Dari Kyoto ke Surabaya, Pasangan Jaga Tradisi Matcha

SURABAYA,

Selain kopi, minuman matcha kian menguat posisinya di Kota Surabaya, Jawa Timur. Teh hijau khas Jepang ini tidak lagi sekadar menjadi pelengkap menu kafe tetapi perlahan menjelma sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Dengan mencari pengalaman minum teh dengan nilai budaya serta kualitas rasa yang lebih otentik. Fenomena tersebut sejalan dengan posisi matcha di Jepang. Minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga. Minuman ini memiliki makna yang lebih dalam karena hadir dalam keseharian sekaligus momen-momen simbolik.

Menurut Chisato Toyama, perempuan asli Jepang, budaya minum matcha di Jepang memiliki dua sisi. Pada waktu-waktu tertentu, matcha disajikan sebagai bagian dari upacara atau perayaan hari besar. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, matcha juga diminum secara rutin. “Budaya minum matcha di Jepang saat ada hari besar, satu tahun 2 kali. Untuk diminum sehari-hari biasanya mereka minum yang jenis koicha dan wagashi meskipun kalau orang luar Jepang merasa pahit rasanya tapi identik,” imbuhnya.

Ia menambahkan, matcha memiliki fleksibilitas rasa yang bisa disesuaikan dengan preferensi masing-masing orang. “Karena suka matcha, jenis matcha bisa diminum dengan susu kalau strong dengan air, jadi bisa dipilih sukanya dimana,” katanya lagi.

Mencari Rasa Matcha yang Mendekati Jepang

Dari pengalaman itulah yang kemudian mendorong sang suami, Nogo Purnomo, menghadirkan Kamogawa Matcha di Surabaya. Tempat yang dapat dikunjungi di kawasan Pakuwon City untuk menikmati matcha dengan rasa autentik Negeri Sakura. Nama Kamogawa memiliki makna personal baginya, merujuk pada Sungai Kamogawa di Kyoto. Tempat ia tumbuh dan menyimpan banyak kenangan keluarga yang memiliki keterkaitan panjang dengan budaya tradisional Jepang.

Kakek dan buyutnya dikenal sebagai guru upacara teh dari aliran Urasenke, salah satu aliran upacara teh tertua dan paling berpengaruh di Jepang. Di sisi keluarga ayah, tradisi seni juga berlanjut melalui ikebana atau seni merangkai bunga. Nilai-nilai tersebut membentuk cara pandang suami istri itu terhadap matcha, bukan sekadar sebagai minuman, melainkan bagian dari tradisi dan identitas budaya.

Proses Pengadaan Mesin Tradisional Jepang

Nogo Purnomo mengungkapkan, ketertarikannya menghadirkan konsep ini berangkat dari pengalaman pribadi saat mencicipi matcha di Jepang. Ia menilai, rasa matcha yang beredar di Indonesia belum sepenuhnya merepresentasikan karakter aslinya. Karena itu, ia juga mengambil langkah yang jarang dilakukan dengan mendatangkan mesin penggiling batu tradisional Jepang, ishi-usu, langsung dari Jepang.

Mesin tersebut digunakan untuk menggiling daun teh matcha secara perlahan hingga menghasilkan tekstur yang sangat halus. “Awal kami mendatangkan mesin penggiling matcha ishi-usu ini karena kita terinspirasi matcha di Jepang. Mesin ini satu-satunya di Indonesia karena mendatangkan mesin ini tidak mudah,” tutur pria yang biasa disapa Nogo itu.

Ia menjelaskan, proses mendatangkan mesin tersebut membutuhkan waktu panjang serta komunikasi intensif, mengingat mesin tersebut tidak mudah dibawa keluar dari Jepang. “Kita juga melalui proses yang panjang tapi karena istri saya asli orang Jepang bisa berkomunikasi dan memberi kepercayaan bahwa barang ini bisa digunakan di Indonesia,” imbuhnya.

Boom Matcha dan Tantangan Keaslian

Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, popularitas matcha di Indonesia memang terus meningkat. Namun, ia menilai tren tersebut juga membawa tantangan tersendiri. “Kalau di Indonesia matcha kan sedang booming sekali tapi terkontaminasi,” kata Nogo Purnomo. Menurutnya, banyak produk matcha yang beredar telah tercampur bahan lain sehingga karakter rasa dan aromanya berbeda dari matcha asli Jepang. Karena itu, ia memilih mendatangkan daun dan bubuk matcha langsung dari Jepang.

“Saya belum mendapatkan rasa yang betul-betul mendapatkan rasa seperti di Jepang makanya saya berani datangkan mesin, daun dan bubuk matcha langsung dari Jepang,” sambungnya. Kini mesin ishi-usu yang digunakan disebut mampu menghasilkan matcha dengan ukuran partikel sekitar lima mikron, yang berpengaruh pada kelembutan tekstur dan kekuatan aroma.

“Intinya kita ingin memberikan rasa terbaik yang pernah saya rasakan di Jepang itu,” pungkas Nogo Purnomo.

Exit mobile version