Penyangkalan SPPG Gedang Becici Mengenai Isu Makanan Tidak Layak
Kepala SPPG Gedang Becici, Muhammad Afif, secara tegas menyangkal tudingan bahwa pihaknya menyajikan makanan yang tidak layak konsumsi. Menurutnya, menu yang menjadi sorotan sebenarnya adalah Ubi Cilembu yang dimasak dengan metode oven.
Afif menjelaskan bahwa karakteristik ubi jenis ini memang unik; saat diproses dengan suhu tinggi, getah alaminya akan keluar dan mengental, yang seringkali disalahartikan sebagai tanda pembusukan. Ia menegaskan bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi dan dalam kondisi baik.
“Memang menu yang kami berikan itu ubi jenis Cilembu pada Selasa (09/3/2026) yang cara memasaknya dioven terlebih dahulu sesuai standar. Ubi mentah dipotong lalu dioven. Jadi, itu getahnya, bukan boleng dan setelah dibuka dalamnya baik-baik saja serta enak dikonsumsi,” ujar Afif sambil menunjukkan sampel produknya.
Meski telah memberikan klarifikasi, Afif berharap polemik ini tidak diperpanjang agar tidak menimbulkan kegaduhan lebih lanjut di tengah masyarakat.
“Tapi saya minta tolong sudah tidak usah mem-blow up lagi berita tersebut. Sebab dari mitra keberatan jika berita ter-blow up lagi dan menimbulkan kegaduhan publik,” terangnya.
Sidak Satgas MBG: Kualitas Harus Jadi Prioritas
Isu ini tak pelak memicu respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Blora. Ketua Satgas MBG sekaligus Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pada Rabu (11/3/2026) guna memastikan kebenaran laporan warga.
Sri Setyorini menegaskan bahwa kenyamanan dan kesehatan anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.
“Siang hari ini kami langsung menindaklanjuti laporan masyarakat. Ada aduan dari masyarakat di wilayah SPPG Gedang Becici Desa Kutukan, Randublatung, terkait sajian menu MBG di bulan Ramadhan ini yang dinilai kurang layak,” ungkap Sri Setyorini.
Komitmen Perbaikan dan Pemberdayaan Lokal
Dalam sidak tersebut, Sri Setyorini memberikan instruksi tegas agar pihak pengelola segera berbenah. Salah satu saran utamanya adalah mengoptimalkan bahan baku dari petani atau pasar lokal guna menggerakkan ekonomi warga sekitar.
“Kami sudah menyampaikan kepada penanggung jawab SPPG agar segera membenahi dan memperbaiki sajian MBG yang akan diberikan. Ke depan kami harapkan bahan pokok diambil atau dibeli dari wilayah sekitar sini, sehingga bisa mengoptimalkan dan memberdayakan UMKM di sekitar SPPG, atau berbelanja di pasar-pasar terdekat,” tegasnya.
Tak hanya soal rasa dan kualitas, standar kebersihan dapur juga menjadi poin evaluasi penting.
“Saya titip pesan kepada tim dapur, jangan sampai ada ulat, jangan sampai ada makanan yang basi, dan jangan sampai ada sajian yang tidak layak untuk diberikan kepada anak-anak sekolah,” pesannya.
Langkah Terakhir: Surat Pernyataan Kesanggupan
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, pihak SPPG Gedang Becici yang diwakili oleh M. Afif (Kepala SPPG), Ahmad Nafiruddin (Akuntan), dan Lambang Aryanto (Ahli Gizi) telah menandatangani surat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan mutu layanan.
Jika di kemudian hari tidak ditemukan perubahan signifikan, Pemkab Blora tidak segan untuk melaporkan temuan tersebut ke Badan Gizi Nasional (BGN). Selain kualitas makanan, pihak pengelola juga diminta segera membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar operasional dapur tetap ramah lingkungan.
