Dea Angelia, Doktor Muda di Usia 26 Tahun
Di usia yang terbilang masih muda, Dea Angelia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Komputer dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada usia 26 tahun 11 bulan. Capaian ini menarik perhatian publik karena rata-rata lulusan doktor di Indonesia biasanya berusia di atas 40 tahun. Prestasi Dea menunjukkan bahwa menjadi doktor muda bukanlah hal mustahil, asalkan memiliki strategi pendidikan yang tepat dan kesiapan mental yang kuat.
Salah satu faktor utama yang mendukung perjalanan akademik Dea adalah Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Program ini memungkinkan lulusan S1 berprestasi untuk menempuh S2 dan S3 secara terintegrasi dalam waktu relatif singkat, sekitar empat tahun. Melalui PMDSU, Dea dapat langsung fokus pada riset Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI) tanpa jeda panjang antartingkatan.
“Saya tertarik di bidang machine learning atau AI karena ketika S1 terdapat mata kuliah tersebut. Saya ingin lebih terfokus sehingga mengambil program studi Ilmu Komputer di UGM untuk melanjutkan pendidikan saya,” jelasnya.
Program PMDSU menjadi jawaban bagi banyak mahasiswa yang ingin menjadi doktor muda. Skema ini dirancang khusus untuk mempercepat regenerasi peneliti dan akademisi unggul di Indonesia.
Keuntungan Mengambil Jalur Fast-Track S3
Jalur fast track S3 atau accelerated PhD bukan hanya soal lulus lebih cepat. Ada sejumlah keuntungan strategis yang membuat jalur ini semakin diminati, terutama di bidang teknologi dan AI. Berikut beberapa manfaatnya:
-
Efisiensi waktu dan usia produktif
Menyelesaikan doktor di usia 20-an memberi ruang lebih panjang untuk membangun karier sebagai peneliti, dosen, atau praktisi industri berbasis riset. -
Akses riset internasional lebih dini
Dea, misalnya, mengikuti Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) dan melakukan riset di University of Ulsan, Korea Selatan, dengan fokus pada intelligent transportation system dan vehicle speed estimation.
“Jadi saya membuat sistem yang akan berjalan secara otomatis sehingga sangat meminimalkan adanya intervensi secara manual,” paparnya.
Meski penuh tantangan, mulai dari ritme kerja yang padat hingga adaptasi dengan musim dingin ekstrem, pengalaman ini memperkuat kualitas riset sekaligus mental akademiknya.
- Ekosistem riset yang solid
Bimbingan promotor dan komunitas laboratorium, seperti yang Dea rasakan di Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi (Elins) UGM, menjadi faktor penting keberhasilan jalur akselerasi ini.
Jurusan AI yang Paling Dicari Tahun 2026
Seiring meningkatnya kebutuhan talenta digital, beberapa jurusan AI dan komputasi diprediksi tetap menjadi primadona hingga 2026. Bagi calon doktor muda, berikut jurusan-jurusan yang memiliki peluang besar mendapatkan beasiswa AI dan kolaborasi internasional:
- Ilmu Komputer (Artificial Intelligence & Machine Learning)
- Data Science dan Big Data Analytics
- Sistem Cerdas dan Robotika
- Computer Vision dan Intelligent Transportation System
- Informatika dengan fokus AI Terapan
Bidang-bidang tersebut tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki dampak langsung pada industri, kebijakan publik, dan inovasi teknologi masa depan.
Pesan Dea Angelia untuk Calon Doktor Muda
Kisah Dea Angelia membuktikan bahwa menjadi doktor di usia muda bukanlah hal mustahil, asalkan dibarengi strategi pendidikan yang tepat, keberanian mengambil jalur fast-track, dan kesiapan mental yang kuat. “Perlu kesiapan mental yang kuat untuk menjalani pendidikan S3,” pesannya Dea, mengingat tekanan riset dan disiplin kerja yang tinggi.
Bagi kamu yang tengah merancang masa depan akademik, kini saatnya tidak hanya bertanya bisa atau tidak, tetapi jalur mana yang paling sesuai. Dengan memahami jalur fast track S3, memanfaatkan beasiswa, dan memilih bidang strategis seperti AI, langkah menuju gelar doktor muda bisa dimulai lebih awal, dan lebih terarah.
