Penjual Kolak Viral di Media Sosial Raup Omzet Rp 3 Juta Sehari
Selama bulan Ramadhan, banyak orang merasakan keberkahan dari berjualan makanan. Salah satunya adalah Tri (48), penjual kolak yang viral di media sosial. Lapak kaki lima Tri berada di Jalan Raya Mangga Besar, Taman Sari, Jakarta Barat. Setiap sore selama bulan puasa, ratusan porsi kolak ludes terjual dalam waktu tiga jam.
Lapak dibuka pukul 15.00 WIB. Tak lama berselang, puluhan warga sudah mengantre dan rela berdesakan demi mendapatkan takjil tersebut. Tri bersama empat pegawainya tampak cekatan menimba kuah manis dan aneka isian dari belasan panci besar ke dalam kantong plastik. Bahkan sebelum azan Maghrib berkumandang, seluruh dagangan sudah habis terjual.
“Kalau mulai dari jam 3 sore sudah standby di sini. Biasanya jam 5 atau paling lambat setengah 6 sudah habis,” ujar Tri saat ditemui di lokasi.
Perantau asal Cirebon, Jawa Barat, itu mengaku dalam waktu singkat bisa menjual lebih dari 400 porsi per hari. “Sekitar 400 porsi lebih. Keuntungan tidak tentu, kadang Rp 2 juta, kadang Rp 3 juta per hari,” katanya.
Alasan Kolak Jualannya Laku Keras
Kesuksesan kolak racikan Tri bukan tanpa alasan. Ia menawarkan porsi besar dengan isian yang lengkap. Satu bungkus kolak dijual Rp 20.000 dan bisa dinikmati dua hingga tiga orang sekaligus. “Memang dari dulu ukurannya begitu. Tidak boleh dinaikkan atau dikurangi. Kalau beli satu bisa buat ramai-ramai,” ujar Tri.
Selain porsi, ia menekankan kualitas bahan sebagai kunci utama. Menurutnya, pelanggan setia kembali membeli karena rasa dan kualitas yang terjaga. “Yang membedakan kolak saya, pertama banyak macamnya. Kedua, bahan-bahannya berkualitas. Orang sudah tahu rasanya,” katanya.
Total ada sembilan jenis isian yang bisa dipilih pembeli dalam satu porsi, yakni biji salak, pisang, labu, ubi, singkong, kolang-kaling, pacar cina, sagu rangi, dan tape.
Meski penjualan meningkat saat Ramadhan, Tri mengaku menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku, terutama gula merah. “Tahun ini gula merah naik signifikan. Dari Rp 180.000 jadi Rp 220.000-an per dus isi 10 kilogram. Naiknya hampir Rp 40.000,” ungkapnya.
Kendati demikian, ia memilih tidak menaikkan harga secara drastis atau mengurangi porsi. “Dulu tiga tahun lalu Rp 18.000, sekarang Rp 20.000. Naiknya bertahap saja,” katanya.
Kolak Viral Mangga Besar Hanya Dijual Selama Bulan Ramadhan
Kolak viral Mangga Besar ini hanya dijual selama bulan Ramadhan. Tri menilai minat pembeli terhadap kolak di luar bulan puasa tidak sebesar saat Ramadhan. “Kalau hari biasa rasanya kurang pas jual kolak,” ujarnya.
Di luar Ramadhan, Tri dan keluarganya berjualan menu lain di lokasi berbeda. Ia sendiri menjual es doger di Karawang, sementara anggota keluarga lain tersebar di beberapa titik. “Tapi begitu Ramadhan, kami kumpul di sini jual kolak bareng-bareng,” kata Tri.
Ia berharap kolak racikannya tetap menjadi pilihan warga yang berburu takjil di kawasan Mangga Besar setiap Ramadhan.
Berkah dari Hujan di Kota Malang
Selain penjual kolak, ada juga penjual mantel kresek yang merasakan keberkahan dari acara Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Stadion Gajayana, Kota Malang. Seperti dialami Hendrik, salah satu penjual mantel asal Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Awalnya ia hanya berjualan alas duduk. Namun, melihat cuaca yang tak menentu, ia memutuskan membawa mantel kresek sebagai langkah antisipasi. “Saya awalnya jualan alas duduk, tapi karena musim hujan jadi berjaga-jaga jualan mantel kresek juga,” kata Hendrik.
Dalam waktu kurang dari satu jam, 11 mantel kresek sudah terjual dari total 24 buah yang ia bawa. Menurut Hendrik, hujan membuat jemaah berbondong-bondong membeli mantel meski berbahan sederhana. “Ini tadi bawa 24 biji, alhamdulillah sudah laku 11 belum satu jam ini,” ujarnya.
Hendrik menjual satu mantel kresek seharga Rp10.000. Ia menyebut, harga tersebut masih terjangkau bagi jemaah. Lagipula untung yang dia dapat juga tidak terlalu besar. “Harganya satu Rp10 ribu, tidak terlalu mahal. Harga tengkulaknya Rp7.000, jadi saya ambil untung juga tidak terlalu banyak,” kata dia.
Hal serupa juga dirasakan penjual jas hujan asal Kecamatan Klojen, Mursini. Ia memang terbiasa berjualan saat ada acara-acara besar, termasuk acara keagamaan. “Saya memang jualan ketika ada acara besar, misal pengajian, haul. Sering jualan alas duduk dan jas hujan kalau musim hujan seperti ini,” kata Mursini.
Menurut Mursini, acara Mujahadah Kubro kali ini cukup ramai dan berdampak langsung pada penjualannya. Hingga sore hari, ia sudah menjual 17 jas hujan dengan harga yang sama, Rp10.000 per buah. “Alhamdulillah ini sudah laku 17 biji, harganya Rp10 ribu. Banyak dibeli ibu-ibu dan bapak-bapak rombongan,” tuturnya.
Bahkan, salah satu rombongan jemaah dari luar kota membeli dalam jumlah besar. “Tadi diborong sembilan biji dari rombongan Kediri,” tambah Mursini.
Sebagai informasi, Mujahadah Kubro 1 Abad NU yang digelar di Stadion Gajayana diperkirakan dihadiri sekitar 100.000 jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Acara tersebut berlangsung selama dua hari, 7–8 Februari 2026. Rencananya, acara akan dihadiri Presiden Prabowo Subianto, jajaran menteri, serta sejumlah tokoh agama.












