Pekerja Proyek Gudang MBG Di Bengkulu Mengeluh Belum Terima Gaji
Ratusan pekerja konstruksi yang terlibat dalam proyek pembangunan gudang MBG di kawasan Bengkulu mengeluh belum menerima gaji mereka selama sekitar satu bulan terakhir. Kondisi ini menimbulkan kesulitan bagi para pekerja dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama bagi mereka yang berasal dari luar daerah.
Salah satu pekerja, Dede Mahmudin (30), warga Kota Bandung, Jawa Barat, mengatakan awalnya pembayaran gaji berjalan lancar. Namun dalam beberapa minggu terakhir, para pekerja belum menerima upah mereka. Menurut Dede, kondisi ini membuat banyak rekan-rekannya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan penginapan.
“Awalnya memang lancar, gaji kami dibayar. Tapi sekarang sudah sekitar satu bulan kami belum menerima gaji,” ujar Dede saat diwawancarai pada Jumat (13/3/2026) pukul 17.16 WIB. Ia menyebut jumlah pekerja yang belum menerima gaji mencapai hampir 200 orang.
Para pekerja yang datang dari luar daerah, termasuk dari Kota Bandung, kini berada dalam kondisi serba sulit. Mereka harus meninggalkan keluarga di kampung halaman untuk bekerja di Bengkulu. “Kami datang meninggalkan anak dan istri untuk bekerja di sini membangun gudang dapur MBG. Tapi sekarang hampir 200 orang belum digaji,” tambah Dede.
Beberapa pekerja terpaksa meminjam uang dari keluarga di kampung halaman untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Selain itu, ada juga pekerja yang berutang di warung sekitar tempat mereka bekerja. “Untuk makan sehari-hari, ada yang minta kiriman dari kampung, ada juga yang berutang di warung,” katanya.
Bahkan, beberapa pekerja terpaksa menahan identitas pribadi mereka kepada pihak katering karena belum mampu membayar utang. “Ada juga yang KTP-nya ditahan oleh pihak katering karena belum bisa membayar utang,” ujar Dede.
Dede mengaku keluarganya di Bandung sudah mengetahui kondisi yang dialaminya saat ini. Namun ia tetap memilih bertahan bersama rekan-rekannya sampai gaji mereka dibayarkan. “Keluarga sudah tahu. Mereka juga sedih kalau diceritakan. Kami sebenarnya ingin segera pulang,” kata Dede.
Meski demikian, ia bersama pekerja lainnya sepakat tidak akan pulang sebelum hak mereka dibayarkan. Terlebih, menjelang Hari Raya Idul Fitri mereka sangat membutuhkan uang untuk keluarga di kampung halaman. “Kami semua sepakat tidak akan pulang sebelum dibayar. Apalagi ini mau Lebaran, kami sangat membutuhkan untuk anak dan istri di rumah,” tutupnya.
Senada dengan Dede, Ali Pangeh (44), warga Desa Gunung Sugih Besar, Lampung Timur, mengatakan dirinya datang ke Bengkulu untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Menurut Ali, sebelum berangkat bekerja ia telah berpamitan dengan anak dan istrinya di kampung halaman. “Saya dari Lampung Timur. Harapannya tentu bekerja di Bengkulu untuk mencari nafkah. Saya juga sudah pamit dengan anak dan istri sebelum berangkat kerja,” ujar Ali.
Ali menjelaskan dirinya bekerja sebagai pekerja bangunan pada proyek gudang MBG di wilayah Wiskus hingga Tangsi Waru, Kepahiang. Pada awal pekerjaan, kata dia, pembayaran gaji sempat berjalan lancar. Namun kondisi tersebut berubah dalam beberapa minggu terakhir. “Untuk gaji pertama Alhamdulillah lancar. Tapi untuk gaji kedua dan ketiga ini belum ada pembayaran,” katanya.
Ali mengaku telah mencoba menghubungi pihak yang bertanggung jawab atas pembayaran gaji, namun belum mendapatkan kepastian. “Kami sudah mencoba menghubungi Pak Tirsa, tapi jawabannya tetap sama. Katanya pembayaran masih menunggu dari pihak Adhi Karya karena progres pekerjaan belum dibayarkan,” jelasnya.
Akibat keterlambatan gaji tersebut, Ali dan rekan-rekannya terpaksa mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di lokasi kerja. “Sekarang untuk makan saja kami kadang harus meminjam uang ke teman atau berutang ke sana sini,” ujarnya.
Ali berharap pihak terkait segera menyelesaikan pembayaran upah para pekerja, mengingat mereka datang dari daerah yang jauh untuk mencari nafkah. “Harapannya kami bisa segera dibayar, karena kami datang jauh-jauh dari kampung untuk bekerja,” tutupnya.
