Live-in Ponorogo: Keterbukaan Mata Mahasiswa



Kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh kampus bukan hanya sekadar program rutin untuk menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke lapangan dan melihat realitas sosial maupun lingkungan yang sering kali berbeda dari apa yang dipelajari di dalam kelas. Program “Live in” yang diselenggarakan oleh KMK St. Dominikus selama empat hari, pada 2-5 Oktober di Ponorogo, menjadi pengalaman yang memperdalam pemahaman saya tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Pengalaman ini bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan pengalaman yang membuka mata tentang bagaimana teori di dalam kelas bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai mahasiswa jurusan Manajemen Pemasaran, saya merasa kegiatan ini sangat cocok dengan bidang studi saya. Kami tidak hanya belajar teori tentang strategi pemasaran dan perilaku konsumen, tetapi juga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa konsep pemasaran bisa digunakan untuk mendorong orang berubah perilaku, agar lebih peduli pada lingkungan sekitar. Misalnya, bagaimana cara kita untuk memasarkan ide-ide yang ramah lingkungan agar masyarakat tertarik dan mau untuk ikut serta. Ini membuat saya berpikir bahwa pemasaran bukan cuma soal menjual produk, tetapi juga bisa menjadi alat untuk perubahan sosial yang positif.

Dalam jurnal reflektif ini, saya akan menjelaskan pengalaman saya mengikuti kegiatan tersebut. Dimulai dari latar belakang kegiatan, apa yang terjadi, perasaan dan pikiran saya waktu itu, langkah-langkah yang diambil, analisisnya, refleksi diri, pelajaran yang saya dapat, rencana selanjutnya, hasilnya, dan evaluasi akhir.

Semoga jurnal ini bisa menjadi catatan pribadi dan motivasi bagi teman-teman mahasiswa lain untuk ikut kegiatan serupa. Saya harap dengan membaca ini, mereka bisa merasakan semangat yang sama dan melihat betapa kegiatan seperti ini bisa mengubah pandangan hidup. Selain itu, jurnal ini juga bisa menjadi bahan refleksi bagi siapa saja yang ingin belajar tentang pendidikan dan aksi nyata di masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari ketiga program Live in KMK di Paroki St. Hilarius, Ponorogo. Lokasi kegiatan berada di wilayah pedesaan dengan karakteristik geografis berupa dataran tinggi dan tanah yang relatif subur untuk kegiatan pertanian. Waktu pelaksanaan pada bulan Oktober, yang termasuk musim kemarau ringan, mendukung terselenggaranya aktivitas di luar ruangan.

Masyarakat setempat umumnya bergantung pada sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama. Namun, di sisi lain, mulai muncul permasalahan lingkungan seperti pencemaran sampah dan berkurangnya vegetasi akibat aktivitas manusia dan pertumbuhan penduduk. Lapangan desa yang menjadi lokasi utama kegiatan merupakan ruang publik yang sering digunakan untuk warga.

Sebelum kegiatan dimulai, kondisi lapangan cukup memprihatinkan: banyak sampah berserakan, tanah terlihat kering dan kurang terawat, serta minimnya pepohonan untuk penyejuk suasana. Hal ini yang membuat kegiatan penanaman tanaman hias dan pembersihan sampah menjadi lebih bermakna. Kami tidak hanya menjalankan tugas program, tetapi juga berupaya menjawab masalah nyata yang dihadapi masyarakat.

Dari sudut pandang pemasaran, konteks ini juga berpotensi dikembangkan sebagai model kampanye lingkungan berbasis komunitas yang dapat membangun citra positif bagi kampus maupun desa.

Kegiatan dimulai pada pagi hari tanggal 3 Oktober dengan briefing singkat dari panitia mengenai tujuan, alur kegiatan, dan pembagian tugas. Setelah itu, kami diarahkan menuju lokasi bunga yang telah disiapkan. Bibit yang digunakan merupakan tanaman hias, yang dipilih karena daya adaptasinya yang baik terhadap kondisi tanah lokal. Setiap peserta menerima satu bibit, kemudian berpindah ke titik penanaman yang telah ditentukan. Lubang tanam telah disiapkan oleh warga sekitar, sehingga tugas utama kami adalah menempatkan bibit ke dalam lubang, menutupnya dengan tanah, dan merapikan area sekitar agar bibit dapat tumbuh dengan optimal.

