Keluhan Orang Tua Siswa Menghentikan Program Makan Bergizi Gratis di SMPN 2 Tarakan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan oleh Sekolah Pengelola Pangan Gizi (SPPG) di SMPN 2 Tarakan, Kalimantan Utara, mengalami penundaan selama lima hari akibat keluhan dari orang tua siswa. Hal ini terjadi setelah beberapa postingan di media sosial menyoroti ketidakpuasan terhadap kualitas dan kuantitas menu MBG pada masa Ramadan 2026.
Penyebab Penundaan Distribusi MBG
Menurut Kepala SMPN 2 Tarakan, Abdul Rahman, keluhan tersebut bermula dari adanya viralnya postingan orang tua siswa yang merasa tidak puas dengan menu MBG. Dalam postingan tersebut, disebutkan bahwa kualitas dan kuantitas makanan tidak sesuai dengan harapan, termasuk harga yang dinilai tidak sebanding dengan isi makanan.
Pihak SPPG mengakui bahwa mereka mengalami kendala dalam mengatur menu MBG serta keterbatasan bahan baku. Akibatnya, distribusi MBG dihentikan sementara selama lima hari, mulai dari hari Rabu hingga hari ini.
Proses Perbaikan dan Evaluasi
Abdul Rahman menjelaskan bahwa pihak sekolah dan SPPG sedang melakukan evaluasi terhadap sistem operasional dan alur pengaduan agar distribusi MBG dapat kembali normal dengan kualitas yang lebih baik. Ia menyatakan bahwa masalah yang muncul pada hari pertama telah ditangani dan diperbaiki pada hari Selasa.
Namun, pada hari Rabu kemarin, terjadi pemutusan distribusi MBG. Meski begitu, pihak sekolah berharap proses distribusi bisa segera dilanjutkan kembali karena program ini sangat penting untuk mendukung semangat belajar siswa.
Dampak Terhadap Siswa dan Orang Tua
Sejak Agustus 2025, MBG resmi diberikan kepada siswa SMPN 2 Tarakan. Namun, saat Ramadan, menu MBG dibawa pulang ke rumah oleh siswa. Hal ini memicu ketidakpuasan orang tua, karena makanan yang diterima tidak sesuai ekspektasi.
“Kami harapkan orangtua ketika ada permasalahan disampaikan ke sekolah dan cepat koordinasi ke SPPG untuk diganti,” ujar Abdul Rahman.
Ia juga menyatakan bahwa evaluasi awal telah dilakukan, dan perbaikan dilakukan pada hari kedua. Namun, dampak dari viralnya keluhan tersebut membuat distribusi MBG terhenti selama lima hari.
Peran SPPG dalam Menyediakan MBG
SPPG yang melayani SMPN 2 Tarakan juga bertanggung jawab atas penyediaan MBG untuk SMAN1 Tarakan, SDN 024, dan TK Handayani. Pihak SPPG diketahui sedang melakukan evaluasi dan pembenahan terkait sistem distribusi.
Harapan untuk Masa Depan
Abdul Rahman berharap SPPG dapat segera menyelesaikan masalah yang ada dan kembali memberikan MBG dengan kualitas yang lebih baik. Ia menekankan bahwa program ini tidak hanya membantu siswa dalam hal nutrisi, tetapi juga meningkatkan semangat belajar.
Meskipun ada pandangan bahwa keluhan harus diviralkan agar cepat ditangani, Abdul Rahman mengatakan bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar. “Perlu sih sesekali. Tapi tidak serta merta semua harus diviralkan karena ada dampak ya.”
Kesimpulan
Penundaan distribusi MBG di SMPN 2 Tarakan menjadi pelajaran berharga bagi pihak sekolah dan SPPG. Dengan evaluasi dan perbaikan yang dilakukan, diharapkan program ini dapat berjalan lebih baik lagi di masa depan. Sementara itu, para siswa dan orang tua tetap berharap agar MBG segera kembali tersedia dengan kualitas yang memadai.
