Perjalanan AGH Prof Dr KH M Faried Wadjedy dalam Mengembangkan Pesantren DDI Mangkoso
AGH Prof Dr KH M Faried Wadjedy adalah tokoh penting yang memimpin Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso di Kelurahan Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. Selain menjadi pemimpin pesantren, ia juga menjabat sebagai anggota Majelis Syuyukh PB DDI periode 2022–2027. Perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan dan inovasi untuk menjaga kualitas pendidikan pesantren.
Awal Kehidupan dan Pendidikan
AGH Faried Wadjedy lahir di Lapasu, Kabupaten Barru, pada 22 Juni 1943. Sejak kecil, ia telah ditempa dalam tradisi kepesantrenan. Pada tahun 1955, ia mulai menempuh pendidikan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, lembaga yang kelak dipimpinnya. Pendidikan dasarnya diselesaikan di SRN Mangkoso (1955), kemudian melanjutkan pendidikan agama di pesantren tersebut hingga 1966. Ia meraih gelar Sarjana Muda di Fakultas Syariah Universitas Islam Addariyah DDI Mangkoso pada 1970.
Perjalanan intelektualnya terus berlanjut ke Mesir, tempat ia menempuh pendidikan S-1 (Lc) di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar pada 1980 dan S-2 (MA) di Fakultas Darul Ulum Cairo University pada 1984. Tahun 2008, ia menerima gelar Profesor Doctor Honoris Causa dari Kolej University Insaniah Kedah, Malaysia.
Kegelisahan yang Melahirkan Pembaruan
Setelah kembali dari Kairo, AGH Faried Wadjedy melihat adanya ketimpangan antara pelajaran umum dan agama. Banyak santri yang telah menyelesaikan jenjang tsanawiyah secara umum, tetapi kemampuan agamanya masih tertinggal. Dari situ, ia memunculkan gagasan untuk mempercepat pemerataan derajat ilmu melalui kelas persiapan satu tahun sebelum masuk jenjang formal. Program ini kemudian dikenal sebagai I’dadiyah dan mulai diterapkan pada 1985.
Dalam program I’dadiyah, santri baru dibina secara intensif dalam baca tulis Arab, tauhid, fiqh, dan dasar-dasar ilmu agama. Meskipun mereka harus menempuh pendidikan lebih lama dibanding sekolah umum, hasilnya menunjukkan bahwa ketika memasuki jenjang formal, pelajaran umum dan agama berada pada level yang seimbang.
Diskusi dengan Gurutta dan Pengembangan Pesantren
Gagasan tersebut tidak langsung diterima oleh semua pihak. Diskusi panjang terjadi antara AGH Faried Wadjedy dan gurutta, AGH Abdurrahman Ambo Dalle, pendiri DDI yang sangat dihormati. Meski prosesnya cukup alot, akhirnya gagasan tersebut diterima. Salah satu pesan yang selalu ia pegang teguh adalah amanah gurutta: kualitas Mangkoso tidak boleh menurun. I’dadiyah pun menjadi instrumen untuk memastikan standar pendidikan tetap terjaga.
Selain pembaruan kurikulum, sejarah pengembangan fisik pesantren juga memiliki kisah tersendiri. AGH Faried Wadjedy pernah mendapat isyarat melalui mimpi bahwa pesantren akan berkembang besar dan kawasan lama tak lagi mencukupi. Ia kemudian menghubungi Wali Kota Parepare saat itu, Mansur Sultan. Pemerintah memberikan sejumlah lahan berstatus girik (GG) milik pemerintah untuk pengembangan pesantren. Langkah tersebut membuka jalan bagi perluasan fasilitas dan pertumbuhan jumlah santri yang terus meningkat.
Menjaga Tradisi dan Modernisasi
Kini, selain memimpin Pondok Pesantren DDI Mangkoso, AGH Faried Wadjedy juga mengemban amanah sebagai anggota Majelis Syuyukh PB DDI (2022–2027) dan Ketua Umum MUI Kabupaten Barru. Baginya, modernisasi bukan berarti meninggalkan tradisi. Pembaruan justru dilakukan untuk memperkuat fondasi keilmuan agar pesantren tetap relevan tanpa kehilangan ruhnya.
Konsep I’dadiyah menjadi bukti bahwa pembaruan lahir dari kegelisahan akademik, keberanian berdialog dengan guru, dan komitmen menjaga mutu. Di tangan AGH Faried Wadjedy, Mangkoso tidak hanya merawat warisan, tetapi juga berani beradaptasi. Sebab bagi dirinya, kualitas adalah Amanah dan amanah itu harus dijaga, meski harus menambah satu tahun perjalanan belajar bagi para santri.