Proses penanaman berlangsung kurang lebih satu jam dengan suasana kerja sama yang cukup kuat antarmahasiswa. Setelah sesi penanaman, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke kegiatan pembersihan sampah di sekitar lapangan. Sampah yang terkumpul sangat beragam, mulai dari plastik kemasan makanan, botol minuman, kertas, kulit kacang, puntung rokok, hingga tali plastik dan benda kecil lainnya. Pembersihan dilakukan secara sistematis dari ujung barat ke ujung timur lapangan dengan bantuan kantong sampah yang disediakan panitia.

Secara emosional, kegiatan ini memunculkan berbagai perasaan yang cukup beragam. Pada awal kegiatan, saya merasa sangat antusias karena ini merupakan pengalaman pertama saya terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat di luar kampus. Melihat bibit bunga yang siap ditanam menumbuhkan rasa optimis bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan desa.

Namun, seiring berjalannya waktu, kelelahan mulai terasa akibat cuaca yang cukup panas dan aktivitas fisik yang terus-menerus, seperti membungkuk, berjalan, dan mengangkat kantong sampah. Di tengah proses pembersihan, muncul pula perasaan prihatin ketika melihat banyaknya sampah yang berserakan. Hal tersebut menimbulkan rasa sedih dan kecewa karena menunjukkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan mereka.

Di sisi lain, terdapat pula perasaan bangga dan puas ketika melihat kondisi lapangan setelah kegiatan selesai: lebih bersih, lebih rapi, dan memiliki tambahan vegetasi. Apresiasi dari warga desa, berupa ucapan terima kasih dan dukungan, memperkuat keyakinan saya bahwa upaya yang kami lakukan memiliki makna.

Campuran perasaan lelah, prihatin, dan bangga ini mengingatkan saya pada situasi serupa dalam kampanye pemasaran yang melibatkan banyak orang. Pengalaman ini memicu berbagai pemikiran mendalam tentang lingkungan, perilaku manusia, dan peran ilmu pemasaran dalam mendorong perubahan di masyarakat.

Saya sadar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menanam tanaman hias atau rutin membersihkan area publik. Jika hal-hal sederhana ini disampaikan dan dipromosikan dengan baik, bisa menjadi kampanye lingkungan yang menarik dan berpengaruh. Kegiatan membersihkan sampah menunjukkan bahwa masalah lingkungan, terutama pencemaran, tidak bisa diselesaikan hanya dengan kegiatan sekali-sekali. Dibutuhkan perubahan kebiasaan dan komitmen jangka panjang dari masyarakat.

Di sini, saya melihat pentingnya strategi pemasaran sosial, seperti pendidikan terus-menerus lewat media sosial, memasang poster di tempat-tempat penting, atau mengadakan acara yang bertemakan tentang lingkungan. Saya juga berpikir bahwa mahasiswa memiliki posisi sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Dengan bekal pengetahuan pemasaran, kami dapat merancang pesan yang persuasif dan memilih media yang tepat untuk menjangkau masyarakat.

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa pembelajaran pemasaran seharusnya tidak hanya berfokus pada produk dan profit, tetapi juga pada bagaimana pemasaran dapat diarahkan untuk kepentingan sosial dan lingkungan. Selama kegiatan, saya berusaha terlibat secara aktif dalam setiap tahapan. Pada sesi penanaman, saya berupaya memastikan bibit ditanam pada kedalaman yang cukup dan tanah di sekitarnya dipadatkan secukupnya agar tanaman dapat berdiri tegak dan mendapatkan nutrisi yang memadai. Saya juga membantu teman-teman yang mengalami kesulitan dalam proses penanaman.

