakter dan pemikiran kita yang mendapatkan ujiannya. Bagaimana kita menemukan pekerjaan, karir, atau mungkin wirausaha yang sesuai, hal ini keputusan yang terwujud dari usaha dan pikiran kita sendiri. Jadi, mengenyam pendidikan tinggi akan membawa kita melangkah dengan lebih percaya diri. Pengalaman kuliah membuat pola pikir dan karakter kita semakin dewasa. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan kita dalam berbicara dan menulis. Pada dasarnya, pendidikan itu mengajarkan kita menulis, membaca, dan berbicara lebih baik dan terarah.

Exit mobile version