Ramadan, Eko Purdjianto Sebut PSMS Medan sebagai Keluarga di Tanah Rantau

Kehidupan Pelatih Sepak Bola di Bulan Ramadan

Bulan suci Ramadan sering kali dihubungkan dengan kebersamaan bersama keluarga. Namun bagi Eko Purdjianto, pelatih kepala PSMS Medan, tahun ini Ramadan dijalani dalam suasana yang berbeda. Ia harus menjalani ibadah puasa jauh dari orang-orang tercinta karena tuntutan profesinya sebagai pelatih sepak bola profesional.

Eko memilih tetap berada di Kota Medan untuk memimpin tim berjuluk Ayam Kinantan yang sedang berjuang di kompetisi Pegadaian Championship musim 2025/2026. Bagi Eko, kondisi ini bukanlah hal baru. Pengalaman panjang di dunia sepak bola membuatnya sudah terbiasa melewati berbagai momen penting jauh dari keluarga, termasuk saat Ramadan maupun Hari Raya Idul Fitri.

“Kalau saya ini profesional, jadi sudah biasa. Dulu saat masih pemain bahkan pernah Lebaran tidak pulang. Sebagai pelatih juga pernah merayakan Lebaran di luar negeri. Itu bagian dari risiko pekerjaan secara profesional, jadi kita nikmati saja,” ujar Eko kepada Tribun Medan, pekan lalu.

Menurut Eko, perjalanan karier di dunia sepak bola memang sering kali menuntut pengorbanan, termasuk harus meninggalkan keluarga untuk sementara waktu. Namun ia mencoba menyikapi hal tersebut dengan cara yang lebih positif. Bagi Eko, keluarga tidak selalu harus dimaknai secara harfiah sebagai orang-orang yang berada di rumah. Di Medan, ia merasa memiliki keluarga baru, yakni para pemain dan ofisial PSMS yang setiap hari berjuang bersama di dalam tim.

“Sekarang saya punya keluarga di sini. Ada pemain dan ofisial, mereka semua keluarga saya juga. Saya sudah berpengalaman dengan situasi seperti ini, jadi saya anggap ini bagian dari pekerjaan yang harus dinikmati,” katanya.

Eko percaya bahwa menjalani pekerjaan dengan penuh keikhlasan menjadi kunci agar segala tantangan terasa lebih ringan. Ia yakin jika seseorang mampu menikmati proses yang dijalani, maka hasil yang baik juga akan mengikuti. “Kalau pekerjaan kita nikmati, hasilnya insyaAllah juga baik. Bismillah mudah-mudahan semuanya berjalan lancar,” ucapnya.

Selama menjalani Ramadan di Medan, Eko juga mengaku sudah cukup beradaptasi dengan kehidupan di kota ini. Termasuk dalam urusan makanan untuk berbuka puasa maupun sahur. Ia bahkan sudah memiliki beberapa tempat langganan yang kerap menjadi pilihan untuk menikmati hidangan sehari-hari selama Ramadan.

“Saya sudah punya langganan makanan di sini, jadi sudah nyaman. Menunya juga cocok,” ungkapnya. Meski begitu, Eko memiliki preferensi tersendiri dalam memilih makanan. Ia mengaku tidak terlalu menyukai hidangan yang bersantan, sehingga lebih sering memilih menu yang ringan.

“Kalau pagi biasanya ada sop Sipirok. Itu enak. Saya memang tidak terlalu suka makanan bersantan,” jelasnya. Selain itu, pelatih berpengalaman ini juga mulai menikmati berbagai kuliner khas yang ada di Kota Medan. Ia sering mencoba makanan yang dikenalkan oleh manajemen klub maupun rekan-rekan pelatih lainnya.

Mulai dari nasi Padang, nasi Melayu, hingga berbagai pilihan warung kopi yang menjadi bagian dari budaya kuliner di Medan. “Manajemen juga pernah mengenalkan berbagai makanan di sini. Ada nasi Padang, nasi Melayu, juga banyak warung kopi. Jadi kita bisa menikmati makanan sambil mengobrol dengan pelatih lain ataupun dengan pemain,” katanya.

Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, Eko tetap memusatkan perhatian pada tugas utamanya sebagai pelatih. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi PSMS Medan dan berharap tim yang dilatihnya bisa menunjukkan performa yang semakin baik. Baginya, Ramadan justru menjadi momentum untuk bekerja lebih sungguh-sungguh demi membawa PSMS menuju hasil yang lebih positif.

“Ramadan ini yang pasti karena saya berkarya di Medan, saya ingin membawa PSMS menjadi lebih bagus lagi,” pungkasnya.


Exit mobile version