Pada sesi pembersihan, saya fokus mengumpulkan sampah plastik dan kertas yang tersebar di sekitar lapangan, memasukkannya ke dalam kantong, lalu membawa kantong tersebut ke titik pengumpulan. Saya beberapa kali berkoordinasi dengan teman satu kelompok untuk membagi area pembersihan sehingga tidak ada bagian lapangan yang terlewat. Langkah-langkah tersebut, meskipun sederhana, saya pandang sebagai bentuk kontribusi konkret sekaligus latihan keterampilan sosial, komunikasi, dan koordinasi tim. Hal ini juga menjadi modal penting dalam praktik pemasaran sosial di masa mendatang.

Secara analitis, kondisi lapangan sebelum kegiatan menggambarkan adanya masalah pengelolaan lingkungan di tingkat komunitas. Kondisi tanah sebagian lembap dan sebagian kering menunjukkan adanya ketidakseimbangan perawatan area publik. Pemilihan jenis tanaman hias seperti kembang sepatu dan bunga matahari sudah cukup tepat, karena tanaman tersebut relatif tahan terhadap kondisi kering dan memberikan perubahan visual yang cepat terlihat.

Banyaknya sampah yang ditemukan mengindikasikan dua hal utama: keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah dan kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya mendukung perilaku ramah lingkungan. Dari perspektif manajemen, hal ini mencerminkan perlunya intervensi yang bukan hanya teknis (penyediaan tempat sampah), tetapi juga edukatif dan persuasif, yang dapat dijembatani melalui pendekatan pemasaran sosial.

Kegiatan yang kami lakukan berdampak langsung pada peningkatan estetika dan kenyamanan lapangan, sehingga berpotensi meningkatkan frekuensi penggunaan area tersebut untuk aktivitas positif. Namun, tanpa program lanjutan yang mendorong perubahan perilaku, terdapat risiko bahwa kondisi lapangan akan kembali seperti semula. Dari sudut pandang pemasaran, kegiatan ini dapat dipandang sebagai “kampanye awareness” yang berhasil, tetapi masih memerlukan strategi keberlanjutan dan retensi untuk menjaga dampak jangka panjang.

Melalui kegiatan ini, saya merefleksikan kembali peran mahasiswa dalam isu lingkungan, terutama ketika dikaitkan dengan disiplin ilmu Manajemen Pemasaran. Sebelumnya, pemahaman saya mengenai lingkungan lebih banyak diperoleh melalui materi kuliah atau bacaan. Pengalaman langsung di lapangan membuat saya menyadari bahwa isu lingkungan sangat nyata dan kompleks, serta membutuhkan pendekatan lintas disiplin, termasuk pemasaran.

Saya merasa bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mempraktikkan pengetahuan tersebut demi kepentingan masyarakat. Keterampilan pemasaran, seperti merancang pesan, membangun citra (branding), dan mengelola kampanye, dapat diarahkan untuk tujuan sosial, misalnya meningkatkan kesadaran lingkungan. Kegiatan ini juga mengubah cara pandang saya terhadap kerja sama tim. Melihat teman-teman bekerja bersama untuk tujuan yang sama menegaskan bahwa perubahan sosial tidak dapat dilakukan secara individual. Hal ini sejalan dengan konsep kerja tim dalam dunia pemasaran, di mana kolaborasi menjadi kunci keberhasilan kampanye.

Dari sisi lingkungan, saya belajar bahwa tanaman hias tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi juga berperan dalam menjaga kelembapan tanah, mengurangi potensi erosi, dan mendukung keanekaragaman hayati skala kecil. Saya juga memahami bahwa permasalahan sampah sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola pikir masyarakat, sehingga diperlukan pendekatan edukasi yang konsisten dan berkelanjutan. Dari sisi manajerial dan pemasaran, saya menyadari pentingnya komunikasi yang efektif dengan masyarakat. Penggunaan bahasa yang sederhana dan menarik menjadi kunci untuk membangun kesadaran dan mendorong partisipasi.

