Pelatihan Inisiasi Kesehatan Mental Mahasiswa Undana Bersama MCC dan YKPAI

Workshop Awal Proyek Peningkatan Kesehatan Mental Mahasiswa Undana

Universitas Nusa Cendana (Undana) baru saja menggelar Inception Workshop untuk proyek “Enhancing Student Mental Health and Resilience at Universitas Nusa Cendana”. Acara ini berlangsung di Ruang Sumba Lt 2, Hotel Harper Kupang, pada Kamis (5/3/2026). Workshop ini menjadi pertemuan awal setelah pihak kampus memperoleh pendanaan dari Mennonite Central Committee (MCC) melalui Yayasan Kerjasama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI).

Proyek ini merupakan bagian dari upaya penguatan program Health Promoting University (HPU) di lingkungan kampus. Ketua Tim HPU Undana, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M.Med.Ed menjelaskan bahwa workshop ini menjadi langkah awal setelah mendapatkan dana untuk proyek penguatan kesehatan mental mahasiswa. Program ini direncanakan berjalan selama tiga tahun, mulai 2026 hingga Maret 2029.

Isu Kesehatan Mental yang Menjadi Perhatian Serius

Menurut Nicholas, isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa menjadi perhatian serius, terlebih dengan meningkatnya kasus depresi hingga bunuh diri di berbagai perguruan tinggi. Untuk itu, Undana akan membangun sistem konselor sebaya. Mahasiswa akan dilatih menjadi peer counselor untuk memberikan pertolongan pertama (psychological first aid) kepada rekan-rekan mereka yang membutuhkan tempat berbagi.

Saat ini, kampus memiliki layanan psikologi terpadu, tetapi jumlah psikolog terbatas, sekitar 12 sampai 15 orang, sementara jumlah mahasiswa mencapai puluhan ribu. Tidak mungkin semua kasus bisa ditangani langsung. Oleh karena itu, mahasiswa akan dilatih sebagai garda terdepan. Jika kasusnya tidak bisa ditangani, maka akan dirujuk ke psikolog.

Pengembangan Kurikulum Literasi Kesehatan Mental

Selain itu, tim juga akan mengembangkan kurikulum literasi kesehatan mental berbasis hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Penelitian tersebut memetakan berbagai persoalan, mulai dari beban akademik, tekanan penyusunan skripsi, hingga relasi interpersonal antara mahasiswa dan dosen.

“Kita akan menyusun materi sesuai kebutuhan nyata mereka. Misalnya jika banyak masalah terkait hubungan interpersonal, maka itu yang akan kita perkuat dalam kurikulum,” tambahnya.

Materi tersebut nantinya dikemas dalam bentuk modul dan video yang terintegrasi dalam web-based Learning Management System (LMS), sehingga dapat diakses seluruh mahasiswa secara inklusif.

Komitmen Rektor Undana dalam Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng menegaskan bahwa proyek ini merupakan wujud komitmen kampus dalam menjaga aset bangsa yang paling berharga, yakni kesehatan mental mahasiswa.

“Prestasi akademik tidak dapat berdiri sendiri tanpa resiliensi mental yang kokoh. Proyek ini adalah respons konkret terhadap meningkatnya isu kesehatan mental, termasuk depresi yang jika tidak ditangani secara sistemik dapat berdampak fatal,” tegasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi Undana dan MCC bukanlah yang pertama. Pada periode 2023–2025, kerja sama keduanya berhasil membentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang bahkan meraih penghargaan tingkat kementerian.

Untuk proyek kesehatan mental ini, Undana memperoleh dukungan pendanaan sebesar Rp885 juta selama tiga tahun. Fokus program meliputi pengembangan kurikulum kesehatan mental komprehensif, pelatihan Psychological First Aid bagi mahasiswa melalui wadah “Laskar Sehat”, serta inovasi teknologi berbasis LMS.

Harapan untuk Keberlanjutan Proyek

Rektor berharap proyek ini memiliki keberlanjutan yang kuat dan menjadikan Undana sebagai pelopor Health Promoting University di kawasan Indonesia Timur.

“Kita tidak hanya ingin mengobati, tetapi membangun ekosistem kampus yang suportif, ramah, dan tangguh secara mental,” tandasnya.

Workshop ini turut dihadiri jajaran wakil rektor, para dekan, dosen, perwakilan MCC dan YKPAI, serta tamu undangan lainnya.


Exit mobile version