Mimbar dakwah yang dahulu hanya ditemukan di dalam masjid kini telah berubah. Ia tidak lagi hanya berdiri megah dari kayu jati, tetapi juga hadir di layar ponsel kita. Di sana, “tuhan kecil” bernama algoritma bekerja diam-diam. Algoritma ini menentukan siapa yang akan didengar oleh jutaan orang dan siapa yang akan tenggelam dalam sunyi digital.
Realitas ini membawa perubahan yang cukup mengkhawatirkan. Di era For You Page (FYP), konten keagamaan sering kali harus tunduk pada hukum pasar: “yang penting viral dulu, urusan isi belakangan.” Akibatnya, agama sering kali tidak lagi menjadi tuntunan yang tenang, melainkan sekadar tontonan yang memicu perdebatan.
Nilai sakral dakwah mulai dikomodifikasi. Ia dipotong-potong menjadi klip pendek 60 detik yang kehilangan konteks demi memenuhi kebutuhan interaksi sesaat.
Pertanyaannya adalah apakah pendakwah hari ini harus “menjual” sensasi demi eksistensi, atau ada jalan tengah untuk tetap relevan tanpa kehilangan esensi?
Jebakan dekontekstualisasi muncul ketika algoritma media sosial bekerja dengan logika kecepatan. Durasi adalah musuh dan atensi pemirsa di detik pertama adalah segalanya. Di sinilah bahaya terbesarnya: dekontekstualisasi.
Ilmu agama yang sejatinya adalah samudra luas, lengkap dengan kedalaman dalil, asbabun nuzul, hingga perbedaan mazhab, dipaksa masuk ke dalam “gelas ukur” sempit bernama durasi 60 detik.
Dampaknya, kita sering melihat fenomena fragmentasi pesan. Sebuah ceramah panjang yang utuh sering kali dipotong tepat pada kalimat yang paling provokatif atau emosional demi memancing share dan comment. Potongan-potongan tanpa konteks inilah yang kemudian dikonsumsi mentah-mentah oleh publik. Kolom komentar pun berubah menjadi medan perdebatan liar.
Netizen saling menghakimi bermodalkan klip pendek tanpa memahami hulu dan hilir persoalannya.
Ketika validitas ilmu dikalahkan oleh validitas viralitas, agama tidak lagi memandu akal, tetapi sekadar memuaskan nafsu untuk merasa paling benar.
Solusi bukanlah meninggalkan media sosial dan kembali ke mimbar konvensional. Menolak teknologi hari ini sama saja dengan membiarkan ruang digital diisi oleh kekosongan atau lebih buruk, yaitu oleh kesesatan.
Solusinya adalah mengubah strategi permainannya melalui pendekatan “komunikasi profetik” yang adaptif. Prinsipnya sederhana: sampaikanlah kebenaran dengan bahasa kaumnya.
Kuncinya ada pada creative packaging atau pengemasan kreatif. Substansi dakwah yang “berat” dan mendalam tidak harus disampaikan dengan kening berkerut. Ia bisa dikemas ulang menjadi narasi yang relevan dengan kegelisahan anak muda hari ini.
Pendakwah perlu piawai melakukan decoding bahasa teks ke dalam visual dan storytelling yang renyah. Misalnya, membahas fikih muamalah dengan studi kasus paylater, atau bicara akhlak dengan analogi mental health.
Tujuannya bukan untuk memurahkan nilai agama (reduksi), tetapi memudahkan akses audiens terhadap kebenaran (simplifikasi). Di titik ini, viralitas hanyalah bonus dari kualitas konten yang mampu menyentuh logika dan rasa secara bersamaan.
Menjaga Kewarasan Digital
Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa algoritma hanyalah mesin hitung, bukan mesin hati. Ia bisa mengukur popularitas dengan presisi, tapi ia tak akan pernah bisa menakar keikhlasan dan keberkahan sebuah pesan.
Jangan sampai obsesi kita terhadap angka engagement membuat kita lupa pada tujuan awal dakwah: menyampaikan kebenaran, bukan sekadar mencari tepuk tangan. Viralitas di dunia maya memang menggoda, tetapi sifatnya fana dan cepat berlalu.
Sebaliknya, jejak kebaikan yang disampaikan dengan ilmu dan adab akan membekas lama di benak umat. Mari kita gunakan media sosial sebagai panggung untuk menebar rahmat, bukan melahirkan debat. Jadilah pendakwah yang tidak hanya memenangkan algoritma, tetapi juga memenangkan hati manusia dengan integritas yang terjaga.