Konsep “branding lingkungan” juga menjadi lebih nyata bagi saya, di mana kegiatan seperti ini dapat meningkatkan citra positif kampus sebagai institusi yang peduli lingkungan. Secara pribadi, saya belajar untuk lebih sabar, adaptif terhadap kondisi lapangan, dan lebih peka terhadap kebutuhan lingkungan sekitar. Kegiatan ini juga melatih kemampuan saya dalam mengelola kegiatan sederhana, berkoordinasi dalam tim, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Berdasarkan pengalaman ini, saya berencana untuk lebih aktif terlibat dalam kegiatan kampus yang berfokus pada isu lingkungan, seperti kampanye daur ulang, pengurangan penggunaan plastik, atau program penanaman pohon. Selain itu, saya ingin menerapkan kebiasaan ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan mendukung program hijau di lingkungan tempat tinggal saya. Dengan demikian, rencana aksi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada level wacana, tetapi terwujud dalam tindakan nyata yang konsisten.

Secara umum, hasil kegiatan di lapangan cukup terlihat dan terukur. Lapangan desa tampak lebih bersih dan tertata, dengan penambahan tanaman hias yang memberikan kesan hijau dan asri. Sampah yang terkumpul mencapai puluhan kantong, dan setelah beberapa waktu, bibit-bibit bunga mulai menunjukkan pertumbuhan. Respon masyarakat juga cenderung positif. Beberapa warga menyampaikan bahwa mereka merasa lebih nyaman menggunakan lapangan setelah dibersihkan.

Dalam jangka pendek, kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran dan memperbaiki kondisi fisik lingkungan. Namun, keberlanjutan hasil sangat bergantung pada komitmen bersama untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dikatakan berjalan dengan cukup baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Antusiasme mahasiswa terlihat sejak awal kegiatan hingga pelaksanaan di lapangan. Sebagian besar peserta terlibat secara aktif dan menunjukkan sikap kerja sama yang baik.

Koordinasi antara panitia dan peserta juga berjalan lancar, sehingga kegiatan dapat dilaksanakan dengan tertib dan tanpa kendala yang berarti. Hasil dari kegiatan ini pun dapat langsung dirasakan, terutama dari kondisi lapangan desa yang menjadi lebih bersih, rapi, dan terlihat lebih hijau dibandingkan sebelumnya. Dari sisi pembelajaran, kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat berarti bagi mahasiswa. Melalui kegiatan bersama, mahasiswa dapat belajar untuk bekerja dalam tim, saling membantu, serta menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.

Interaksi dengan masyarakat desa juga menjadi pengalaman berharga, karena mahasiswa dapat melihat langsung kehidupan masyarakat dan memahami permasalahan lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari. Pengalaman ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melatih kepekaan sosial dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Walaupun kegiatan ini berjalan dengan baik, masih terdapat beberapa hal yang dapat menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan selanjutnya.

Salah satu kekurangannya adalah belum adanya sesi edukasi khusus yang secara langsung ditujukan kepada warga desa. Kegiatan lebih berfokus pada aksi penanaman dan pembersihan lingkungan, sementara penjelasan mengenai pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan masih belum disampaikan secara mendalam. Ke depannya, akan lebih baik jika kegiatan serupa dilengkapi dengan penyampaian materi singkat, diskusi ringan, atau penyuluhan sederhana agar warga tidak hanya ikut melihat atau membantu, tetapi juga memahami alasan dan manfaat dari kegiatan tersebut.

Penulisan jurnal reflektif ini membantu saya untuk mengingat kembali dan memahami pengalaman yang saya peroleh selama mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat. Melalui proses refleksi ini, saya dapat melihat bahwa kegiatan sederhana seperti membersihkan lingkungan dan menanam tanaman memiliki dampak yang cukup besar jika dilakukan bersama-sama. Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi saya secara pribadi, sekaligus mendorong mahasiswa lain untuk lebih peduli dan mau berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

Prisca Natasya

Mahasiswi UKDC

Exit mobile version